Bus Malam: Sumber Pembelajaran
Sumber: DuniaBis.com
Alam dan seisinya memang diciptakan sebagai sumber kehidupan
dan pembelajaran bagi manusia. Segala jawaban atas pertanyaan maupun solusi
dari permasalahan, pada dasarnya telah disajikan oleh semesta dan segala yang terdapat di dalamnya. Tergantung
bagaimana manusia mampu menemukan, mempelajari, dan mengaplikasikan dalam hidupnya.
Saat melihat semesta, kemudian masuk dalam
proses dan perjalanan manusia, saya menemukan titik indah yang mewakili segala
lembar kehidupan. Orang memanggilnya “bus malam”. Mungkin sebagian orang cukup
ter-kekeh-kekeh mendengar representative kehidupan yang saya
pilih, namun saya akan tunjukan realitanya.
Sebelumnya, saya akan sedikit memperkenalkan terlebih dahulu perihal kedekatan saya dengan bus malam. Pertama kali
saya memutuskan untuk menggunakan moda transportasi tersebut (non-pariwisata) yaitu pada 2016 silam. Saat
itu saya masih berada dalam masa pembelajaran di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur. Di pertengahan periode, saya mendapat pemberitahuan
bahwa saya lolos seleksi berkas beasiswa Djarum dan diwajibkan untuk mengikuti
tes tertulis di Yogyakarta. Masih jelas dalam ingatan bahwa tes tersebut
dilaksanakan pada hari Minggu yang mana pengumuman akan disampaikan dihari itu juga.
Singkat kata singkat cerita, saya dinyatakan gugur dan tidak bisa mengikuti
tahap seleksi selanjutnya. Mengingat pada hari senin keesokan harinya saya
memiliki jadwal kelas dari pagi, maka mau tidak mau saya harus segera kembali
ke Pare dan harus berangkat pada hari itu juga. Setelah dipikirkan, satu-satunya
transportasi yang memiliki jadwal sangat kondisional serta paling ekonomis hanya
bus saja dan waktu yang tersisa hanya malam hari.
Disinilah pembelajaran hidup yang saya temukan, dimulai.
Sebagai contoh pembuka, saya memiliki tujuan yang mana
kemudian saya jumpa pula dengan sebuah pilihan
lengkap dengan segala resikonya untuk mencapai tujuan tersebut. Jika saya lebih
mengedepankan ketakutan dan keraguan, maka
saya akan terlambat atau bahkan kehilangan pencapaian maupun tujuan yang saya
inginkan. Saat itu saya memang belum pernah menaiki kendaraan umum malam hari
seorang diri, utamanya bus besar. Segala info saya kumpulakan, mulai dari
kondisi keamanan dalam perjalanan, pula sampai pada kondisi terminal. Banyak
yang menyarankan untuk tidak pergi dan lebih baik menunggu esok pagi dengan
moda transportasi lain. Namun jika demikian kondisinya, saya akan kehilangan 7 kelas
di hari senin dan saya akan sangat merugi. Akhirnya perasaan dikalahkan oleh
akal pikiran untuk memenangkan kendali
keputusan sehingga saya memberanikan diri untuk berangkat malam itu juga. Dalam
hal ini saya mengingat prinsip yang dipegang teguh oleh Fenrir dalam Mitologi Nordik yang menyatakan bahwa tidak
ada kejayaan yang ditempuh tanpa menyinggung keberbahayaan.
Berbekal catatan ayat kursi dari sahabat saya, Raden Ridwan
Fahrudin, saya memulai perjalanan dengan penumpang kira-kira dibawah 10 orang,
sangat sedikit untuk ukuran bus antar provinsi. Sepanjang perjalanan saya hanya
bergumam membaca catatan dan mengabaikan tidur malam. Saat di Solo, saya pun
sempat mendengar teriakan supir bus yang mengabarkan bahwa ada seorang copet
yang sedang beroperasi. Cukup gemetar merasakan adrenalin kehidupan bus malam
yang menjadi tantangan setiap penumpang. Saat itu, saya tidak paham prediksi
waktu yang tepat, sehingga saya sampai di Jombang terlalu dini yaitu sekitar
pukul 03.00 pagi dimana terminal pun masih sangat gelap dan sangat-sangat rawan
apabila saya turun disana. Selain itu, belum ada kendaraan yang beroperasi
untuk tujuan Pare. Sehingga, bus menurunkan saya di pos dinas perhubungan
lengkap dengan pangkalan ojek di sebelahnya. Saat itu, tidak ada perempuan
satupun dan kondisi kota masih sangat sepi. Saya berdiri tepat ditengah
orang-orang asing yang cukup wajar jika
pikiran saya menjadi liar dalam ketakutan. Sepanjang penantian menunggu fajar,
saya hanya terdiam dalam doa. Kemudian atas lindungan-Nya, akhirnya saya dapat
sampai di Pare sekitar pukul 07.00 pagi dan tetap dapat mengikuti proses belajar
sebagaimana yang saya inginkan. Inilah sepenggal perjalanan kecil dalam pilihan
yang saya klaim sebagai pengaplikasian prinsip Fenrir.
Ada beberapa point analogi hidup yang benar-benar saya
temukan pada bus malam. Pertama, ukuran lama penantian itu tidak
menjamin seseorang akan mendapatkan posisi yang diinginkan lebih dahulu
daripada orang lain yang penantiannya tak selama penantian kita. Adakalanya
durasi penantian dikalahkan oleh besarnya langkah seseorang untuk bergerak
maju. Contoh, saat itu saya sedang menunggu bus jurusan Jogja di terminal
Surabaya dengan durasi yang cukup lama. Namun demikian, saat bus tiba saya
tetap tidak bisa masuk karena jumlah calon penumpang yang cukup banyak dan saya
belum lihai atas soft skill membaca ritme pergerakan yang seharusnya
dimiliki calon penumpang handal (saya kurang gesit dalam merebutkan pintu). Dalam kehidupan, selama apapun alokasi waktu
yang dicurahkan oleh seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkan, akan
kalah dengan orang lain yang memiliki pengupayaan yang lebih besar atau metode
yang lebih tepat. Itulah yang disebut dengan keseriusan kerja keras yang
terkalahkan oleh kecermatan kerja cerdas. Ingat, apa yang kita pikirkan, sangat
berpotensi untuk dipikirkan oleh orang lain, pula apa yang kita idamkan, sangat
berpotensi juga diidamkan oleh orang lain. Maka, lengkapi penantianmu dengan
upaya besarmu agar kamu tidak menjadi golongan yang tertinggal.
Kedua, kita tidak pernah bisa memilih akan duduk
berdampingan dengan siapa selama perjalanan menuju akhir pemberhentian atau
lokasi tujuan. Jelas, kita tidak bisa meminta pada supir atau pada kernet bus
agar yang duduk disamping kita adalah penumpang dengan kriteria yang kita
inginkan. Sehingga, kita harus tetap menerima, menjalani, dan menyesuaikan
diri. Misal, saya sangat benci balsam atau minyak angin lainnya selain kayu
putih. Dari kecil saya tidak pernah mau untuk mendekati barang-barang tersebut, apalagi memakainya.
Akan tetapi, saat saya duduk sebagai penumpang, sangat tidak etis dan sangat
tidak mungkin jika saya menyuruh penumpang dengan kriteria penyuka
barang-barang tersebut untuk menjauh dari saya. Sebagai penumpang saya harus
professional, menerima, dan beradaptasi minimal sampai waktunya tiba untuk
turun. Sebenarnya, penumpang bisa saja memilih akan sebangku dengan siapa atau
orang yang seperti apa, namun ketika pilihan, kesempatan serta jalannya memang ada.
Misalnya, duduk dibangku kosong sebelah perempuan cantik atau pria tampan,
namun tetap dengan catatan bahwa kesempatan dan jalannya memang ada.
Point tersebut, saya analogikan dengan takdir jodoh
seseorang untuk berdampingan dengan siapa atau seperti apa saat waktunya tiba.
Saya memaknai hal ini pada point jodoh yang sudah digariskan. Kita tidak pernah
tau, dengan siapa dan kriteria macam apa jodoh yang akan dikirimkan oleh Tuhan
untuk kita. Perihal faktor-faktor yang tidak kita sukai namun kita temukan pada
dirinya, apabila sudah digariskan berjodoh maka kita tidak ada wewenang untuk
merevisi garis itu. Tentu penerimaan dan penyesuaian menjadi jalan terbaik untuk
mendapatkan ketentraman selama hidup berdampingan. Saat kita bicara bahwa jodoh
yang bersama kita adalah murni pilihan kita, pada dasarnya bukan real
tangan kita yang bebas menentukan melainkan kesempatan dan jalannya memang
disediakan dan diarahkan oleh Tuhan untuk kesana, untuk memilih itu. Sekali
lagi, bukan tangan manusia yang murni bebas memilih, akan tetapi wujud
kebebasan itu memang diarahkan pada bentuk pilihan yang telah siapkan.
Ketiga, durasi perjalanan menggunakan bus malam
berpotensi lebih cepat dibanding bus lain yang beroperasi saat pagi maupun
siang. Karena, pengguna jalan saat malam hari cenderung lebih sedikit, sehingga
para supir bus malam selalu menaikan kecepatan saat berkendara. Perjalanan
malam hari, 85% dihabiskan oleh penumpang untuk tenggelam dalam lelapnya tidur.
Saya pernah merasakan, saat saya duduk di bangku paling belakang ujung kanan,
di tengah kenyamanan bunga-bunga mimpi yang mulai singgah, saya hampir tersungkur karena supir
rem mendadak atau mungkin tidak menghindari jalan yang berlubang. Dalam keadaan
lelap yang menenangkan, saya memang tidak berpegangan pada besi sebelah kanan
yang telah disediakan, sehingga ketika terjadi guncangan yang tidak terduga saya
tidak mampu untuk stay on my position.
Penjabaran dalam hidup, saat kita sudah merasa nyaman, aman, dan
sejahtera pada suatu posisi tertentu, kadang kala kita lupa pada satu tiang
yang seharusnya selalu kita pegang teguh, ucap saja iman. Setinggi apapun,
senyaman apapun, sebesar apapun posisi kita, jika kita hilang iman, hilang
pegangan, maka dengan sangat mudah kita akan jatuh dan lepas dari kejayaan yang
dimiliki sebelumnya.
Analogi kehidupan lain sebenarnya masih sangat banyak saya temukan disana, akan
tetapi pembahasan selanjutnya akan saya singgung mengenai pembelajaran. Pertama,
pada pukul berapapun bus yang saya tumpangi singgah di terminal, saya selalu
mendapati para pedagang asongan menanggalkan tidur malamnya untuk menjajakan
dagangannya. Sering pula saya dapati dagangan yang masih penuh yang menandakan
sepi pembeli. Tidak jarang pula mereka masuk dalam bus kemudian membagi-bagikan
dagangannya dipangkuan para penumpang dari depan hingga belakang dengan harapan
ada yang tertarik kemudian berniat untuk membeli. Contohnya pedagang buku,
seperti buku resep masakan, bacaan sholat, dan buku-buku klasik lainnya yang
mulai lusuh dimakan waktu. Mirisnya, saya tidak pernah mendapati pemandangan
penjulan buku dengan metode seperti ini menarik minat pembeli, alias tidak
laku. Saya melihat pula saat bus berhenti, segerombolan insan menghampiri pintu
belakang juga pintu depan. Benar .. mereka adalah ojek pengkolan dan penarik
becak yang tiada lelah untuk berusaha meskipun hasilnya selalu sama. Persis, saya mendapati kenyataan bahwa para penumpang yang turun, pergi
begitu saja meninggalkan mereka kemudian lebih memilih Transportasi Berbasis
Online (TBO).
Saya merasa sedih dititik ini, dimana zaman semakin
berkembang, tekhnologi semakin meradang, namun masih banyak sekali lapisan
masyarakat yang tertinggal, tergerus pada ketidakpahamannya yang semakin
mencekik kehidupannya melalui mata pencahariannya. Bagaimana tidak, ketika pedagang
lain dengan mudah menjajakan daganganya atas bantuan marketplace yang
tengah marak saat ini, namun mereka masih berjibaku dengan mekanisme penjualan
tradisional tanpa inovasi maupun pemikiran atas segmen pasarnya. Pula disisi
lain, muncul persaingan ketat antara TBO dengan Transportasi Konvensional.
Lagi-lagi pengaruh tekhnologi yang semakin menjalar, masyarakat mulai beralih
pada TBO dengan berbagai pertimbangan seperti efisiensi serta tarif yang cenderung lebih ekonomis. Saat
saya termangu di pos dinas perhubungan Jombang, telinga ini dengan jelas
mendengar keluhan-keluhan para ojek konvensional yang mengalami kegelisahan
atas persaingan yang kian menyudutkan. Mereka khawatir atas perkembangan ini yang mengancam
profesinya seraya berkelakar, “kalau begini terus, lama-lama dapur rumah tidak
mengepul”.
Saya tidak berdiri dipihak manapun, namun hati saya turut
larut dalam kesedihan mereka, apalagi banyak sekali diantara mereka yang berusia
senja dan seharusnya sudah tidak perlu memikirkan takdir dapur. Akan tetapi
mereka masih terus menunggu dan mencari rejeki untuk kelangsungan hidupnya
serta keluarganya. Perihal kesehatannya, seperti tidak lagi menjadi priority.
Lantas saya berfikir, andai saya punya kendali di negeri ini !
Selain dari mereka, saya pun mendapat pembelajaran dari para musisi jalanan yang
eksistensinya di mata dunia sudah diakui sejak zaman neolitikum. Terdapat
bermacam-macam tipe pengamen yang saya dapati disana. Bahkan tidak jarang saya menjumpai
musisi-musisi yang mohon maaf memiliki permasalahan pada salah satu inderanya,
seperti tunanetra. Mereka benar-benar mampu menampar saya. Bagaimana tidak,
dengan kondisi yang sedemikian rupa mereka tidak menyerah, tidak bergantung
pada orang lain, dan mereka tetap gigih untuk mengais rupiah dengan tangannya
sendiri. Menurut saya, mengamen di bus
bukan perkara mudah karena harus naik-turun pintu dengan keterbatasan
penglihatan seraya membawa alat musik atau sound sendiri. Belum lagi
harus berputar untuk meminta keikhlasan rupiah penumpang dari ujung depan
hingga belakang yang sebenarnya belum tentu diberikan. Namun point nya adalah apapun kondisinya, mereka tidak pernah
menyerah. Malu rasanya diri ini, hidup penuh keluh
padahal telah dikarunia organ serta fungsi yang utuh.
Sebenarnya masih banyak sekali pembelajaran yang saya
dapatkan melalui transportasi ini, akan tetapi saya rasa tidak efektif untuk
menuangkan dalam satu guratan saja. Sebagai tambahan, selain alasan sumber pembelajaran,
saya sangat menyukainya karena saat duduk dibawah lampu yang redup, lalu hujan
mulai turun membasahi kaca-kaca jendela, di saat itulah pikiran mulai terbuka,
inspirasi mulai nyata, serta point-point evaluasi pada diri sangat mudah saya
olah di kepala. Saya merasa sangat syahdu disana, itulah lokasi ternyaman di
tengah keberbahayaan yang pernah saya temui. Lokasi yang seharusnya penuh
dengan kehati-hatian, namun saya merasa sangat tenang dalam pikiran.
Esok atau lusa akan saya tunjukan padamu, rasakan syahdunya dan
berbincanglah dari hati ke hati kepada kaca-kaca jendela yang elok dan menenangkan.
Adukan padanya, temukan jawabannya, dan simpan dalam hatimu.
Titip salam untuk Mira dan Sugeng Rahayu. Selamat malam :)

0 komentar:
Posting Komentar