Banner 468 x 60px

 

Bus Malam: Sumber Pembelajaran

0 komentar

Bus Malam: Sumber Pembelajaran


Sumber: DuniaBis.com

Alam dan seisinya memang diciptakan sebagai sumber kehidupan dan pembelajaran bagi manusia. Segala jawaban atas pertanyaan maupun solusi dari permasalahan, pada dasarnya telah disajikan oleh semesta dan segala  yang terdapat di dalamnya. Tergantung bagaimana manusia mampu menemukan, mempelajari, dan mengaplikasikan dalam hidupnya. Saat melihat semesta, kemudian masuk dalam  proses dan perjalanan manusia, saya menemukan titik indah yang mewakili segala lembar kehidupan. Orang memanggilnya “bus malam”. Mungkin sebagian orang cukup ter-kekeh-kekeh mendengar representative kehidupan yang saya pilih, namun saya akan tunjukan realitanya.

Sebelumnya, saya akan sedikit memperkenalkan terlebih dahulu perihal  kedekatan saya dengan bus malam. Pertama kali saya memutuskan untuk menggunakan moda transportasi tersebut  (non-pariwisata) yaitu pada 2016 silam. Saat itu saya masih berada dalam masa pembelajaran di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur.  Di pertengahan periode, saya mendapat pemberitahuan bahwa saya lolos seleksi berkas beasiswa Djarum dan diwajibkan untuk mengikuti tes tertulis di Yogyakarta. Masih jelas dalam ingatan bahwa tes tersebut dilaksanakan pada hari Minggu yang mana pengumuman akan disampaikan dihari itu juga. Singkat kata singkat cerita, saya dinyatakan gugur dan tidak bisa mengikuti tahap seleksi selanjutnya. Mengingat pada hari senin keesokan harinya saya memiliki jadwal  kelas dari  pagi, maka mau tidak mau saya harus segera kembali ke Pare dan harus berangkat pada hari itu juga. Setelah dipikirkan, satu-satunya transportasi yang memiliki jadwal sangat kondisional serta paling ekonomis hanya bus saja dan waktu yang tersisa hanya malam hari.

Disinilah pembelajaran hidup yang saya temukan, dimulai. 

Sebagai contoh pembuka, saya memiliki tujuan yang mana kemudian saya jumpa pula dengan  sebuah pilihan lengkap dengan segala resikonya untuk mencapai tujuan tersebut. Jika saya lebih mengedepankan ketakutan dan  keraguan, maka saya akan terlambat atau bahkan kehilangan pencapaian maupun tujuan yang saya inginkan. Saat itu saya memang belum pernah menaiki kendaraan umum malam hari seorang diri, utamanya bus besar. Segala info saya kumpulakan, mulai dari kondisi keamanan dalam perjalanan, pula sampai pada kondisi terminal. Banyak yang menyarankan untuk tidak pergi dan lebih baik menunggu esok pagi dengan moda transportasi lain. Namun jika demikian kondisinya, saya akan kehilangan 7 kelas di hari senin dan saya akan sangat merugi. Akhirnya perasaan dikalahkan oleh akal pikiran untuk  memenangkan kendali keputusan sehingga saya memberanikan diri untuk berangkat malam itu juga. Dalam hal ini saya mengingat prinsip yang dipegang teguh oleh Fenrir dalam  Mitologi Nordik yang menyatakan bahwa tidak ada kejayaan yang ditempuh tanpa menyinggung keberbahayaan.

Berbekal catatan ayat kursi dari sahabat saya, Raden Ridwan Fahrudin, saya memulai perjalanan dengan penumpang kira-kira dibawah 10 orang, sangat sedikit untuk ukuran bus antar provinsi. Sepanjang perjalanan saya hanya bergumam membaca catatan dan mengabaikan tidur malam. Saat di Solo, saya pun sempat mendengar teriakan supir bus yang mengabarkan bahwa ada seorang copet yang sedang beroperasi. Cukup gemetar merasakan adrenalin kehidupan bus malam yang menjadi tantangan setiap penumpang. Saat itu, saya tidak paham prediksi waktu yang tepat, sehingga saya sampai di Jombang terlalu dini yaitu sekitar pukul 03.00 pagi dimana terminal pun masih sangat gelap dan sangat-sangat rawan apabila saya turun disana. Selain itu, belum ada kendaraan yang beroperasi untuk tujuan Pare. Sehingga, bus menurunkan saya di pos dinas perhubungan lengkap dengan pangkalan ojek di sebelahnya. Saat itu, tidak ada perempuan satupun dan kondisi kota masih sangat sepi. Saya berdiri tepat ditengah orang-orang asing yang cukup wajar  jika pikiran saya menjadi liar dalam ketakutan. Sepanjang penantian menunggu fajar, saya hanya terdiam dalam doa. Kemudian atas lindungan-Nya, akhirnya saya dapat sampai di Pare sekitar pukul 07.00 pagi dan tetap dapat mengikuti proses belajar sebagaimana yang saya inginkan. Inilah sepenggal perjalanan kecil dalam pilihan yang saya klaim sebagai pengaplikasian prinsip Fenrir.

Ada beberapa point analogi hidup yang benar-benar saya temukan pada bus malam. Pertama, ukuran lama penantian itu tidak menjamin seseorang akan mendapatkan posisi yang diinginkan lebih dahulu daripada orang lain yang penantiannya tak selama penantian kita. Adakalanya durasi penantian dikalahkan oleh besarnya langkah seseorang untuk bergerak maju. Contoh, saat itu saya sedang menunggu bus jurusan Jogja di terminal Surabaya dengan durasi yang cukup lama. Namun demikian, saat bus tiba saya tetap tidak bisa masuk karena jumlah calon penumpang yang cukup banyak dan saya belum lihai atas soft skill membaca ritme pergerakan yang seharusnya dimiliki calon penumpang handal (saya kurang gesit dalam merebutkan pintu).  Dalam kehidupan, selama apapun alokasi waktu yang dicurahkan oleh seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkan, akan kalah dengan orang lain yang memiliki pengupayaan yang lebih besar atau metode yang lebih tepat. Itulah yang disebut dengan keseriusan kerja keras yang terkalahkan oleh kecermatan kerja cerdas. Ingat, apa yang kita pikirkan, sangat berpotensi untuk dipikirkan oleh orang lain, pula apa yang kita idamkan, sangat berpotensi juga diidamkan oleh orang lain. Maka, lengkapi penantianmu dengan upaya besarmu agar kamu tidak menjadi golongan yang tertinggal.

Kedua, kita tidak pernah bisa memilih akan duduk berdampingan dengan siapa selama perjalanan menuju akhir pemberhentian atau lokasi tujuan. Jelas, kita tidak bisa meminta pada supir atau pada kernet bus agar yang duduk disamping kita adalah penumpang dengan kriteria yang kita inginkan. Sehingga, kita harus tetap menerima, menjalani, dan menyesuaikan diri. Misal, saya sangat benci balsam atau minyak angin lainnya selain kayu putih. Dari kecil saya tidak pernah mau untuk mendekati  barang-barang tersebut, apalagi memakainya. Akan tetapi, saat saya duduk sebagai penumpang, sangat tidak etis dan sangat tidak mungkin jika saya menyuruh penumpang dengan kriteria penyuka barang-barang tersebut untuk menjauh dari saya. Sebagai penumpang saya harus professional, menerima, dan beradaptasi minimal sampai waktunya tiba untuk turun. Sebenarnya, penumpang bisa saja memilih akan sebangku dengan siapa atau orang yang seperti apa, namun ketika pilihan, kesempatan serta jalannya memang ada. Misalnya, duduk dibangku kosong sebelah perempuan cantik atau pria tampan, namun tetap dengan catatan bahwa kesempatan dan jalannya memang ada.

Point tersebut, saya analogikan dengan takdir jodoh seseorang untuk berdampingan dengan siapa atau seperti apa saat waktunya tiba. Saya memaknai hal ini pada point jodoh yang sudah digariskan. Kita tidak pernah tau, dengan siapa dan kriteria macam apa jodoh yang akan dikirimkan oleh Tuhan untuk kita. Perihal faktor-faktor yang tidak kita sukai namun kita temukan pada dirinya, apabila sudah digariskan berjodoh maka kita tidak ada wewenang untuk merevisi garis itu. Tentu penerimaan dan penyesuaian menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan ketentraman selama hidup berdampingan. Saat kita bicara bahwa jodoh yang bersama kita adalah murni pilihan kita, pada dasarnya bukan real tangan kita yang bebas menentukan melainkan kesempatan dan jalannya memang disediakan dan diarahkan oleh Tuhan untuk kesana, untuk memilih itu. Sekali lagi, bukan tangan manusia yang murni bebas memilih, akan tetapi wujud kebebasan itu memang diarahkan pada bentuk pilihan yang telah siapkan.

Ketiga, durasi perjalanan menggunakan bus malam berpotensi lebih cepat dibanding bus lain yang beroperasi saat pagi maupun siang. Karena, pengguna jalan saat malam hari cenderung lebih sedikit, sehingga para supir bus malam selalu menaikan kecepatan saat berkendara. Perjalanan malam hari, 85% dihabiskan oleh penumpang untuk tenggelam dalam lelapnya tidur. Saya pernah merasakan, saat saya duduk di bangku paling belakang ujung kanan, di tengah kenyamanan bunga-bunga mimpi yang mulai  singgah, saya hampir tersungkur karena supir rem mendadak atau mungkin tidak menghindari jalan yang berlubang. Dalam keadaan lelap yang menenangkan, saya memang tidak berpegangan pada besi sebelah kanan yang telah disediakan, sehingga ketika terjadi guncangan yang tidak terduga saya tidak mampu untuk stay on my position.  Penjabaran dalam hidup, saat kita sudah merasa nyaman, aman, dan sejahtera pada suatu posisi tertentu, kadang kala kita lupa pada satu tiang yang seharusnya selalu kita pegang teguh, ucap saja iman. Setinggi apapun, senyaman apapun, sebesar apapun posisi kita, jika kita hilang iman, hilang pegangan, maka dengan sangat mudah kita akan jatuh dan lepas dari kejayaan yang dimiliki sebelumnya.

Analogi kehidupan lain sebenarnya masih  sangat banyak saya temukan disana, akan tetapi pembahasan selanjutnya akan saya singgung mengenai pembelajaran. Pertama, pada pukul berapapun bus yang saya tumpangi singgah di terminal, saya selalu mendapati para pedagang asongan menanggalkan tidur malamnya untuk menjajakan dagangannya. Sering pula saya dapati dagangan yang masih penuh yang menandakan sepi pembeli. Tidak jarang pula mereka masuk dalam bus kemudian membagi-bagikan dagangannya dipangkuan para penumpang dari depan hingga belakang dengan harapan ada yang tertarik kemudian berniat untuk membeli. Contohnya pedagang buku, seperti buku resep masakan, bacaan sholat, dan buku-buku klasik lainnya yang mulai lusuh dimakan waktu. Mirisnya, saya tidak pernah mendapati pemandangan penjulan buku dengan metode seperti ini menarik minat pembeli, alias tidak laku. Saya melihat pula saat bus berhenti, segerombolan insan menghampiri pintu belakang juga pintu depan. Benar .. mereka adalah ojek pengkolan dan penarik becak yang tiada lelah untuk berusaha meskipun hasilnya selalu sama. Persis, saya mendapati kenyataan bahwa para penumpang yang turun, pergi begitu saja meninggalkan mereka kemudian lebih memilih Transportasi Berbasis Online (TBO). 

Saya merasa sedih dititik ini, dimana zaman semakin berkembang, tekhnologi semakin meradang, namun masih banyak sekali lapisan masyarakat yang tertinggal, tergerus pada ketidakpahamannya yang semakin mencekik kehidupannya melalui mata pencahariannya. Bagaimana tidak, ketika pedagang lain dengan mudah menjajakan daganganya atas bantuan marketplace yang tengah marak saat ini, namun mereka masih berjibaku dengan mekanisme penjualan tradisional tanpa inovasi maupun pemikiran atas segmen pasarnya. Pula disisi lain, muncul persaingan ketat antara TBO dengan Transportasi Konvensional. Lagi-lagi pengaruh tekhnologi yang semakin menjalar, masyarakat mulai beralih pada TBO dengan berbagai pertimbangan seperti efisiensi serta  tarif yang cenderung lebih ekonomis. Saat saya termangu di pos dinas perhubungan Jombang, telinga ini dengan jelas mendengar keluhan-keluhan para ojek konvensional yang mengalami kegelisahan atas persaingan yang kian menyudutkan. Mereka  khawatir atas perkembangan ini yang mengancam profesinya seraya berkelakar, “kalau begini terus, lama-lama dapur rumah tidak mengepul”.

Saya tidak berdiri dipihak manapun, namun hati saya turut larut dalam kesedihan mereka, apalagi banyak sekali diantara mereka yang berusia senja dan seharusnya sudah tidak perlu memikirkan takdir dapur. Akan tetapi mereka masih terus menunggu dan mencari rejeki untuk kelangsungan hidupnya serta keluarganya. Perihal kesehatannya, seperti tidak lagi menjadi priority. Lantas saya berfikir, andai saya punya kendali di negeri ini !

Selain dari mereka, saya pun mendapat  pembelajaran dari para musisi jalanan yang eksistensinya di mata dunia sudah diakui sejak zaman neolitikum. Terdapat bermacam-macam tipe pengamen yang saya dapati disana. Bahkan tidak jarang saya menjumpai musisi-musisi yang mohon maaf memiliki permasalahan pada salah satu inderanya, seperti tunanetra. Mereka benar-benar mampu menampar saya. Bagaimana tidak, dengan kondisi yang sedemikian rupa mereka tidak menyerah, tidak bergantung pada orang lain, dan mereka tetap gigih untuk mengais rupiah dengan tangannya sendiri. Menurut saya, mengamen  di bus bukan perkara mudah karena harus naik-turun pintu dengan keterbatasan penglihatan seraya membawa alat musik atau sound sendiri. Belum lagi harus berputar untuk meminta keikhlasan rupiah penumpang dari ujung depan hingga belakang yang sebenarnya belum tentu diberikan. Namun point nya adalah apapun kondisinya, mereka tidak pernah menyerah. Malu rasanya diri ini, hidup  penuh keluh padahal telah dikarunia organ serta fungsi yang utuh.

Sebenarnya masih banyak sekali pembelajaran yang saya dapatkan melalui transportasi ini, akan tetapi saya rasa tidak efektif untuk menuangkan dalam satu guratan saja. Sebagai tambahan, selain alasan sumber pembelajaran, saya sangat menyukainya karena saat duduk dibawah lampu yang redup, lalu hujan mulai turun membasahi kaca-kaca jendela, di saat itulah pikiran mulai terbuka, inspirasi mulai nyata, serta point-point evaluasi pada diri sangat mudah saya olah di kepala. Saya merasa sangat  syahdu disana, itulah lokasi ternyaman di tengah keberbahayaan yang pernah saya temui. Lokasi yang seharusnya penuh dengan kehati-hatian, namun saya merasa sangat tenang dalam pikiran.

Esok atau lusa akan saya tunjukan padamu, rasakan syahdunya dan berbincanglah dari hati ke hati kepada kaca-kaca jendela yang elok dan menenangkan. Adukan padanya, temukan jawabannya, dan simpan dalam hatimu.

Titip salam untuk Mira dan Sugeng Rahayu. Selamat malam :)

0 komentar:

Posting Komentar

Garuda untuk PPWNI-Malaysia

Garuda untuk PPWNI-Malaysia Tepat 399 hari lalu, pertama kali saya menginjakkan kaki di sebuah pemukiman yang mayoritas adalah s...

 
Setapak Arina © 2019