Konsep Pilihan,
Landasan Keputusan
Sumber: Mujahiddakwah.com
Hidup memang tidak selalu mudah dan tidak
selalu pula terlakasana dengan indah. Kadangkala
pada suatu waktu seseorang dapat dihujat dengan ujian yang bertubi-tubi,
adapula yang ditekan dengan kondisi sulit yang entah kapan ujungnya akan
berhenti. Dalam hidup, manusia juga tumbuh dengan sejuta prasangka. Dalam
perjalanannya, prasangka itulah yang kadang kala menggiring pada sikap
keterpasrahan atau keputusasaan pada pilihan kemudian dengan mudah menuduh dunia tidak adil padanya.
Saat manusia dihadapkan pada kondisi
sulit dan mencoba untuk tetap bertahan, banyak dari mereka bergumam, “yaa … mau
bagaimana lagi, mau tidak mau saya harus melakukan ini, bertahan disini,
seperti ini, dan saya tidak punya pilihan.” Kalimat ini sangat akrab sekali
terdengar di telinga sebagai keluhan orang-orang disekitar terhadap deraan yang
menempa hidupnya, apapun kondisinya. Menurut saya, kalimat yang terlanjur umum
ini sejatinya adalah nol, salah besar. Suatu tindakan apapun yang dilahirkan
atas suatu kondisi pada dasarnya adalah sebuah pilihan yang melahirkan keputusan
untuk dilakukan. Tidaklah benar ketika seseorang manusia mengatakan ’sama
sekali tidak punya pilihan’. Manusia itu makhluk merdeka, mengambil keputusan
adalah salah satu wujud kemerdekaan itu sendiri.
Berbicara mengenai ‘hanya ini yang
bisa dilakukan’ baik berujung pada penyelesaian masalah atau tidak, tetap saja
itu adalah sebuah pilihan. Karena menurut saya ada tiga konsep pilihan saat
manusia berada dalam timpaan cobaan yang menggiring pada sebuah keputusan
tertentu. Pertama, melakukan sebagaimana kondisi minimum secara
terus-menerus tanpa mengupayakan perubahan. Kedua, melakukan sebagaimana
kondisi minimum yang disertai dengan tindakan pengupayaan perubahan. Ketiga,
berdiam diri kemudian menyerah dan pasrah,
konsep ketiga biasanya akan menggiring untuk mengambil jalan pintas tertentu yang
dianggap sebagai jalan penyelesaian masalah. Ingat, semua itu adalah pilihan,
tidak ada kesulitan atau kondisi apapun yang hadir dengan tandus pilihan atau
tanpa pilihan.
Ada beberapa contoh yang hendak saya
sajikan untuk sedikit mengulas tiga konsep tersebut. Konsep yang pertama, saya
mengambil kisah dari salah satu TKW Hongkong asal Kediri bernama Rosminah (22) yang
termuat dalam buku berjudul Surat Berdarah untuk Presiden. Rosminah yang akrab
dipanggil Minah perempuan tamatan SD ini hidup serba kekurangan dan penuh
kesulitan. Ia memiliki satu orang putra berumur 4 tahun dimana sang suami pergi
begitu saja tanpa meninggalkan pesan apapun. Minah berprofesi sebagai pembantu
rumah tangga di kawasan Tai Po, Hong Kong. Kondisinya yang serba sulit
membuatnya memilih untuk tetap bertahan menjalani profesi tersebut meskipun
majikannya kerap memberi pukulan dan hukuman yang tak lazim bahkan
memperlakukannya jauh lebih rendah daripada anjing.
Minah sempat menulis sepucuk surat untuk
presiden, namun sayang ia tidak berhasil menyampaikan surat itu. Kepada secarik
kertas lusuh, ia menumpahkan segala penderitaan yang ia alami di sana. Minah
juga menyampaikan, ia ingin sekali merubah nasib hidupnya dan berhenti menjadi
pembantu, namun ia tidak mengerti bagaimana caranya dan mempertanyakan dapatkan
bapak Presiden sebagai orang nomor satu di negeri ini bersedia membantu rakyat
kecil sepertinya? Minah bertahan, Minah menjalani rutinitas yang sama, tekanan
yang sama, pukulan, hukuman, serta hinaan yang berulang-ulang, tanpa perubahan apapun.
Minah terbelenggu pada tekanan kondisi yang amat sangat sulit. Sampai pada
akhirnya, ia ditemukan tewas diserang dan dimakan anjing majikan.
Dalam kisah tersebut, Minah
menjatuhkan pilihan dan memutuskan untuk melakukan tindakan minimum yaitu
bertahan pada suatu kondisi yang ada dan terjadi berulang-ulang tanpa melakukan
hal lain sebagai bentuk pengupayaan untuk keluar dari lubang kesakitan. Memang
dalam konteks ini, Minah keterbatasan pengetahuan, sehingga meskipun ada niatan
untuk beralih ke profesi lain, namun ia tidak mengerti bagaimana caranya dan akhirnya tidak berhasil terwujudkan sehingga ia
tetap menghabiskan sisa waktu hidupnya pada pertahanan batu yang sama. Selamat
jalan Minah, semoga tenang di sisi-Nya. Seperti inilah contoh pengaplikasian
konsep pilihan tipe pertama.
Kemudian, mengenai contoh
pengaplikasian konsep pilihan tipe kedua akan saya jabarkan dengan sedikit
mengutip dua paragraph dari kisah Merry Riana yang terangkum dalam buku mimpi
sejuta dollar.
“Betapa nelangsanya jika gambaran akan kehidupanku di masa itu
diputar kembali. Tapi kenyataannya, di masa itu aku bisa bertahan karena
kekuatan alamiah yang muncul berkat pola pikir yang aku bentuk dengan darurat.
Ya, kukatakan darurat karena kondisi di depanku tidak akan memberiku waktu
banyak untuk beradaptasi. Aku bisa saja larut dalam kesedihan dan perasaan
tidak sanggup yang berkepanjangan, lalu waktuku akan terbuang sia-sia.
Seiring dengan berjalannya waktu, aku melatih diriku untuk
bertambah kuat dari hari ke hari. Kebiasaan yang dihayati dengan ikhlas
ternyata mampu mengendalikan mental dan fisik untuk melakukan suatu kerjasama
yang kooperatif. Itulah yang terjadi. Hikmah ini sangat penting bagiku, ketika
kita tidak bisa melakukan apapun kecuali bertahan, maka yang harus digenjot
dalam diri kita adalah keikhlasan dan kesabaran yang kuat. Kesanggupan untuk
bersabar dan bertahan dalam pikiran yang positif merupakan dasar dari loncatan-loncatan
manusia selanjutnya.”
Disini saya ingin menyoroti tentang
kalimat “ketika kita tidak bisa melakukan apapun kecuali bertahan”.
Konteksnya, saya melihat bahwa Merry Riana menggunakan konsep kedua pada sebuah
pilihan. Kondisinya, bukan tanpa pilihan, namun ia memilih untuk bertahan
dengan memupuk keikhlasan serta kesabaran sekuat-kuatnya dengan terus
mengupayakan untuk mencari jalan menuju perubahan. Konteks bertahan menjadi
pilihan yang harus dilakukan pada saat itu sekaligus menjadi batu pijakan untuk
loncatan-loncatan perubahan selanjutnya. Kemudian apa yang kita lihat, saat ini
Merry berhasil keluar dari lubang kesulitan, lubang yang penuh dengan tempaan
hidup, ia keluar sebagai pemenang,
perubahan telah berhasil digenggamnya.
Untuk konsep pilihan tipe tiga, mari
kita perhatikan apa yang terjadi pada Agus Maulana (33) yang memilih untuk
gantung diri di pohon besar pada 2018 silam. Ayah satu anak ini gemar memainkan
judi online habis-habisan bahkan tidak menyisakan sedikitpun uang untuk biaya pendidikan anaknya. Perlahan
ia mulai sadar, namun kesadarannya justru membawa pada tingkat keputusasaan
yang tinggi, kesadarannya muncul ketika lilitan hutang tengah menggunung. Ia
malu pada anaknya, pada istrinya, dan juga pada keluarga besarnya. Sampai pada
akhirnya ia pasrah terhadap keadaan, putus asa , dan merasa tidak ada pilihan
lain kecuali mengakhiri hidup yang menurutnya adalah jalan terbaik dan satu-satunya
jalan untuk keluar dari bekaman permasalahan. Padahal, setelah ia tiada, masalah baru justru mulai timbul, karena beban pelunasan hutang akan beralih pada pundak keluarganya.
Dalam kisah singkat ini, kita bisa
melihat bahwa ada step yang hilang dari pola pikir Agus Maulana. Setelah mulai
sadar dengan kesalahannya, dia tidak mencoba terlebih dahulu untuk bangkit dan
menghadapi permasalahan pelan-pelan. Dia tidak mencoba untuk mengupayakan
dengan bekerja lebih keras agar dapat melunasi hutang-hutangnya. Dia berperan
sebagai pemeran dan juga sebagai juri untuk dirinya sendiri, dia mengutuk
dirinya untuk sebuah ketidaksanggupan. Padahal, ia belum pernah mencoba untuk
mengupayakan atau menyelesaikan masalah dengan cara yang wajar, ia tidak pernah
tau sejauh mana dirinya mampu berupaya dan ia menutup rapat jiwa juangnya untuk
keluar. Hidupnya bukan tanpa pilihan, namun dia menolak pilihan yang lain dan justru
memilih untuk menyerah, pasrah, kemudian lari dari masalah. Melarikan diri
dalam konteks ini adalah mengakhiri hidup agar tidak berjumpa kembali pada
beban pelunasan hutang.
Kesimpulannya, pada dasarnya dalam
kehidupan itu tidak ada satupun kondisi atau permasalahan yang hadir tanpa
pilihan untuk mencapai jalan keluar. Semua kondisi sama, karena tidak ada
masalah yang tidak ada jalan keluarnya, semua sama, percayalah. Perbedaan
tiap-tiap orang dalam memandang permasalahan yang membawa pada sebuah pilihan dan
keputusan hanya terletak pada perbedaan kemauan untuk perubahan, keberanian dalam
mengambil resiko, kesediaan dalam pengupayaan, dan tentunya pengetahuan atas
pemilihan langkah yang tepat. Semua pasti bisa diatasi, semua pasti ada
jalannya. Bahkan, ketika kita masuk pada gang buntu pun, kita masih bisa untuk berputar
balik kemudian membelok ke arah yang lain. Sangat dimungkinkan, karena tidak ada jalan
buntu yang benar-benar buntu sepanjang mengerti cara berbelok, tidak ada
masalah berat yang benar-benar berat sepanjang berani menghadapi dengan upaya
yang keras, dan tidak ada permasalahan yang tertutup jalan keluarnya kecuali pola pikir kita sendiri.
Jadi, konsep pilihan mana yang mau
kamu ambil?
Yogyakarta, 01 Mei 2019
Yogyakarta, 01 Mei 2019





