Banner 468 x 60px

 

Garuda untuk PPWNI-Malaysia

2 komentar

Garuda untuk PPWNI-Malaysia


Tepat 399 hari lalu, pertama kali saya menginjakkan kaki di sebuah pemukiman yang mayoritas adalah saudara saya. Yaa saudara sebangsa yang tengah menata hidup di negeri tetangga, tanah jiran.  Aku menyisir bangunan sekolah yang tampak nian kesederhanaannya, hanya terdiri kira-kira tidak lebih dari 5 ruang kelas dimana ditempati untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Bangunan itu bernama PPWNI (Pusat Pendidikan Warga Negara Indonesia) yang tampak berdiri seadanya, di bawah kaki rumah susun Bayu Perdana, Bukit Raja, Klang Selangor, Malaysia. Apakah kalian tau, bangunan ini dari siapa? dan apakah kalian juga tau, bangunan ini untuk siapa? Kontruksi ini bermuara dari jiwa sosial seorang Kerabat Diraja Selangor, Ungku Raja Kamaruddin, lelaki berdarah Bugis. Hatinya terpanggil setelah melihat banyaknya anak-anak buruh migran undocumented yang tidak mendapatkan akses pendidikan sebagaimana haknya.

Saat saya dan relawan lain turun dari mobil, dengan sigap mereka berbondong-bondong menghampiri kami. Senyum hangat pula tak henti-hentinya mereka lemparkan pada kami. Dengan manis mereka berkata, “cikgu, cikgu, sini tasnya”, ahh menawan sekali, mereka berebut untuk menggandeng dan membawakan tas kami, padahal kita tidak pernah jumpa sebelumnya. Saya menatap satu persatu wajah mereka, rautnya riang, matanya teduh, senyumnya hangat. Dalam hati saya bertanya, “apakah kebahagiaan yang merekah saat ini tercipta atas kedatangan kami? Apakah biasanya juga seperti ini? Apakah dibalik senyum hangat hari ini memang benar-benar tiada beban atau hal lain yang membuat salah satu sisi hidupnya berat?”



Sebelum mengajar, kami didudukkan terlebih dahulu pada suatu ruangan. Bermacam cerita dan arahan disampaikan untuk menjadi bekal dan parameter dalam proses mengajar agar tetap sesuai dan tidak melanggar aturan, ingat kami sedang di negara orang. Misi kami bukan untuk menjejali materi-materi dengan diktat tebal baik tentang Ilmu Pengetahuan Alam, Matematika, maupun bidang ilmu lain, tidak begitu. Kami membawa misi untuk menanamkan jiwa nasionalisme pada mereka, kami membawa nama garuda, kami ingin menyampaikan pesan bahwa garuda tetap perduli dengan mereka meski jarak cukup kejam untuk memisahkannya dengan ibu pertiwi. Tentu dengan kehati-hatian, kami melaksanakan apa yang sudah kami persiapkan dan telah kami susun dengan anggun untuk kami sampaikan kepada mereka.


Adik-adik kita ini tidak pernah upacara bendera, juga tidak bisa mendendangkan lagu kebangsaan dengan lantang, yaa ini aturan. Aku sempat berbincang dengan salah satu murid yang cukup pendiam, aku menghampirinya saat ia duduk termangu di bangku lapangan seorang diri. Sedikit percakapan kami seperti ini:

X : “Dek, kamu pernah ikut upacara bendera?”
Y: “Apa itu upacara bendera cikgu?”
X: “Upacara bendera itu, upacara penghormatan kepada sang saka, yang biasanya dilaksanakan setiap hari senin  di sekolah-sekolah .”
Y: “Tidak tau cikgu”
X: “Kamu kalau di rumah suka nonton apa ?”
Y: “TV 2 cikgu, kalau tidak ya TV 4”
X: “Pernah nonton film atau yang lain tentang Indonesia?”
Y: “Pernah cikgu”
X: “Kamu tau Jakarta?”
Y: “Tidak”
X: “Kamu tau Surabaya?”
Y: “Tidak”
X: “Kamu tau Sulawesi?”
Y: “Tidak”
X: “Kamu tau Sumatera?”
Y: “Tidak cikgu”
X: “Yasudah, kamu tau warna bendera Indonesia?”
Y: “Merah putih cikgu”
X: “Pintar, lantas apalagi yang kamu tau tentang Indonesia?”
Y: “Yang awak tau, ayah sedang kumpul uang untuk pigi ke Indonesi cikgu.”
X: (diam)
Disana memang tidak diperkenankan memutar lagu kebangsaan lain secara keras, tidak bisa juga mengibarkan bendera negara lain seenaknya. Maka jadilah mereka tak pernah merasakan khidmatnya upara penghormatan pada sang saka.

Saya banyak belajar dari mereka terutama tentang rasa cinta pada tanah air. Mayoritas dari mereka lahir dan besar disana tanpa pernah sekalipun bertegur sapa dengan Indonesia. Akan tetapi, rasa cinta yang dijatuhkan pada ibu pertiwi tetap utuh. Banyak dari mereka mengoleksi lagu-lagu kebangsaan di handphone, ada juga yang mengingat bahwa ibu kota ada di Jakarta, bahkan ada yang mampu menunjuk pulau Sulawesi di peta. Kemudian, hal yang paling tidak bisa saya lupakan adalah anak-anak menagis saat kita semua menyanyikan lagu “Tanah Airku” ciptaan Ibu Sud dengan volume sederhana dan serentak. Mereka menangis, benar-benar mengangis, bahkan dalam tangis  ada salah satu murid yang bilang, “cikgu tolong mati-matikan lagu itu”, aku mendekat, “kenapa dek, kamu sedih? iya?” sambil terus menangis dia menjawab, “iya cikgu, mati-matikan”. Aku memeluknya, kami semua para relawan tanpa komando dengan cepat merangkul setiap anak murid, kita merapat, kita terus bernyanyi, kita bernyanyi dalam tangis, kita bernyanyi mengingat bangsa.

Dalam tangis, dalam lantunan bait demi bait, dalam hangatnya dekapan dan pelukan anak-anak, hati dan pikiran saya terasa berputar. Terbayang betapa beruntungnya saya yang selama ini diasuh langsung oleh ibu pertiwi, namun jiwa kebangsaan saya masih segini saja, kecintaan saya pada bangsa masih secetek ini.  Apa yang sudah saya kerjakan untuk bangsa saya? apa kontribusi saya pada bangsa saya? apa yang sudah saya perbuat sebagai ucapan terimakasih pada bangsa saya? tidak ada. Lalu apa bukti yang bisa saya ajukan untuk meyakinkan bahwa kalimat “I Love Indonesia” yang sangat mudah diucapkan itu terlantun dengan ketulusan? Kenapa ? kenapa mereka yang sekecil ini, jauh  dari negara, tidak pernah jumpa, tapi bergetar hatinya mendengar lantunan lagu bangsa? Kenapa jiwa mereka bergetar atas nama Indonesia, padahal garuda belum pernah disentuhnya?  Saya merasa malu. Namun dalam hati, saya juga yakin, suatu hari nanti hal besar akan tercipta dari tangan-tangan tulus itu untuk Indonesia.

Perjumpaan kami memang cukup singkat, hanya terhitung hari, namun rasanya sangat membekas. Ada hati yang bergejolak menolak untuk pulang, rasanya ingin menetap untuk sepersekian waktu lagi. Saya  mendapati point-point penting dari kebersamaan singkat ini selain dari apa yang sudah saya kisahkan sebelumnya. Akan tetapi,  tidak mungkin saya ungkap secara gamblang pada tulisan ini. Yaa, point-point itu memang bukan untuk konsumsi public, tetapi sudah sepatutnya menjadi konsumsi republic, Republik Indonesia.

Tuhanku, permudahlah jalan mereka dan jalan kedua orang tua mereka untuk lekas kembali pada negeri ini, kami menantinya.





Yogyakarta, 12 Mei 2019



Read more...

Semesta Laksana Diktat Kehidupan

1 komentar

Semesta Laksana Diktat Kehidupan

Sumber: lpmprofesi.com
 
Dalam kehidupan, apapun yang ada di dunia ini tidak ada yang diciptakan tanpa sebuah fungsi dan tujuan, bahkan terhadap hal yang menyakitkan sekalipun. Tuhan begitu mulia, begitu bijak mendidik melalui segala denting ciptaan yang diturunkan untuk umat-Nya. Semua mengandung pesan, dapat dipelajari, dan dapat dijadikan referensi untuk menghadapi suatu kondisi dalam perjalanan hidup.  Manusia hadir di dunia berbekal akal dan pikiran, juga sebuah kepekaan yang harusnya mampu membaca segala yang sudah diajarkan oleh alam, mampu menggali jawaban atas permasalahan-permasalahan dari analogi yang tersedia dalam semesta. Kepekaan harus senantiasa terasah, melihat dan mendengar dengan seksama agar berkurang budaya berkeluh kesah.

Manusia acap kali dirundung permasalahan, besar kecilnya terukur secara subjektif atas pola pikir masing-masing individu. Kita boleh merasa gemas ketika melihat pemuda sehat dan bugar memilih menyerah sebelum bertindak karena merasa ada satu akses yang tidak ia punya untuk menunjang mimpinya. Kita boleh merasa geli melihat seseorang yang baru sekali gagal lantas menyerah dan menyerang Tuhan dengan kalimat ‘tidak adil’. Kita juga boleh meninggalkan orang yang kerap memandang sesuatu yang belum dicoba sebagai sebuah ketidakmungkinan dan menyeru terhadap pengupayaan adalah sebuah kebodohan. Tinggalkan saja, lalu datang dikemudian hari dengan membawa pembuktian di depan matanya. Karena untuk apa pula berlama-lama bergumul dengan orang yang tak sepaham yang akan terus menyudutkan sebuah keputusan, tinggalkan, lalu buktikan.

Perihal pembelajaran yang terangkum utuh dalam diktat yang tersedia pada semesta, saya ingin mengambil beberapa contoh yang dapat dijadikan jawaban atas sekelumit permasalahan klasik manusia. Pertama, kita bisa belajar dari kerang penghasil mutiara. Secara tidak sengaja, saya pernah menjumpai pada beberapa bacaan dalam gubahan sederhana dan pada salah satu petuah yang dikisahkan serta di tanamkan oleh motivator tersohor di negeri garuda ini, Merry Riana, idola saya.  Kepada sang pembaca terkasih, kiranya saya sajikan full text sebagaimana yang disajikan Merry Riana dalam unggahannya, agar turut merasakan sensasinya. 

“Pernahkah kamu menangis, sedih karena beban hidup yang begitu berat.
Pernahkah kamu menangis, berlinang air mata karena merasa tidak berdaya.
Pernahkah kamu menangis, putus asa, dan hampir menyerah.

Sayapun pernah mengalami saat-saat itu,
Dan disaat saya menangis, disaat saya tidak berdaya, saya selalu ingat sebuah cerita.

Pada suatu hari seekor kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya. Karena sebutir pasir tajam masuk pada tubuh kerang tersebut, “Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata. “Ibu tau, pasti kamu kesakitan, Ibu tau, rasanya pasti tidak nyaman, tapi Tuhan tidak memberi kita tangan. Sehingga walaupun ibu ingin, tapi ibupun tidak mampu menolongmu. Tapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kamu boleh menangis .. Tapi bagaimanapun, kamu harus tetap kuat yaa .. Kuatkan hatimu, kerahkan semangatmu … untuk bisa melawan rasa sakit itu. Balutlah rasa sakit itu dengan air matamu. Hanya itu yang bisa kamu perbuat,” kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Akhirnya, anak kerang itupun melakukan nasihat ibunya, dengan air mata ia bertahan … bertahun-tahun lamanya. Dan tanpa disadari, ternyata air mata yang membalut pasir itu .. perlahan-lahan mengeras dan mengubah pasir itu menjadi mutiara yang indah dan begitu berharga. Semakin besar pasirnya, semakin besar rasa sakitnya. Tapi, semakin besar pula mutiara indah yang dihasilkan.

Saya selalu ingat masa-masa saya menangis,
Ketika harus pisah dengan orang tua,
Bertahan hidup sendiri di negeri orang,
Dengan uang pas-pasan.

Saya masih ingat ketika saya menangis,
menghabiskan masa muda saya bekerja 14 jam sehari nonstop selama seminggu.
Di bawah terik matahari, ditolak, ditertawakan, diremehkan.
Saya masih ingat, saat-saat saya menangis,
ketika saya gagal berkali-kali dan jatuh terinjak-injak.

Tapi semua itu tidak membuat saya pasrah.
Semua itu tidak membuat saya putus asa dan menyerah.
Semua itu bisa saya lalui, bukan hanya dengan air mata, namun dengan doa dan usaha.
Air mata yang sekarang berubah menjadi mutiara yang indah.
Pengalaman hidup … yang akan selalu mengingatkan saya untuk terus kuat dan tangguh.”

Terkandung pesan besar yang digaungkan dalam petikan motivasi yang berlandaskan pada sebuah ajaran takdir alam dalam ketentuan mutlak nasib kerang. Nasib yang membawanya hidup dengan keterbatasan, hidup tanpa tangan, tanpa akses, dan kemampuan bahkan untuk sekedar menyeka pasir yang masuk serta menyakiti dirinya. Hidup dalam balutan kesakitan yang sudah digariskan, tidak ada celah untuk melakukan perlawanan pada nasib. Ini masalah besar, benar-benar besar dan mutlak tidak bisa dihindari, takdir dengan tegas telah mengaruniai ujian berat padanya. Tapi, masih sangat besar jalan terbuka untuk menghadapi takdir itu, yaa jalan untuk menghadapi, bukan menghindari. Ada jalan yang bisa dipilih untuk membuatnya bertahan dalam kesakitan dan bahkan menyulap kesakitan itu menjadi sesuatu yang sangat bernilai tinggi. Nyatanya, kesakitan dan keberanian untuk menghadapi ini di ganjar dengan sebuah hasil yang sangat mengagumkan, mutiara.  Dan andai kata kerang diberkahi tangan, maka mutiara indah tidak akan pernah tercatat dalam sejarah. Seelok itu Tuhan menciptakan pula memahamkan.

Begitu pula dengan hidup, kadang kala, takdir alam memang tidak bisa diajak berkongsi dengan damai. Takdir alam yang datang terkadang terlihat sebagai sebuah granat besar yang melesat tanpa ampun laksana serangan perang nuklir yang menghujani bunker pertahanan diri. Pada takdir-takdir itu mungkin memang tidak terbuka kesempatan untuk menghindar atau menolak. Tapi ketiadaan itu bukanlah sebuah akhir dari cerita dan membungkan kehidupanmu sehingga menggiringmu untuk berlutut  pada keterpasrahan. Tidak, bukan seperti itu. Jika kita dihadapkan pada sebuah kondisi seperti ini, maka yang dapat kita perbuat adalah mengupayakan untuk menghadapi, bahkan kita mampu menyulap sumber inti permasalahan menjadi sumber inti keberkahan, yaa sebagaimana pasir dan mutiara. Satu lagi, jangan pernah berduka jika kita ditakdirkan memiliki suatu kekurangan, pandanglah kekurangan itu dengan kacamata yang bijak, maka akan kita sadari bahwa kekurangan menjadi kunci besar menuju keberhasilan.

 Gambaran hidup Merry Riana, ia ditempa oleh kondisi keterbatasan financial  yang sangat mencekam saat menjalani perkuliahan di Singapura. Keterbatasan ini  disebabkan oleh kerusuhan 1998 dan keprihatinan perekonomian orang tua yang saat itu mundur dari perusahaan. Cita-cita orang tua untuk tetap memperjuangkan pendidikan anaknya membawa pada keputusan untuk berani berhutang sebanyak 40 ribu dolar Singapura atau setara 300 juta rupiah. Demi pendidikan, terseyok-seyok lah hidup dalam juang derita atas uang yang pas-pasan. Namun bersumber dari deraan hidup pula ia bangkit dan bekerja sangat keras untuk mencapai kebebasan financial pada target yang sudah ditentukan, agar lekas terbebas dari belenggu hutang dan mampu membahagiakan orang tua. Nyatanya dia berhasil, ia berhasil mencapai target yang diidamkan dan berhasil pula menjadi pribadi mandiri yang sarat akan sikap etos kerja yang sangat tinggi. Takdir telah berhasil mendidiknya.

Kedua, pernahkah kita berfikir setelah kita gagal, setelah kita jatuh, bahkan setelah kita terinjak-injak oleh  ujaran orang di sekitar ataupun dari sumber lainnya, kita akan jumpa dengan keberhasilan? ataukah justru berfikir bahwa kegagalan adalah rambu yang mengisayaratkan atas ketidakmungkinan dan sebagai signal untuk berhenti berjuang?

Mari kita belajar pada daun pohon yang mungkin jarang kita perdulikan. Daun yang telah sekian lama bertengger pada puncak, akan tiba masanya mereka berada dalam kondisi tertentu yang membuatnya gugur. Akan tiba masanya daun ditempa oleh diferensiasi yang bisa saja disebabkan atas adanya penumpukan sisa-sisa metabolisme yang bersifat racun sehingga mempengaruhi kinerja sel dan menurunkan hasil metabolisme secara bertahap yang ujungnya sangat mempengaruhi penurunan kualitas fotosintesis. Atau mungkin tiba masanya daun kekurangan komponen nitrogen atau bahkan bisa saja kehilangan fosfor sebagai penyusun fosfolid yang erat kaitannya dalam pembentukan penguatan membrane sel.  Ketika itu semua terjadi, daun akan menguning, mati, lantas gugur menuju pada posisi paling bawah, tanah.

Saat daun telah jatuh dan gugur, apakah takdirnya memang cukup sampai disini? Jawabannya tidak. Masih ingat kah saat guru IPA sekolah dasar mengajarkan mengenai humus? Tanah dengan ramah akan menyambut daun yang katanya telah pupus harapan untuk kembali bertengger pada pohon indah yang telah menjadi tumpuannya selama ini. Atas sinergi yang baik antara daun dengan tanah, hasil yang menakjubkan siap tercipta dengan segala manfaatnya. Proses pesinergian ini menunggu tuntasnya pelapukan daun secara alami, bahkan  kadangkala  kehancuran daun kering juga di percepat oleh injakan-injakan sepatu terhormat yang melintas tanpa permisi. Dengan demikian lapukan akan segera terproses. Kepingan-kepingan daun hancur ini akan mengalami perombakan oleh organisme dalam tanah, kemudian terciptalah humus, tanah yang sangat subur. Kemudian apa manfaatnya? apa fungsinya? dan apa pula hubungannya dengan kehidupan? Jawabannya adalah konsep balas budi. Kenapa saya katakana demikian? Karena daun gugur itu kini berperan untuk menjaga kestabilan pohon untuk terus kokoh berdiri pada tanah yang subur, dia menguatkan akar-akar pohon itu. Dia menjalankan perannya dengan baik, sangat baik.

Begitu juga dalam hidup, jangan pernah takut atas kegagalan, jangan pernah  takut jatuh dari suatu kondisi yang nyaman. Sekali lagi, jangan takut ! kegagalan dan keberhasilan itu jaraknya tipis, sangat tipis. Jatuh dan gagal itu hanya sebuah ritme, semua orang sukses pernah mengalami, semua sama. Namun yang membedakan adalah maukah kita bersinergi dengan keadaan untuk bangkit dan menciptakan perubahan baru atau melanjutkkan perjuangan yang belum usai. Jika enggan, silahkan saja tinggalkan arena pertandingan dan kubur dalam-dalam cita-cita konyol itu. Kemudian untuk point terinjak-injak ini, sebagaimana paragraph sebelumnya, apabila kita berada dalam kondisi terinjak-injak oleh ujaran orang-orang sekitar yang mengucur menghujani perjuangan kita, jangan sedih. Namun, jadikanlah sebagai lecutan paling dahsyat untuk mendobrak dirimu agar lekas bangkit dan berupaya lebih keras dari sebelumnya. Belajarlah pada daun kering, injakan sepatu-sepatu terhormat itu tidak membuatnya terpuruk, namun justru dijadikannya sebagai dorongan bermakna yang mampu mempercepat proses penghancuran fisik yang membawanya lekas beresinergi dengan tanah untuk segera memulai tahap baru yang  lebih luar biasa.

Sari pati atas pesan moral daun gugur ini, memang setelah gugur, daun tidak lagi mampu kembali ke puncak pohon, namun perannya lebih terhormat, dia berperan menopang keberlangsungan hidup pohonnya serta daun-daun yang lain. Kini, dia tidak lagi bertumpu, namun menumpu. Dalam hidup, meskipun kita sudah berjuang dengan keras, bisa saja yang kita impikan pada ujungnya tidak terwujud. Iya, bisa saja demikian, namun Tuhan tidak akan diam, Tuhan telah mempersiapkan dan akan segera mempersembahkan padamu hal yang lebih besar dan lebih menakjubkan dari apa yang kamu minta. Percayalah.

Seperti itulah hidup, alam semesta begitu indah menyajikan jawaban-jawaban atas kondisi yang kita alami. Pintar-pintarlah membaca kode alam dan selamilah setiap bab yang tersaji pada diktat semesta.
Selamat malam :)




Yogyakarta, 05 Mei 2019




Read more...

Garuda untuk PPWNI-Malaysia

Garuda untuk PPWNI-Malaysia Tepat 399 hari lalu, pertama kali saya menginjakkan kaki di sebuah pemukiman yang mayoritas adalah s...

 
Setapak Arina © 2019