Banner 468 x 60px

 

Pesolek Wacana

0 komentar

Pesolek Wacana

Sumber: Freepik


Dulu, sekitar tahun 2009 atau 2010 saya pernah mendengar saudara saya memotivasi salah satu sepupu untuk menuliskan cita-citanya di atas selembar kertas, agar kian terbaca, terupaya, dan lekas terlaksana karena ingatan manusia tak seberapa. Kemudian ustadz saya diwaktu kecil juga pernah menyampaikan, dikala berdoa kita sertakan saja waktu konkrit yang kita mau, katanya agar Tuhan tidak bingung kapan doa kita hendak dikabulkan. Dua contoh kecil ini jika sedikit ditelisik pada dasarnya tengah mengajarkan pada saya mengenai bangunan perencanaan yang konkrit. Sedikit saya kupas, penulisan cita-cita pada kertas akan melahirkan perencanaan yang indah ketika bertemu dengan keinginan yang terlantun dalam doa lengkap dengan kisaran waktu yang diharapkan. Analisis sederhana ini kemudian membawa saya pula pada pertemuan maya semacam seminar motivasi berbasis online yang mana  pemateri menanamkan kepada peserta agar tidak segan-segan menulis perencanaan cita-cita lengkap dengan waktu spesifiknya. Hal ini bertujuan agar langkah semakin tertata dan jiwa selalu berjalan pada arah yang sudah ditetapkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Seiring berjalannya waktu saya semakin belajar bahwa penulisan perencanaan secara konkrit pada hidup manusia secara pribadi memang penting, bahkan pada kehidupan sebuah negara sekalipun, sebut saja RPJPN dan RPJMN. RPJPN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional) yang merupakan sebuah dokumen perencanaan pembangunan nasional dalam periode 20 tahun. Sedangkan RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) yang merupakan dokumen perencanaan untuk periode 5 tahun. Perencanaan-perencanaan tersebut tidak lain tidak bukan adalah bentuk kesatuan tata cara perencanaan pembangunan yang menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam negara pada kurun waktu yang sudah ditentukan. Maka dari sana pula lah saya belajar mengenai pentingnya perencanaan konkrit agar langkah kaki tidak keluar dari koridor haluan untuk mencapai apa yang diidamkan.
***
Saya ingin sedikit berkisah tentang penyampaian hasil ramalan atau semacam pandangan salah satu teman kepada saya. Kawan saya ini anak kedokteran yang kabarnya pernah koas di Korea, belajar psikologi, serta belajar kira-kira 5 bahasa, cukup canggih menurut saya. Kata orang, tebakannya kian benar, kadang dengan satu kali pandang dia bisa paham tentang pribadi seseorang, bahkan terkadang tentang silsilah keluarga juga berhasil ditebaknya. Entah teori ataupun mantra apa yang digunakan untuk aksi tebak-menebak tersebut. Jadi, saat itu dia mengatakan bahwa saya adalah orang yang suka berencana akan tetapi sering kali meleset atau semacam apa yang saya lakukan agaknya tidak sesuai dengan rencana yang sudah disusun sebelumnya. Lalu dia mengarahkan agar lain kali bisa lebih konsisten pada garis yang sudah saya goreskan sendiri. Saya hanya diam, sesekali melempar senyum simpul yang kurang berkenan. Dalam hati saya bicara, dia gagal menebak saya sepenuhnya. Mungkin untuk poin beberapa kali tidak sesuai dengan garis perencanaan mungkin benar, akan tetapi jika saya dikata tidak konsisten saya kurang berkenan. Bahkan dengan segenap keyakinan, saya masih mempercayai penuh bahwa beberapa langkah yang tidak sesuai dengan garis perencanaan tersebut adalah bukti konsistensi besar saya terhadap tujuan utama. Karena menurut saya, ketidaksesuaian langkah bukan berarti secara mentah-mentah menjadi pemutus perencanaan, akan tetapi perbaikan dan pematangan perencanaan itu sendiri.

Mari sedikit saya tunjukan dengan elaborasi dua paragraph dari tulisan salah satu Dosen Universitas Negeri Padang yang pernah berjuang menaklukan perencanaan untuk menggapai University of Manchester, sapa saja Bapak Dedi Supendra. 
“Apakah yang kita lakukan kemarin sudah benar adanya? Kita berencana; membuat peta perjalanan yang maha panjang; membangun kepercayaan diri dari kemungkinan-kemungkinan yang masih mengawang di udara. Besok ia tegar. Lusa ia runtuh lagi. Di satu sisi, ia begitu rapuh. Di sisi lain, ia bagai karang; tak tergoyahkan.

Apakah kita sudah berada di jalur yang sesuai dengan rencana Tuhan? Kita ingin ini-ingin itu dan larut dalam euforia yang tak berkeujungan seolah semua itu terasa dekat, seperti seujung kuku, bagai di tepi bibir. Tapi, apakah itu yang benar-benar kita butuhkan? Apakah memang seperti itu? Tidakkah daftar panjang keinginan itu terlalu prematur dan dipaksakan? Atau kita seharusnya menghabiskan lebih banyak waktu untuk merenung dan merencanakan kembali apa yang hati kita perlukan tanpa embel-embel begini dan begitu? Apakah kalian pernah merasakan keraguan dan kecemasan serupa? Atau hanya saya saja?”

Saya cukup sepakat dengan pola pikir yang saya tangkap dari tulisan Bapak Dedi Supendra. Perencanaan maha panjang akan sangat prematur jika dipaksakan tanpa bekal yang pas atau cukup. Poin pas dan cukup ini bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda namun satu kesatuan. Maksudnya adalah apabila bekal kita secara quality sudah terpenuhi akan tetapi secara quantity masih dirasa belum, maka akan terkesan prematur dan dipaksakan, bahkan pincang. Sehingga hasilnya tidak akan semanis sebagaimana yang diharapkan. 

Perihal ini, akan saya coba jabarkan kembali dengan magic words yang selalu digaungkan oleh salah satu tutor saya, Mr. Harrry, yaitu 'Berdamai dengan Diri Sendiri'. Beliau sering sekali berpesan kepada kami untuk tidak terburu-buru memaksakan kehendak. Ada baiknya bahkan sangat baik sekali jika menurunkan ego dan berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu. Maksudnya begini, akan lebih elok jika kita mematangkan terlebih dahulu bekal untuk mencapai tujuan yang sudah kita rencakan baik dari segi quality maupun quantity. Meskipun ujungnya kita akan merubah sedikit alur perencanaan sebelumnya dan menunda  atau mengganti dengan perencanaan lain. Percayalah, bahwa tindakan ini bukanlah tindakan buruk bukan pula tindakan terkutuk. Percayalah pula bahwa  keputusan dan tindakan ini bertujuan untuk mengupayakan perencanaan menjadi lebih baik yang  tidak akan melukai tujuan akhir. Namun sebaliknya, apabila kita tetap kekeuh dalam  pemaksaan kehendak pada perencanaan dan menolak sebuah perbaikan justru akan menciderai impian pencapaian itu sendiri.

Hidup itu berjalan, setiap langkah kaki beriringan dengan perputaran waktu yang akan selalu mengantarkan kita pada perjumpaan dengan hal-hal baru atau orang-orang baru.  Perihal orang-orang baru, mungkin saja apa yang sudah mereka capai adalah apa  yang kita citakan. Sehingga, tidak salah  jika kita menjadikan mereka sebagai role model baru yang mana kemudian kita telisiklah apa saja yang sudah dilakukan mereka sebelum meraih citanya. Bersumber dari hal-hal inilah kita belajar dan mampu menilai apakah yang kita lakukan sebelumnya sudah  sangat cukup dan  apakah perencanaan yang sudah kita goreskan sudah  sempurna? Jika belum, maka perbaikilah, jangan risau pada judgment rencana menjadi wacana, jangan ragu pada perubahan pula perbaikan. Banggalah menjadi pesolek wacana, dimana pesolek itu menandakan bahwa seseorang tersebut akan terus memperbaiki dan mempercantik rencananya maupun wacananya agar dapat mencapai kesempurnaan pencapaian impiannya.






Selamat bergulat dengan hari Senin ... :)

Yogyakarta, 08 April 2019

0 komentar:

Posting Komentar

Garuda untuk PPWNI-Malaysia

Garuda untuk PPWNI-Malaysia Tepat 399 hari lalu, pertama kali saya menginjakkan kaki di sebuah pemukiman yang mayoritas adalah s...

 
Setapak Arina © 2019