Indonesia, Bumi Upeti
Oleh : arina widda faradis
Tuhan, ku
yakin Kau pasti mendengarku
Ku ingin membuncah
mengadu …
Bantaran
permadani yang luas nan hijau
Tarian ombak
indah yang biru
Pula kicauan
burung yang merayu
Kini tak
lagi ku temui
Tuhan
lihatlah,
Mereka
mengkebiri pepohonan
Mereka meluluhlantakkan
lautan
Mereka pula
yang memangkas habis pegunungan
Tuhan .. langit
Nusantara sempat berbisik,
Luhurku
adalah pelaut Khatulistiwa
Dihantarkannya
kabar suka dikala bersandar
Tentang lentingnya
ombak laut yang merona
Terbalut
dengan eloknya terumbu karang liar
Jua dengan liuk-liuk
sejuta ikan berpora-ria
Tapi Tuhan,
indahnya kabar itu tak mampu kudapati hari ini
Tegakah
kabar itu hanya sepucuk bualan ??
Oh Tuhan, aku
ingin berkisah pada-Mu
Sempat terkenang
di masa lalu,
Kugoreskan
tinta penaku pada rerumputan dan langit biru
Terhiasi gunung-gunung
yang menjuntai tinggi
Jua dengan
keagungan matahari yang bersembunyi
Dan kala ku
tanyakan pada guruku,
Tuturnya
cerminkan indahnya jagad ini
Namun
kembali kuragu
Karna
kenyataan yang tak kudapati
Tuhan, Kau
pasti melihat kolong-kolong yang menadah pada langit
Kolong-kolong
yang meringkik lirih dalam heningnya malam yang terhimpit
Kolong-kolong
yang sepi nan tak berpenghuni
Penambang
yang keji, telah lancang melucuti
Tuhan,
Lihatlah
tangan rakus itu
Tangan yang
penuh ego itu
Tangan itu
picik Tuhan …
Tangan itu
tak perdulikan umat-Mu
Tangan-tangan
itulah yang berhalakan keagungan-Mu
Tangan-tangan
nafsu upeti tanpa harga diri
Dan yang
perlu Kau pahami ..
Wakilmu di
tanah ini,
Tak selalu memihak
kami
Indonesia,
Bumi Upeti


