Pesolek Wacana
Sumber: Freepik
Dulu, sekitar tahun 2009 atau 2010 saya pernah mendengar
saudara saya memotivasi salah satu sepupu untuk menuliskan cita-citanya di atas
selembar kertas, agar kian terbaca, terupaya, dan lekas terlaksana karena
ingatan manusia tak seberapa. Kemudian ustadz saya diwaktu kecil juga pernah
menyampaikan, dikala berdoa kita sertakan saja waktu konkrit yang kita mau,
katanya agar Tuhan tidak bingung kapan doa kita hendak dikabulkan. Dua contoh kecil
ini jika sedikit ditelisik pada dasarnya tengah mengajarkan pada saya mengenai
bangunan perencanaan yang konkrit. Sedikit saya kupas, penulisan cita-cita pada
kertas akan melahirkan perencanaan yang indah ketika bertemu dengan keinginan
yang terlantun dalam doa lengkap dengan kisaran waktu yang diharapkan. Analisis
sederhana ini kemudian membawa saya pula pada pertemuan maya semacam seminar
motivasi berbasis online yang mana pemateri menanamkan kepada peserta agar tidak
segan-segan menulis perencanaan cita-cita lengkap dengan waktu spesifiknya. Hal
ini bertujuan agar langkah semakin tertata dan jiwa selalu berjalan pada arah
yang sudah ditetapkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Seiring berjalannya waktu saya semakin belajar bahwa
penulisan perencanaan secara konkrit pada hidup manusia secara pribadi memang penting, bahkan
pada kehidupan sebuah negara sekalipun, sebut saja RPJPN dan RPJMN. RPJPN
(Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional) yang merupakan sebuah dokumen
perencanaan pembangunan nasional dalam periode 20 tahun. Sedangkan RPJMN
(Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) yang merupakan dokumen
perencanaan untuk periode 5 tahun. Perencanaan-perencanaan tersebut tidak lain
tidak bukan adalah bentuk kesatuan tata cara perencanaan pembangunan yang
menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam negara pada kurun waktu yang
sudah ditentukan. Maka dari sana pula lah saya belajar mengenai pentingnya
perencanaan konkrit agar langkah kaki tidak keluar dari koridor haluan untuk
mencapai apa yang diidamkan.
***
Saya ingin sedikit berkisah tentang penyampaian hasil ramalan
atau semacam pandangan salah satu teman kepada saya. Kawan saya ini anak
kedokteran yang kabarnya pernah koas di Korea, belajar psikologi, serta belajar
kira-kira 5 bahasa, cukup canggih menurut saya. Kata orang, tebakannya kian benar,
kadang dengan satu kali pandang dia bisa paham tentang pribadi seseorang,
bahkan terkadang tentang silsilah keluarga juga berhasil ditebaknya. Entah
teori ataupun mantra apa yang digunakan untuk aksi tebak-menebak tersebut. Jadi, saat itu dia
mengatakan bahwa saya adalah orang yang suka berencana akan tetapi sering kali
meleset atau semacam apa yang saya lakukan agaknya tidak sesuai dengan rencana
yang sudah disusun sebelumnya. Lalu dia mengarahkan agar lain kali bisa lebih
konsisten pada garis yang sudah saya goreskan sendiri. Saya hanya diam,
sesekali melempar senyum simpul yang kurang berkenan. Dalam hati saya bicara,
dia gagal menebak saya sepenuhnya. Mungkin untuk poin beberapa kali tidak
sesuai dengan garis perencanaan mungkin benar, akan tetapi jika saya dikata
tidak konsisten saya kurang berkenan. Bahkan dengan segenap keyakinan, saya
masih mempercayai penuh bahwa beberapa langkah yang tidak sesuai dengan garis
perencanaan tersebut adalah bukti konsistensi besar saya terhadap tujuan utama.
Karena menurut saya, ketidaksesuaian langkah bukan berarti secara mentah-mentah menjadi pemutus perencanaan,
akan tetapi perbaikan dan pematangan perencanaan itu sendiri.
Mari sedikit saya tunjukan dengan elaborasi dua paragraph
dari tulisan salah satu Dosen Universitas Negeri Padang yang pernah berjuang
menaklukan perencanaan untuk menggapai University of Manchester, sapa saja
Bapak Dedi Supendra.
“Apakah yang kita lakukan kemarin sudah benar adanya? Kita berencana; membuat peta perjalanan yang maha panjang; membangun kepercayaan diri dari kemungkinan-kemungkinan yang masih mengawang di udara. Besok ia tegar. Lusa ia runtuh lagi. Di satu sisi, ia begitu rapuh. Di sisi lain, ia bagai karang; tak tergoyahkan.
Apakah kita sudah berada di jalur yang sesuai dengan rencana Tuhan? Kita ingin ini-ingin itu dan larut dalam euforia yang tak berkeujungan seolah semua itu terasa dekat, seperti seujung kuku, bagai di tepi bibir. Tapi, apakah itu yang benar-benar kita butuhkan? Apakah memang seperti itu? Tidakkah daftar panjang keinginan itu terlalu prematur dan dipaksakan? Atau kita seharusnya menghabiskan lebih banyak waktu untuk merenung dan merencanakan kembali apa yang hati kita perlukan tanpa embel-embel begini dan begitu? Apakah kalian pernah merasakan keraguan dan kecemasan serupa? Atau hanya saya saja?”
Saya cukup sepakat dengan pola pikir yang saya tangkap dari
tulisan Bapak Dedi Supendra. Perencanaan maha panjang akan sangat prematur jika
dipaksakan tanpa bekal yang pas atau cukup. Poin pas dan cukup ini bagaikan dua
sisi mata uang yang berbeda namun satu kesatuan. Maksudnya adalah apabila bekal
kita secara quality sudah terpenuhi akan tetapi secara quantity
masih dirasa belum, maka akan terkesan prematur dan dipaksakan, bahkan pincang.
Sehingga hasilnya tidak akan semanis sebagaimana yang diharapkan.
Perihal ini, akan saya coba jabarkan kembali dengan magic
words yang selalu digaungkan oleh salah satu tutor saya, Mr. Harrry, yaitu 'Berdamai dengan Diri Sendiri'. Beliau sering sekali berpesan kepada kami untuk
tidak terburu-buru memaksakan kehendak. Ada baiknya bahkan sangat baik sekali
jika menurunkan ego dan berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu. Maksudnya
begini, akan lebih elok jika kita mematangkan terlebih dahulu bekal untuk
mencapai tujuan yang sudah kita rencakan baik dari segi quality maupun quantity.
Meskipun ujungnya kita akan merubah sedikit alur perencanaan sebelumnya dan menunda
atau mengganti dengan perencanaan lain.
Percayalah, bahwa tindakan ini bukanlah tindakan buruk bukan pula tindakan
terkutuk. Percayalah pula bahwa keputusan dan
tindakan ini bertujuan untuk mengupayakan perencanaan menjadi lebih baik yang tidak akan melukai tujuan akhir. Namun sebaliknya,
apabila kita tetap kekeuh dalam pemaksaan kehendak pada perencanaan dan
menolak sebuah perbaikan justru akan menciderai impian pencapaian itu sendiri.
Hidup itu berjalan, setiap langkah kaki beriringan dengan
perputaran waktu yang akan selalu mengantarkan kita pada perjumpaan dengan
hal-hal baru atau orang-orang baru. Perihal
orang-orang baru, mungkin saja apa yang sudah mereka capai adalah apa yang kita citakan. Sehingga, tidak salah jika kita menjadikan mereka sebagai role model
baru yang mana kemudian kita telisiklah apa saja yang sudah dilakukan mereka
sebelum meraih citanya. Bersumber dari hal-hal inilah kita belajar dan mampu
menilai apakah yang kita lakukan sebelumnya sudah sangat cukup dan apakah perencanaan yang sudah kita goreskan
sudah sempurna? Jika belum, maka
perbaikilah, jangan risau pada judgment rencana menjadi wacana, jangan ragu
pada perubahan pula perbaikan. Banggalah menjadi pesolek wacana, dimana pesolek
itu menandakan bahwa seseorang tersebut akan terus memperbaiki dan mempercantik
rencananya maupun wacananya agar dapat mencapai kesempurnaan pencapaian
impiannya.
Selamat bergulat dengan hari Senin ... :)
Yogyakarta, 08 April 2019





