Banner 468 x 60px

 

Pesolek Wacana

0 komentar

Pesolek Wacana

Sumber: Freepik


Dulu, sekitar tahun 2009 atau 2010 saya pernah mendengar saudara saya memotivasi salah satu sepupu untuk menuliskan cita-citanya di atas selembar kertas, agar kian terbaca, terupaya, dan lekas terlaksana karena ingatan manusia tak seberapa. Kemudian ustadz saya diwaktu kecil juga pernah menyampaikan, dikala berdoa kita sertakan saja waktu konkrit yang kita mau, katanya agar Tuhan tidak bingung kapan doa kita hendak dikabulkan. Dua contoh kecil ini jika sedikit ditelisik pada dasarnya tengah mengajarkan pada saya mengenai bangunan perencanaan yang konkrit. Sedikit saya kupas, penulisan cita-cita pada kertas akan melahirkan perencanaan yang indah ketika bertemu dengan keinginan yang terlantun dalam doa lengkap dengan kisaran waktu yang diharapkan. Analisis sederhana ini kemudian membawa saya pula pada pertemuan maya semacam seminar motivasi berbasis online yang mana  pemateri menanamkan kepada peserta agar tidak segan-segan menulis perencanaan cita-cita lengkap dengan waktu spesifiknya. Hal ini bertujuan agar langkah semakin tertata dan jiwa selalu berjalan pada arah yang sudah ditetapkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Seiring berjalannya waktu saya semakin belajar bahwa penulisan perencanaan secara konkrit pada hidup manusia secara pribadi memang penting, bahkan pada kehidupan sebuah negara sekalipun, sebut saja RPJPN dan RPJMN. RPJPN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional) yang merupakan sebuah dokumen perencanaan pembangunan nasional dalam periode 20 tahun. Sedangkan RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) yang merupakan dokumen perencanaan untuk periode 5 tahun. Perencanaan-perencanaan tersebut tidak lain tidak bukan adalah bentuk kesatuan tata cara perencanaan pembangunan yang menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam negara pada kurun waktu yang sudah ditentukan. Maka dari sana pula lah saya belajar mengenai pentingnya perencanaan konkrit agar langkah kaki tidak keluar dari koridor haluan untuk mencapai apa yang diidamkan.
***
Saya ingin sedikit berkisah tentang penyampaian hasil ramalan atau semacam pandangan salah satu teman kepada saya. Kawan saya ini anak kedokteran yang kabarnya pernah koas di Korea, belajar psikologi, serta belajar kira-kira 5 bahasa, cukup canggih menurut saya. Kata orang, tebakannya kian benar, kadang dengan satu kali pandang dia bisa paham tentang pribadi seseorang, bahkan terkadang tentang silsilah keluarga juga berhasil ditebaknya. Entah teori ataupun mantra apa yang digunakan untuk aksi tebak-menebak tersebut. Jadi, saat itu dia mengatakan bahwa saya adalah orang yang suka berencana akan tetapi sering kali meleset atau semacam apa yang saya lakukan agaknya tidak sesuai dengan rencana yang sudah disusun sebelumnya. Lalu dia mengarahkan agar lain kali bisa lebih konsisten pada garis yang sudah saya goreskan sendiri. Saya hanya diam, sesekali melempar senyum simpul yang kurang berkenan. Dalam hati saya bicara, dia gagal menebak saya sepenuhnya. Mungkin untuk poin beberapa kali tidak sesuai dengan garis perencanaan mungkin benar, akan tetapi jika saya dikata tidak konsisten saya kurang berkenan. Bahkan dengan segenap keyakinan, saya masih mempercayai penuh bahwa beberapa langkah yang tidak sesuai dengan garis perencanaan tersebut adalah bukti konsistensi besar saya terhadap tujuan utama. Karena menurut saya, ketidaksesuaian langkah bukan berarti secara mentah-mentah menjadi pemutus perencanaan, akan tetapi perbaikan dan pematangan perencanaan itu sendiri.

Mari sedikit saya tunjukan dengan elaborasi dua paragraph dari tulisan salah satu Dosen Universitas Negeri Padang yang pernah berjuang menaklukan perencanaan untuk menggapai University of Manchester, sapa saja Bapak Dedi Supendra. 
“Apakah yang kita lakukan kemarin sudah benar adanya? Kita berencana; membuat peta perjalanan yang maha panjang; membangun kepercayaan diri dari kemungkinan-kemungkinan yang masih mengawang di udara. Besok ia tegar. Lusa ia runtuh lagi. Di satu sisi, ia begitu rapuh. Di sisi lain, ia bagai karang; tak tergoyahkan.

Apakah kita sudah berada di jalur yang sesuai dengan rencana Tuhan? Kita ingin ini-ingin itu dan larut dalam euforia yang tak berkeujungan seolah semua itu terasa dekat, seperti seujung kuku, bagai di tepi bibir. Tapi, apakah itu yang benar-benar kita butuhkan? Apakah memang seperti itu? Tidakkah daftar panjang keinginan itu terlalu prematur dan dipaksakan? Atau kita seharusnya menghabiskan lebih banyak waktu untuk merenung dan merencanakan kembali apa yang hati kita perlukan tanpa embel-embel begini dan begitu? Apakah kalian pernah merasakan keraguan dan kecemasan serupa? Atau hanya saya saja?”

Saya cukup sepakat dengan pola pikir yang saya tangkap dari tulisan Bapak Dedi Supendra. Perencanaan maha panjang akan sangat prematur jika dipaksakan tanpa bekal yang pas atau cukup. Poin pas dan cukup ini bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda namun satu kesatuan. Maksudnya adalah apabila bekal kita secara quality sudah terpenuhi akan tetapi secara quantity masih dirasa belum, maka akan terkesan prematur dan dipaksakan, bahkan pincang. Sehingga hasilnya tidak akan semanis sebagaimana yang diharapkan. 

Perihal ini, akan saya coba jabarkan kembali dengan magic words yang selalu digaungkan oleh salah satu tutor saya, Mr. Harrry, yaitu 'Berdamai dengan Diri Sendiri'. Beliau sering sekali berpesan kepada kami untuk tidak terburu-buru memaksakan kehendak. Ada baiknya bahkan sangat baik sekali jika menurunkan ego dan berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu. Maksudnya begini, akan lebih elok jika kita mematangkan terlebih dahulu bekal untuk mencapai tujuan yang sudah kita rencakan baik dari segi quality maupun quantity. Meskipun ujungnya kita akan merubah sedikit alur perencanaan sebelumnya dan menunda  atau mengganti dengan perencanaan lain. Percayalah, bahwa tindakan ini bukanlah tindakan buruk bukan pula tindakan terkutuk. Percayalah pula bahwa  keputusan dan tindakan ini bertujuan untuk mengupayakan perencanaan menjadi lebih baik yang  tidak akan melukai tujuan akhir. Namun sebaliknya, apabila kita tetap kekeuh dalam  pemaksaan kehendak pada perencanaan dan menolak sebuah perbaikan justru akan menciderai impian pencapaian itu sendiri.

Hidup itu berjalan, setiap langkah kaki beriringan dengan perputaran waktu yang akan selalu mengantarkan kita pada perjumpaan dengan hal-hal baru atau orang-orang baru.  Perihal orang-orang baru, mungkin saja apa yang sudah mereka capai adalah apa  yang kita citakan. Sehingga, tidak salah  jika kita menjadikan mereka sebagai role model baru yang mana kemudian kita telisiklah apa saja yang sudah dilakukan mereka sebelum meraih citanya. Bersumber dari hal-hal inilah kita belajar dan mampu menilai apakah yang kita lakukan sebelumnya sudah  sangat cukup dan  apakah perencanaan yang sudah kita goreskan sudah  sempurna? Jika belum, maka perbaikilah, jangan risau pada judgment rencana menjadi wacana, jangan ragu pada perubahan pula perbaikan. Banggalah menjadi pesolek wacana, dimana pesolek itu menandakan bahwa seseorang tersebut akan terus memperbaiki dan mempercantik rencananya maupun wacananya agar dapat mencapai kesempurnaan pencapaian impiannya.






Selamat bergulat dengan hari Senin ... :)

Yogyakarta, 08 April 2019
Read more...

Bus Malam: Sumber Pembelajaran

0 komentar

Bus Malam: Sumber Pembelajaran


Sumber: DuniaBis.com

Alam dan seisinya memang diciptakan sebagai sumber kehidupan dan pembelajaran bagi manusia. Segala jawaban atas pertanyaan maupun solusi dari permasalahan, pada dasarnya telah disajikan oleh semesta dan segala  yang terdapat di dalamnya. Tergantung bagaimana manusia mampu menemukan, mempelajari, dan mengaplikasikan dalam hidupnya. Saat melihat semesta, kemudian masuk dalam  proses dan perjalanan manusia, saya menemukan titik indah yang mewakili segala lembar kehidupan. Orang memanggilnya “bus malam”. Mungkin sebagian orang cukup ter-kekeh-kekeh mendengar representative kehidupan yang saya pilih, namun saya akan tunjukan realitanya.

Sebelumnya, saya akan sedikit memperkenalkan terlebih dahulu perihal  kedekatan saya dengan bus malam. Pertama kali saya memutuskan untuk menggunakan moda transportasi tersebut  (non-pariwisata) yaitu pada 2016 silam. Saat itu saya masih berada dalam masa pembelajaran di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur.  Di pertengahan periode, saya mendapat pemberitahuan bahwa saya lolos seleksi berkas beasiswa Djarum dan diwajibkan untuk mengikuti tes tertulis di Yogyakarta. Masih jelas dalam ingatan bahwa tes tersebut dilaksanakan pada hari Minggu yang mana pengumuman akan disampaikan dihari itu juga. Singkat kata singkat cerita, saya dinyatakan gugur dan tidak bisa mengikuti tahap seleksi selanjutnya. Mengingat pada hari senin keesokan harinya saya memiliki jadwal  kelas dari  pagi, maka mau tidak mau saya harus segera kembali ke Pare dan harus berangkat pada hari itu juga. Setelah dipikirkan, satu-satunya transportasi yang memiliki jadwal sangat kondisional serta paling ekonomis hanya bus saja dan waktu yang tersisa hanya malam hari.

Disinilah pembelajaran hidup yang saya temukan, dimulai. 

Sebagai contoh pembuka, saya memiliki tujuan yang mana kemudian saya jumpa pula dengan  sebuah pilihan lengkap dengan segala resikonya untuk mencapai tujuan tersebut. Jika saya lebih mengedepankan ketakutan dan  keraguan, maka saya akan terlambat atau bahkan kehilangan pencapaian maupun tujuan yang saya inginkan. Saat itu saya memang belum pernah menaiki kendaraan umum malam hari seorang diri, utamanya bus besar. Segala info saya kumpulakan, mulai dari kondisi keamanan dalam perjalanan, pula sampai pada kondisi terminal. Banyak yang menyarankan untuk tidak pergi dan lebih baik menunggu esok pagi dengan moda transportasi lain. Namun jika demikian kondisinya, saya akan kehilangan 7 kelas di hari senin dan saya akan sangat merugi. Akhirnya perasaan dikalahkan oleh akal pikiran untuk  memenangkan kendali keputusan sehingga saya memberanikan diri untuk berangkat malam itu juga. Dalam hal ini saya mengingat prinsip yang dipegang teguh oleh Fenrir dalam  Mitologi Nordik yang menyatakan bahwa tidak ada kejayaan yang ditempuh tanpa menyinggung keberbahayaan.

Berbekal catatan ayat kursi dari sahabat saya, Raden Ridwan Fahrudin, saya memulai perjalanan dengan penumpang kira-kira dibawah 10 orang, sangat sedikit untuk ukuran bus antar provinsi. Sepanjang perjalanan saya hanya bergumam membaca catatan dan mengabaikan tidur malam. Saat di Solo, saya pun sempat mendengar teriakan supir bus yang mengabarkan bahwa ada seorang copet yang sedang beroperasi. Cukup gemetar merasakan adrenalin kehidupan bus malam yang menjadi tantangan setiap penumpang. Saat itu, saya tidak paham prediksi waktu yang tepat, sehingga saya sampai di Jombang terlalu dini yaitu sekitar pukul 03.00 pagi dimana terminal pun masih sangat gelap dan sangat-sangat rawan apabila saya turun disana. Selain itu, belum ada kendaraan yang beroperasi untuk tujuan Pare. Sehingga, bus menurunkan saya di pos dinas perhubungan lengkap dengan pangkalan ojek di sebelahnya. Saat itu, tidak ada perempuan satupun dan kondisi kota masih sangat sepi. Saya berdiri tepat ditengah orang-orang asing yang cukup wajar  jika pikiran saya menjadi liar dalam ketakutan. Sepanjang penantian menunggu fajar, saya hanya terdiam dalam doa. Kemudian atas lindungan-Nya, akhirnya saya dapat sampai di Pare sekitar pukul 07.00 pagi dan tetap dapat mengikuti proses belajar sebagaimana yang saya inginkan. Inilah sepenggal perjalanan kecil dalam pilihan yang saya klaim sebagai pengaplikasian prinsip Fenrir.

Ada beberapa point analogi hidup yang benar-benar saya temukan pada bus malam. Pertama, ukuran lama penantian itu tidak menjamin seseorang akan mendapatkan posisi yang diinginkan lebih dahulu daripada orang lain yang penantiannya tak selama penantian kita. Adakalanya durasi penantian dikalahkan oleh besarnya langkah seseorang untuk bergerak maju. Contoh, saat itu saya sedang menunggu bus jurusan Jogja di terminal Surabaya dengan durasi yang cukup lama. Namun demikian, saat bus tiba saya tetap tidak bisa masuk karena jumlah calon penumpang yang cukup banyak dan saya belum lihai atas soft skill membaca ritme pergerakan yang seharusnya dimiliki calon penumpang handal (saya kurang gesit dalam merebutkan pintu).  Dalam kehidupan, selama apapun alokasi waktu yang dicurahkan oleh seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkan, akan kalah dengan orang lain yang memiliki pengupayaan yang lebih besar atau metode yang lebih tepat. Itulah yang disebut dengan keseriusan kerja keras yang terkalahkan oleh kecermatan kerja cerdas. Ingat, apa yang kita pikirkan, sangat berpotensi untuk dipikirkan oleh orang lain, pula apa yang kita idamkan, sangat berpotensi juga diidamkan oleh orang lain. Maka, lengkapi penantianmu dengan upaya besarmu agar kamu tidak menjadi golongan yang tertinggal.

Kedua, kita tidak pernah bisa memilih akan duduk berdampingan dengan siapa selama perjalanan menuju akhir pemberhentian atau lokasi tujuan. Jelas, kita tidak bisa meminta pada supir atau pada kernet bus agar yang duduk disamping kita adalah penumpang dengan kriteria yang kita inginkan. Sehingga, kita harus tetap menerima, menjalani, dan menyesuaikan diri. Misal, saya sangat benci balsam atau minyak angin lainnya selain kayu putih. Dari kecil saya tidak pernah mau untuk mendekati  barang-barang tersebut, apalagi memakainya. Akan tetapi, saat saya duduk sebagai penumpang, sangat tidak etis dan sangat tidak mungkin jika saya menyuruh penumpang dengan kriteria penyuka barang-barang tersebut untuk menjauh dari saya. Sebagai penumpang saya harus professional, menerima, dan beradaptasi minimal sampai waktunya tiba untuk turun. Sebenarnya, penumpang bisa saja memilih akan sebangku dengan siapa atau orang yang seperti apa, namun ketika pilihan, kesempatan serta jalannya memang ada. Misalnya, duduk dibangku kosong sebelah perempuan cantik atau pria tampan, namun tetap dengan catatan bahwa kesempatan dan jalannya memang ada.

Point tersebut, saya analogikan dengan takdir jodoh seseorang untuk berdampingan dengan siapa atau seperti apa saat waktunya tiba. Saya memaknai hal ini pada point jodoh yang sudah digariskan. Kita tidak pernah tau, dengan siapa dan kriteria macam apa jodoh yang akan dikirimkan oleh Tuhan untuk kita. Perihal faktor-faktor yang tidak kita sukai namun kita temukan pada dirinya, apabila sudah digariskan berjodoh maka kita tidak ada wewenang untuk merevisi garis itu. Tentu penerimaan dan penyesuaian menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan ketentraman selama hidup berdampingan. Saat kita bicara bahwa jodoh yang bersama kita adalah murni pilihan kita, pada dasarnya bukan real tangan kita yang bebas menentukan melainkan kesempatan dan jalannya memang disediakan dan diarahkan oleh Tuhan untuk kesana, untuk memilih itu. Sekali lagi, bukan tangan manusia yang murni bebas memilih, akan tetapi wujud kebebasan itu memang diarahkan pada bentuk pilihan yang telah siapkan.

Ketiga, durasi perjalanan menggunakan bus malam berpotensi lebih cepat dibanding bus lain yang beroperasi saat pagi maupun siang. Karena, pengguna jalan saat malam hari cenderung lebih sedikit, sehingga para supir bus malam selalu menaikan kecepatan saat berkendara. Perjalanan malam hari, 85% dihabiskan oleh penumpang untuk tenggelam dalam lelapnya tidur. Saya pernah merasakan, saat saya duduk di bangku paling belakang ujung kanan, di tengah kenyamanan bunga-bunga mimpi yang mulai  singgah, saya hampir tersungkur karena supir rem mendadak atau mungkin tidak menghindari jalan yang berlubang. Dalam keadaan lelap yang menenangkan, saya memang tidak berpegangan pada besi sebelah kanan yang telah disediakan, sehingga ketika terjadi guncangan yang tidak terduga saya tidak mampu untuk stay on my position.  Penjabaran dalam hidup, saat kita sudah merasa nyaman, aman, dan sejahtera pada suatu posisi tertentu, kadang kala kita lupa pada satu tiang yang seharusnya selalu kita pegang teguh, ucap saja iman. Setinggi apapun, senyaman apapun, sebesar apapun posisi kita, jika kita hilang iman, hilang pegangan, maka dengan sangat mudah kita akan jatuh dan lepas dari kejayaan yang dimiliki sebelumnya.

Analogi kehidupan lain sebenarnya masih  sangat banyak saya temukan disana, akan tetapi pembahasan selanjutnya akan saya singgung mengenai pembelajaran. Pertama, pada pukul berapapun bus yang saya tumpangi singgah di terminal, saya selalu mendapati para pedagang asongan menanggalkan tidur malamnya untuk menjajakan dagangannya. Sering pula saya dapati dagangan yang masih penuh yang menandakan sepi pembeli. Tidak jarang pula mereka masuk dalam bus kemudian membagi-bagikan dagangannya dipangkuan para penumpang dari depan hingga belakang dengan harapan ada yang tertarik kemudian berniat untuk membeli. Contohnya pedagang buku, seperti buku resep masakan, bacaan sholat, dan buku-buku klasik lainnya yang mulai lusuh dimakan waktu. Mirisnya, saya tidak pernah mendapati pemandangan penjulan buku dengan metode seperti ini menarik minat pembeli, alias tidak laku. Saya melihat pula saat bus berhenti, segerombolan insan menghampiri pintu belakang juga pintu depan. Benar .. mereka adalah ojek pengkolan dan penarik becak yang tiada lelah untuk berusaha meskipun hasilnya selalu sama. Persis, saya mendapati kenyataan bahwa para penumpang yang turun, pergi begitu saja meninggalkan mereka kemudian lebih memilih Transportasi Berbasis Online (TBO). 

Saya merasa sedih dititik ini, dimana zaman semakin berkembang, tekhnologi semakin meradang, namun masih banyak sekali lapisan masyarakat yang tertinggal, tergerus pada ketidakpahamannya yang semakin mencekik kehidupannya melalui mata pencahariannya. Bagaimana tidak, ketika pedagang lain dengan mudah menjajakan daganganya atas bantuan marketplace yang tengah marak saat ini, namun mereka masih berjibaku dengan mekanisme penjualan tradisional tanpa inovasi maupun pemikiran atas segmen pasarnya. Pula disisi lain, muncul persaingan ketat antara TBO dengan Transportasi Konvensional. Lagi-lagi pengaruh tekhnologi yang semakin menjalar, masyarakat mulai beralih pada TBO dengan berbagai pertimbangan seperti efisiensi serta  tarif yang cenderung lebih ekonomis. Saat saya termangu di pos dinas perhubungan Jombang, telinga ini dengan jelas mendengar keluhan-keluhan para ojek konvensional yang mengalami kegelisahan atas persaingan yang kian menyudutkan. Mereka  khawatir atas perkembangan ini yang mengancam profesinya seraya berkelakar, “kalau begini terus, lama-lama dapur rumah tidak mengepul”.

Saya tidak berdiri dipihak manapun, namun hati saya turut larut dalam kesedihan mereka, apalagi banyak sekali diantara mereka yang berusia senja dan seharusnya sudah tidak perlu memikirkan takdir dapur. Akan tetapi mereka masih terus menunggu dan mencari rejeki untuk kelangsungan hidupnya serta keluarganya. Perihal kesehatannya, seperti tidak lagi menjadi priority. Lantas saya berfikir, andai saya punya kendali di negeri ini !

Selain dari mereka, saya pun mendapat  pembelajaran dari para musisi jalanan yang eksistensinya di mata dunia sudah diakui sejak zaman neolitikum. Terdapat bermacam-macam tipe pengamen yang saya dapati disana. Bahkan tidak jarang saya menjumpai musisi-musisi yang mohon maaf memiliki permasalahan pada salah satu inderanya, seperti tunanetra. Mereka benar-benar mampu menampar saya. Bagaimana tidak, dengan kondisi yang sedemikian rupa mereka tidak menyerah, tidak bergantung pada orang lain, dan mereka tetap gigih untuk mengais rupiah dengan tangannya sendiri. Menurut saya, mengamen  di bus bukan perkara mudah karena harus naik-turun pintu dengan keterbatasan penglihatan seraya membawa alat musik atau sound sendiri. Belum lagi harus berputar untuk meminta keikhlasan rupiah penumpang dari ujung depan hingga belakang yang sebenarnya belum tentu diberikan. Namun point nya adalah apapun kondisinya, mereka tidak pernah menyerah. Malu rasanya diri ini, hidup  penuh keluh padahal telah dikarunia organ serta fungsi yang utuh.

Sebenarnya masih banyak sekali pembelajaran yang saya dapatkan melalui transportasi ini, akan tetapi saya rasa tidak efektif untuk menuangkan dalam satu guratan saja. Sebagai tambahan, selain alasan sumber pembelajaran, saya sangat menyukainya karena saat duduk dibawah lampu yang redup, lalu hujan mulai turun membasahi kaca-kaca jendela, di saat itulah pikiran mulai terbuka, inspirasi mulai nyata, serta point-point evaluasi pada diri sangat mudah saya olah di kepala. Saya merasa sangat  syahdu disana, itulah lokasi ternyaman di tengah keberbahayaan yang pernah saya temui. Lokasi yang seharusnya penuh dengan kehati-hatian, namun saya merasa sangat tenang dalam pikiran.

Esok atau lusa akan saya tunjukan padamu, rasakan syahdunya dan berbincanglah dari hati ke hati kepada kaca-kaca jendela yang elok dan menenangkan. Adukan padanya, temukan jawabannya, dan simpan dalam hatimu.

Titip salam untuk Mira dan Sugeng Rahayu. Selamat malam :)
Read more...

Bijak dalam Bersosial Media

0 komentar

Bijak dalam Bersosial Media

 
Sumber: Pil Tei

Versi bijak yang mana ?

Malam itu kami berkelakar bersahut-sahutan via voice note WhatsApp, antara saya dengan seorang kawan yang tidak akan saya katakan bahwa namanya Askoning (tidak saya katakan, sungguh). Ceritanya kami sedang bertukar pikiran, saling aju pendapat, tetapi berkali-kali ditegaskan bahwa kita tidak akan saling mendebat satu sama lain. Mari sejenak kita melihat aturan nasional tepatnya pada Pasal 1 yang mengatakan bahwa perempuan selalu benar, maka laki-laki harus selalu mengalah. Pasal 2 apabila perempuan salah, maka akan kembali pada Pasal 1.  Permasalahannya adalah diriku dan dirinya sama-sama seorang kartini, maka yang terjadi sampai 3 hari kita terus saling membalas pesan suara dengan tema yang sama lengkap dengan argumen-argumen yang terus diperkuat. Yaa, semacam debat kusir tanpa berkiblat pada British Parliamentary maupun Asian Parliamentary System.  Namanya juga perempuan, ga mau ngalah :)
***
Jadi begini, disaat masyarakat  Dwipantara sedang meributkan pilpres 2019, saya dan kawan yang sengaja tidak saya sebut namanya itu (tidak kan), justru mempermasalahkan perihal versi bijak yang paling tepat dalam penggunaan sosial media (sosmed) yang sejatinya sama sekali bukan mosi terkini. Sebagai golongan generasi Z, lumrah adanya ketika kita menjalin hubungan baik dengan tekhnologi beserta anteknya yaitu sosial media. Sosmed yang berperan sebagai penyambung lidah dari pemilik akun untuk berkomunikasi dengan orang lain atau sekedar sebagai wadah untuk mencurahkan suatu hal melalui sesuatu yang mereka unggah. Cara pengelolaan dan pemakaiannya pun pada dasarnya tiap orang memiliki style masing-masing, lengkap dengan motivasi dibaliknya. Tidak jarang juga, para sosok terhormat non-pemilik akun yang akrab disebut dengan “Netizen” menaruh pemahaman yang berbeda dari maksud pemilik akun atas sebuah unggahan. Dalam guratan kali ini, akan sedikit saya paparkan 2 versi bijak dalam penggunaan sosmed berdasarkan sudut pandang yang berbeda.

Pertama, menurut penganut golongan pembawa perasaan yang diusung oleh paslon no – xx. Sorry, maksud saya yang diusung oleh kawan saya. Doi memang mempunyai sisi yang mencerminkan perempuan utuh yang seutuh-utuhnya. Eh gimana ya,  agak sulit untuk membahasakan, namun pada intinya ada sisi dalam dirinya yang selalu mengedepankan perasaan. Semacam ada kegelisahan apabila dia melakukan sesuatu hal yang menurutnya ber-impact pada orang lain, sekecil apapun itu. Kaitanya dengan sosmed, dia memaparkan bahwa dalam ilmu psikologi adakalanya seseorang merasa sakit hati kepada apa yang terlihat pada  orang lain, termasuk postingan (sekali lagi, pada postingan orang, bukan orang yang memposting). Adakalanya seseorang kurang bahagia dengan pencapaian orang lain atau ada pula yang semakin down karena dirinya  tidak sebanding dengan orang  yang dilihat dalam postingan tersebut. Disini, dia juga mengadopsi sebuah kaidah fiqh yang berbunyi :
               
                                                                                                     درأ المفاسد مقدم على جلب المصالح 
         Artinya: “menolak mudharat (bahaya) lebih didahulukan dari mengambil manfaat


Note: 
Sedikit mengenang, kaidah ini menjadi salah satu kaidah andalan saat closing statement yang dibawakan oleh  para pembicara satu seperti kami, undang Siti Ulfa Lailatusyaifa, Amraini Ma’ruf, dan Aisyah Chairil (semoga kalian baca, agar bisa sedikit bernostalgia).

Baik, kembali pada kawanku. Berpedoman pada dua landasan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka  dia mengatakan bahwa post momen bahagia seperti travelling atau journey kebahagiaan lain jauh lebih bijak karena tidak menimbulkan kesakitan pada hati orang lain, berapapun prosentasenya. Jika konteksnya hendak memotivasi orang lain, maka langsung saja post pencapaian terbesar karena dari sana pun sudah merepresentatifkan proses yang besar pula. Meski saya pribadi tidak/belum menyepakati untuk mengaplikasikannya, akan tetapi menurut saya pandangan ini sangat luar biasa karena diwujudkan sebagai upaya preventif yang diniatkan untuk menjaga perasaan orang lain. Jauh dari kata sombong dan tidak banyak orang yang terfikirkan atas hal ini  jauh melebihi jarak  mata memandang.

Kedua, menurut penganut paham anti baper-baper club. Maksud saya, golongan orang yang lebih mengedepankan besar kebermanfaatan dari pada sekelumit cemoohan. Kurang aple to aple memang, tapi realitanya kami memang menggunakan sudut pandang yang berbeda. Dari lubuk hati yang terdalam saya sangat-sangat-sangat-sangat menyukai postingan yang berbau prestasi, keikutsertaan program-program intelektual, maupun kegiatan-kegiatan lain yang menunjukkan keaktifan juga kontribusi seseorang, bahkan postingan mengenai sebuah prosespun sangat menarik untuk saya simak, apapun kategorinya dan seberapapun ukurannya. Dalam hal ini, sedikitpun tidak pernah terbesit difikiran saya untuk mendefinisikan hal tersebut sebagai bentuk kesombongan seseorang. Bahkan menurut saya, postingan yang demikian adalah salah satu suplemen motivasi yang benar-benar di butuhkan untuk merawat mimpi agar tidak pupus pula tidak mati. Agar lelah perjalanan dan penantian tidak terus-menerus merongrong dalam dada dan tidak pula merasa menjadi satu-satunya orang yang terdzolimi oleh semesta atas kesulitan yang tak kunjung berkesudahan. Dengan melihat proses perjuangan orang lain melalui postingan, saya merasa bahwa episode tersulit tidak hanya dialami oleh satu atau dua insan saja, melainkan semua pihak yang bermimpi tinggi, tentu dengan versi yang berbeda.

Oleh sebab itu, saya mencoba pula memposisikan pemaknaan ini pada pemaknaan orang lain. Maksudnya adalah ketika saya merasa sangat termotivasi dengan postingan seseorang, maka orang lain pun berpotensi besar untuk merasakan hal serupa meskipun tidak seluruhnya. Agaknya hal ini bukan bualan kosong semata, karena berdasarkan sensor kasat mata, sering kali saya menjumpai komentar-komentar positif dari teman-teman sejawat dunia maya ketika  menjumpai seseorang post mengenai beberapa kategori yang telah  saya sebutkan sebelumnya. Bahkan tidak sedikit pula yang menjadikannya role model agar langkah kakinya semakin terarah.
***
Bagaimana dengan perasaan (rasa sakit) orang lain ? 
Pada bagian ini, mari kita sepakati sebagai sifat iri hati. Sebelumnya, ingin aku sampaikan satu bait magic sentence yang sering berputar-putar dalam kepalaku, “Tuhan selalu berhitung, namun kadang kala Tuhan berhenti berhitung.” Kalimat ini saya temukan disalah satu novel karya Andrea Hirata berjudul “Ayah”. Pemaknaan dalam novel tersebut digambarkan bahwa Sabari sangat mencintai Marlena, namun Marlena sangat membenci Sabari. Bertahun-tahun Sabari merawat cintanya, tidak pernah terhapus, tidak pernah pula berhenti berupaya dan berdoa. Marlena pun demikian, bertahun-tahun merawat rasa bencinya pada Sabari, bertahun-tahun pula menolak kehadiran Sabari, sehingga ketidakmungkinan mereka untuk bersatu pun menjadi sebuah kelaziman. Namun suatu ketika, dengan sebuah kondisi yang tidak terduga, Sabari resmi menjadi suami Marlena. Inilah yang disebut dengan “Tuhan selalu berhitung, namun kadang kala Tuhan berhenti berhitung.” Berbicara tentang berhitung dan berhenti berhitung, jangan pernah di artikan bahwa Tuhan capek menghitung. Tolong jangan ditelan mentah-mentah yaa ..

Disini, saya mendefinisikannya sebagai suatu ketidaklaziman yang terjadi berdasarkan kondisi tertentu, terpenuhinya kondisi tertentu, atau dipertemukan dengan kondisi tertentu. Mari kita telaah pelan-pelan dengan menggunakan beberapa analogi. Pertama, lazimnya matahari terbit dari timur, akan tetapi jika hari akhir (kiamat) tiba maka matahari akan terbit dari barat, inilah yang saya sebut “berdasarkan kondisi tertentu”. Kedua, dalam dunia grammar lazimnya verb itu tidak boleh ada di depan, akan tetapi jika dia diubah menjadi gerund dengan penambahan “ing” maka kelas katanya akan berubah menjadi noun dan sangat lazim untuk di tempatkan di depan sebagai subjek, inilah yang saya sebut “dipertemukan dengan kondisi tertentu”. Ketiga, mengenai iri hati yang lazimnya mencerminkan sifat yang buruk, akan tetapi iri hati akan menjadi sifat positif jika tidak disertai dengan dengki dan kehadirannya untuk memotivasi diri. Saya biasa menyapanya sebagai “iri hati tanpa dengki, iri hati yang membangun”, inilah yang disebut “terpenuhinya kondisi tertentu”.

Oleh sebab itu, berdasarkan opini pribadi, sifat iri hati (tanpa dengki) sangat baik  untuk diterapkan apabila melihat postingan orang. Lantas kemudian akan timbul dalam benak kita semacam, “kenapa sih dia bisa aku enggak ? Kenapa dia udah dapat tapi aku belum ? Kok dia bisa, sedangkan aku ? OKE, AKU HARUS BERUSAHA LEBIH KERAS, AKU PASTI BISA !”. Ada juga dua sifat yang lazimnya buruk akan tetapi jika diaplikasikan secara bijak maka akan menjadi sifat yang baik. Pertama, sifat malu, menurut saya seseorang sangat patut untuk menanamkan jiwa malu dalam dirinya, asalkan malu yang membangun. Misalnya, dia menanamkan rasa malu ketika berkumpul dengan orang-orang cerdas karena takut tidak mampu mengimbangi. Maka akan timbul  motivasi kuat untuk terus belajar agar dapat sejajar dengan orang-orang tersebut dan mampu memberangus rasa malu saat bersama mereka. Kedua, sifat mudah mengeluh, sifat ini juga sangat patut untuk ditanamkan dalam diri asal dengan satu catatan, “mengeluh boleh, menyerah jangan”. Korelasinya begini, apabila kita mengeluh,  kita akan mengutarakan segala yang ada mengenai upaya yang telah dikerahkan dan aspek-aspek yang telah dikorbankan. Maka, secara tidak langsung kita sudah menyampaikan dan mengingatkan kembali pada diri sendiri bahwa sudah banyak sekali yang kita lakukan untuk mencapai tujuan, sehingga sangat disayangkan apabila memutuskan untuk menyerah dan menutup buku.

Baiklah, sekian yang bisa saya paparkan. Sejatinya, 2 pendapat tersebut tidak ada yang salah, hanya saja sedikit berbeda. Namun tujuannya tetap satu, “Yang Terbaik”.  Silahkan untuk memilih versi bijak masing-masing dan jangan lupa juga untuk memilih presiden dengan pertimbangan dan sudut pandang yang bijak pada 17 April 2019 mendatang.








Pesan Jusmadi, tulis aja dulu .. kalau ada yang baca, itu bonus. Terimakasih bagi yang sudah mampir dan membaca, terimakasih atas bonusnya. 
Selamat istirahat :) 

 Yogyakarta, 25 Maret 2019
Read more...

Garuda untuk PPWNI-Malaysia

Garuda untuk PPWNI-Malaysia Tepat 399 hari lalu, pertama kali saya menginjakkan kaki di sebuah pemukiman yang mayoritas adalah s...

 
Setapak Arina © 2019