Semesta Laksana Diktat Kehidupan
Sumber: lpmprofesi.com
Dalam kehidupan,
apapun yang ada di dunia ini tidak ada yang diciptakan tanpa sebuah fungsi dan
tujuan, bahkan terhadap hal yang menyakitkan sekalipun. Tuhan begitu mulia,
begitu bijak mendidik melalui segala denting ciptaan yang diturunkan untuk
umat-Nya. Semua mengandung pesan, dapat dipelajari, dan dapat dijadikan
referensi untuk menghadapi suatu kondisi dalam perjalanan hidup. Manusia hadir di dunia berbekal akal dan
pikiran, juga sebuah kepekaan yang harusnya mampu membaca segala yang sudah diajarkan
oleh alam, mampu menggali jawaban atas permasalahan-permasalahan dari analogi
yang tersedia dalam semesta. Kepekaan harus senantiasa terasah, melihat dan
mendengar dengan seksama agar berkurang budaya berkeluh kesah.
Manusia acap
kali dirundung permasalahan, besar kecilnya terukur secara subjektif atas pola
pikir masing-masing individu. Kita boleh merasa gemas ketika melihat pemuda
sehat dan bugar memilih menyerah sebelum bertindak karena merasa ada satu akses
yang tidak ia punya untuk menunjang mimpinya. Kita boleh merasa geli melihat
seseorang yang baru sekali gagal lantas menyerah dan menyerang Tuhan dengan
kalimat ‘tidak adil’. Kita juga boleh meninggalkan orang yang kerap memandang
sesuatu yang belum dicoba sebagai sebuah ketidakmungkinan dan menyeru terhadap
pengupayaan adalah sebuah kebodohan. Tinggalkan saja, lalu datang dikemudian
hari dengan membawa pembuktian di depan matanya. Karena untuk apa pula
berlama-lama bergumul dengan orang yang tak sepaham yang akan terus menyudutkan
sebuah keputusan, tinggalkan, lalu buktikan.
Perihal
pembelajaran yang terangkum utuh dalam diktat yang tersedia pada semesta, saya
ingin mengambil beberapa contoh yang dapat dijadikan jawaban atas sekelumit
permasalahan klasik manusia. Pertama,
kita bisa belajar dari kerang penghasil mutiara. Secara tidak sengaja, saya
pernah menjumpai pada beberapa bacaan dalam gubahan sederhana dan pada salah
satu petuah yang dikisahkan serta di tanamkan oleh motivator tersohor di negeri
garuda ini, Merry Riana, idola saya.
Kepada sang pembaca terkasih, kiranya saya sajikan full text sebagaimana
yang disajikan Merry Riana dalam unggahannya, agar turut merasakan sensasinya.
“Pernahkah
kamu menangis, sedih karena beban hidup yang begitu berat.
Pernahkah
kamu menangis, berlinang air mata karena merasa tidak berdaya.
Pernahkah
kamu menangis, putus asa, dan hampir menyerah.
Sayapun
pernah mengalami saat-saat itu,
Dan
disaat saya menangis, disaat saya tidak berdaya, saya selalu ingat sebuah
cerita.
Pada
suatu hari seekor kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya. Karena
sebutir pasir tajam masuk pada tubuh kerang tersebut, “Anakku,” kata sang ibu
sambil bercucuran air mata. “Ibu tau, pasti kamu kesakitan, Ibu tau, rasanya
pasti tidak nyaman, tapi Tuhan tidak memberi kita tangan. Sehingga walaupun ibu
ingin, tapi ibupun tidak mampu menolongmu. Tapi terimalah itu sebagai takdir
alam. Kamu boleh menangis .. Tapi bagaimanapun, kamu harus tetap kuat yaa ..
Kuatkan hatimu, kerahkan semangatmu … untuk bisa melawan rasa sakit itu.
Balutlah rasa sakit itu dengan air matamu. Hanya itu yang bisa kamu perbuat,”
kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Akhirnya,
anak kerang itupun melakukan nasihat ibunya, dengan air mata ia bertahan …
bertahun-tahun lamanya. Dan tanpa disadari, ternyata air mata yang membalut
pasir itu .. perlahan-lahan mengeras dan mengubah pasir itu menjadi mutiara
yang indah dan begitu berharga. Semakin besar pasirnya, semakin besar rasa
sakitnya. Tapi, semakin besar pula mutiara indah yang dihasilkan.
Saya
selalu ingat masa-masa saya menangis,
Ketika
harus pisah dengan orang tua,
Bertahan
hidup sendiri di negeri orang,
Dengan
uang pas-pasan.
Saya
masih ingat ketika saya menangis,
menghabiskan
masa muda saya bekerja 14 jam sehari nonstop selama seminggu.
Di
bawah terik matahari, ditolak, ditertawakan, diremehkan.
Saya
masih ingat, saat-saat saya menangis,
ketika
saya gagal berkali-kali dan jatuh terinjak-injak.
Tapi
semua itu tidak membuat saya pasrah.
Semua
itu tidak membuat saya putus asa dan menyerah.
Semua
itu bisa saya lalui, bukan hanya dengan air mata, namun dengan doa dan usaha.
Air
mata yang sekarang berubah menjadi mutiara yang indah.
Pengalaman
hidup … yang akan selalu mengingatkan saya untuk terus kuat dan tangguh.”
Terkandung pesan besar yang digaungkan dalam petikan
motivasi yang berlandaskan pada sebuah ajaran takdir alam dalam ketentuan
mutlak nasib kerang. Nasib yang membawanya hidup dengan keterbatasan, hidup
tanpa tangan, tanpa akses, dan kemampuan bahkan untuk sekedar menyeka pasir
yang masuk serta menyakiti dirinya. Hidup dalam balutan kesakitan yang sudah
digariskan, tidak ada celah untuk melakukan perlawanan pada nasib. Ini masalah
besar, benar-benar besar dan mutlak tidak bisa dihindari, takdir dengan tegas
telah mengaruniai ujian berat padanya. Tapi, masih sangat besar jalan terbuka
untuk menghadapi takdir itu, yaa jalan untuk menghadapi, bukan menghindari. Ada
jalan yang bisa dipilih untuk membuatnya bertahan dalam kesakitan dan bahkan
menyulap kesakitan itu menjadi sesuatu yang sangat bernilai tinggi. Nyatanya,
kesakitan dan keberanian untuk menghadapi ini di ganjar dengan sebuah hasil
yang sangat mengagumkan, mutiara. Dan
andai kata kerang diberkahi tangan, maka mutiara indah tidak akan pernah
tercatat dalam sejarah. Seelok itu Tuhan menciptakan pula memahamkan.
Begitu pula dengan hidup, kadang kala, takdir alam
memang tidak bisa diajak berkongsi dengan damai. Takdir alam yang datang
terkadang terlihat sebagai sebuah granat besar yang melesat tanpa ampun laksana
serangan perang nuklir yang menghujani bunker pertahanan diri. Pada
takdir-takdir itu mungkin memang tidak terbuka kesempatan untuk menghindar atau
menolak. Tapi ketiadaan itu bukanlah sebuah akhir dari cerita dan membungkan
kehidupanmu sehingga menggiringmu untuk berlutut pada keterpasrahan. Tidak, bukan seperti itu.
Jika kita dihadapkan pada sebuah kondisi seperti ini, maka yang dapat kita
perbuat adalah mengupayakan untuk menghadapi, bahkan kita mampu menyulap sumber
inti permasalahan menjadi sumber inti keberkahan, yaa sebagaimana pasir dan
mutiara. Satu lagi, jangan pernah berduka jika kita ditakdirkan memiliki suatu
kekurangan, pandanglah kekurangan itu dengan kacamata yang bijak, maka akan
kita sadari bahwa kekurangan menjadi kunci besar menuju keberhasilan.
Gambaran hidup
Merry Riana, ia ditempa oleh kondisi keterbatasan financial yang sangat mencekam saat menjalani
perkuliahan di Singapura. Keterbatasan ini
disebabkan oleh kerusuhan 1998 dan keprihatinan perekonomian orang tua
yang saat itu mundur dari perusahaan. Cita-cita orang tua untuk tetap
memperjuangkan pendidikan anaknya membawa pada keputusan untuk berani berhutang
sebanyak 40 ribu dolar Singapura atau setara 300 juta rupiah. Demi pendidikan,
terseyok-seyok lah hidup dalam juang derita atas uang yang pas-pasan. Namun
bersumber dari deraan hidup pula ia bangkit dan bekerja sangat keras untuk
mencapai kebebasan financial pada target yang sudah ditentukan, agar
lekas terbebas dari belenggu hutang dan mampu membahagiakan orang tua. Nyatanya
dia berhasil, ia berhasil mencapai target yang diidamkan dan berhasil pula
menjadi pribadi mandiri yang sarat akan sikap etos kerja yang sangat tinggi.
Takdir telah berhasil mendidiknya.
Kedua, pernahkah kita berfikir setelah kita
gagal, setelah kita jatuh, bahkan setelah kita terinjak-injak oleh ujaran orang di sekitar ataupun dari sumber
lainnya, kita akan jumpa dengan keberhasilan? ataukah justru berfikir bahwa kegagalan
adalah rambu yang mengisayaratkan atas ketidakmungkinan dan sebagai signal
untuk berhenti berjuang?
Mari kita belajar pada daun pohon yang mungkin jarang
kita perdulikan. Daun yang telah sekian lama bertengger pada puncak, akan tiba
masanya mereka berada dalam kondisi tertentu yang membuatnya gugur. Akan tiba
masanya daun ditempa oleh diferensiasi yang bisa saja disebabkan atas adanya
penumpukan sisa-sisa metabolisme yang bersifat racun sehingga mempengaruhi
kinerja sel dan menurunkan hasil metabolisme secara bertahap yang ujungnya
sangat mempengaruhi penurunan kualitas fotosintesis. Atau mungkin tiba masanya
daun kekurangan komponen nitrogen atau bahkan bisa saja kehilangan fosfor
sebagai penyusun fosfolid yang erat kaitannya dalam pembentukan penguatan
membrane sel. Ketika itu semua terjadi,
daun akan menguning, mati, lantas gugur menuju pada posisi paling bawah, tanah.
Saat daun telah jatuh dan gugur, apakah takdirnya
memang cukup sampai disini? Jawabannya tidak. Masih ingat kah saat guru IPA
sekolah dasar mengajarkan mengenai humus? Tanah dengan ramah akan menyambut
daun yang katanya telah pupus harapan untuk kembali bertengger pada pohon indah
yang telah menjadi tumpuannya selama ini. Atas sinergi yang baik antara daun
dengan tanah, hasil yang menakjubkan siap tercipta dengan segala manfaatnya.
Proses pesinergian ini menunggu tuntasnya pelapukan daun secara alami, bahkan kadangkala kehancuran daun kering juga di percepat oleh
injakan-injakan sepatu terhormat yang melintas tanpa permisi. Dengan demikian lapukan
akan segera terproses. Kepingan-kepingan daun hancur ini akan mengalami
perombakan oleh organisme dalam tanah, kemudian terciptalah humus, tanah yang
sangat subur. Kemudian apa manfaatnya? apa fungsinya? dan apa pula hubungannya
dengan kehidupan? Jawabannya adalah konsep balas budi. Kenapa saya katakana
demikian? Karena daun gugur itu kini berperan untuk menjaga kestabilan pohon
untuk terus kokoh berdiri pada tanah yang subur, dia menguatkan akar-akar pohon
itu. Dia menjalankan perannya dengan baik, sangat baik.
Begitu juga dalam hidup, jangan pernah takut atas
kegagalan, jangan pernah takut jatuh
dari suatu kondisi yang nyaman. Sekali lagi, jangan takut ! kegagalan dan
keberhasilan itu jaraknya tipis, sangat tipis. Jatuh dan gagal itu hanya sebuah
ritme, semua orang sukses pernah mengalami, semua sama. Namun yang membedakan
adalah maukah kita bersinergi dengan keadaan untuk bangkit dan menciptakan
perubahan baru atau melanjutkkan perjuangan yang belum usai. Jika enggan,
silahkan saja tinggalkan arena pertandingan dan kubur dalam-dalam cita-cita
konyol itu. Kemudian untuk point terinjak-injak ini, sebagaimana paragraph
sebelumnya, apabila kita berada dalam kondisi terinjak-injak oleh ujaran
orang-orang sekitar yang mengucur menghujani perjuangan kita, jangan sedih.
Namun, jadikanlah sebagai lecutan paling dahsyat untuk mendobrak dirimu agar
lekas bangkit dan berupaya lebih keras dari sebelumnya. Belajarlah pada daun
kering, injakan sepatu-sepatu terhormat itu tidak membuatnya terpuruk, namun
justru dijadikannya sebagai dorongan bermakna yang mampu mempercepat proses
penghancuran fisik yang membawanya lekas beresinergi dengan tanah untuk segera
memulai tahap baru yang lebih luar
biasa.
Sari pati atas pesan moral daun gugur ini, memang
setelah gugur, daun tidak lagi mampu kembali ke puncak pohon, namun perannya
lebih terhormat, dia berperan menopang keberlangsungan hidup pohonnya serta
daun-daun yang lain. Kini, dia tidak lagi bertumpu, namun menumpu. Dalam hidup,
meskipun kita sudah berjuang dengan keras, bisa saja yang kita impikan pada
ujungnya tidak terwujud. Iya, bisa saja demikian, namun Tuhan tidak akan diam,
Tuhan telah mempersiapkan dan akan segera mempersembahkan padamu hal yang lebih
besar dan lebih menakjubkan dari apa yang kamu minta. Percayalah.
Seperti itulah hidup, alam semesta begitu indah
menyajikan jawaban-jawaban atas kondisi yang kita alami. Pintar-pintarlah
membaca kode alam dan selamilah setiap bab yang tersaji pada diktat semesta.
Selamat malam :)
Yogyakarta, 05 Mei 2019
1 komentar:
👍
Posting Komentar