Garuda untuk PPWNI-Malaysia
Tepat 399 hari lalu, pertama kali
saya menginjakkan kaki di sebuah pemukiman yang mayoritas adalah saudara saya.
Yaa saudara sebangsa yang tengah menata hidup di negeri tetangga, tanah jiran. Aku menyisir bangunan sekolah yang tampak nian
kesederhanaannya, hanya terdiri kira-kira tidak lebih dari 5 ruang kelas dimana
ditempati untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Bangunan itu bernama PPWNI (Pusat Pendidikan Warga Negara Indonesia) yang
tampak berdiri seadanya, di bawah kaki rumah susun Bayu Perdana, Bukit Raja,
Klang Selangor, Malaysia. Apakah kalian tau, bangunan ini dari siapa? dan
apakah kalian juga tau, bangunan ini untuk siapa? Kontruksi ini bermuara dari jiwa
sosial seorang Kerabat Diraja Selangor, Ungku Raja Kamaruddin, lelaki berdarah
Bugis. Hatinya terpanggil setelah melihat banyaknya anak-anak buruh migran undocumented
yang tidak mendapatkan akses pendidikan sebagaimana haknya.
Saat saya dan relawan lain turun dari
mobil, dengan sigap mereka berbondong-bondong menghampiri kami. Senyum hangat pula
tak henti-hentinya mereka lemparkan pada kami. Dengan manis mereka berkata, “cikgu,
cikgu, sini tasnya”, ahh menawan sekali, mereka berebut untuk menggandeng
dan membawakan tas kami, padahal kita tidak pernah jumpa sebelumnya. Saya
menatap satu persatu wajah mereka, rautnya riang, matanya teduh, senyumnya
hangat. Dalam hati saya bertanya, “apakah kebahagiaan yang merekah saat ini
tercipta atas kedatangan kami? Apakah biasanya juga seperti ini? Apakah dibalik
senyum hangat hari ini memang benar-benar tiada beban atau hal lain yang
membuat salah satu sisi hidupnya berat?”
Sebelum mengajar, kami didudukkan
terlebih dahulu pada suatu ruangan. Bermacam cerita dan arahan disampaikan
untuk menjadi bekal dan parameter dalam proses mengajar agar tetap sesuai dan tidak
melanggar aturan, ingat kami sedang di negara orang. Misi kami bukan untuk
menjejali materi-materi dengan diktat tebal baik tentang Ilmu Pengetahuan Alam,
Matematika, maupun bidang ilmu lain, tidak begitu. Kami membawa misi untuk
menanamkan jiwa nasionalisme pada mereka, kami membawa nama garuda, kami ingin
menyampaikan pesan bahwa garuda tetap perduli dengan mereka meski jarak cukup
kejam untuk memisahkannya dengan ibu pertiwi. Tentu dengan kehati-hatian, kami
melaksanakan apa yang sudah kami persiapkan dan telah kami susun dengan anggun
untuk kami sampaikan kepada mereka.
Adik-adik kita ini tidak pernah
upacara bendera, juga tidak bisa mendendangkan lagu kebangsaan dengan lantang,
yaa ini aturan. Aku sempat berbincang dengan salah satu murid yang cukup
pendiam, aku menghampirinya saat ia duduk termangu di bangku lapangan seorang
diri. Sedikit percakapan kami seperti ini:
X :
“Dek, kamu pernah ikut upacara bendera?”
Y: “Apa
itu upacara bendera cikgu?”
X:
“Upacara bendera itu, upacara penghormatan kepada sang saka, yang biasanya
dilaksanakan setiap hari senin di
sekolah-sekolah .”
Y:
“Tidak tau cikgu”
X:
“Kamu kalau di rumah suka nonton apa ?”
Y: “TV
2 cikgu, kalau tidak ya TV 4”
X:
“Pernah nonton film atau yang lain tentang Indonesia?”
Y:
“Pernah cikgu”
X:
“Kamu tau Jakarta?”
Y:
“Tidak”
X:
“Kamu tau Surabaya?”
Y:
“Tidak”
X:
“Kamu tau Sulawesi?”
Y:
“Tidak”
X:
“Kamu tau Sumatera?”
Y:
“Tidak cikgu”
X:
“Yasudah, kamu tau warna bendera Indonesia?”
Y:
“Merah putih cikgu”
X:
“Pintar, lantas apalagi yang kamu tau tentang Indonesia?”
Y:
“Yang awak tau, ayah sedang kumpul uang untuk pigi ke Indonesi cikgu.”
X:
(diam)
Disana
memang tidak diperkenankan memutar lagu kebangsaan lain secara keras, tidak
bisa juga mengibarkan bendera negara lain seenaknya. Maka jadilah mereka tak
pernah merasakan khidmatnya upara penghormatan pada sang saka.
Saya
banyak belajar dari mereka terutama tentang rasa cinta pada tanah air.
Mayoritas dari mereka lahir dan besar disana tanpa pernah sekalipun bertegur
sapa dengan Indonesia. Akan tetapi, rasa cinta yang dijatuhkan pada ibu pertiwi
tetap utuh. Banyak dari mereka mengoleksi lagu-lagu kebangsaan di handphone,
ada juga yang mengingat bahwa ibu kota ada di Jakarta, bahkan ada yang mampu
menunjuk pulau Sulawesi di peta. Kemudian, hal yang paling tidak bisa saya
lupakan adalah anak-anak menagis saat kita semua menyanyikan lagu “Tanah Airku”
ciptaan Ibu Sud dengan volume sederhana dan serentak. Mereka menangis,
benar-benar mengangis, bahkan dalam tangis ada salah satu murid yang bilang, “cikgu
tolong mati-matikan lagu itu”, aku mendekat, “kenapa dek, kamu sedih?
iya?” sambil terus menangis dia menjawab, “iya cikgu, mati-matikan”.
Aku memeluknya, kami semua para relawan tanpa komando dengan cepat merangkul
setiap anak murid, kita merapat, kita terus bernyanyi, kita bernyanyi dalam
tangis, kita bernyanyi mengingat bangsa.
Dalam
tangis, dalam lantunan bait demi bait, dalam hangatnya dekapan dan pelukan
anak-anak, hati dan pikiran saya terasa berputar. Terbayang betapa beruntungnya
saya yang selama ini diasuh langsung oleh ibu pertiwi, namun jiwa kebangsaan
saya masih segini saja, kecintaan saya pada bangsa masih secetek ini. Apa yang sudah saya kerjakan untuk bangsa
saya? apa kontribusi saya pada bangsa saya? apa yang sudah saya perbuat
sebagai ucapan terimakasih pada bangsa saya? tidak ada. Lalu apa bukti yang
bisa saya ajukan untuk meyakinkan bahwa kalimat “I Love Indonesia” yang sangat mudah
diucapkan itu terlantun dengan ketulusan? Kenapa ? kenapa mereka yang sekecil ini,
jauh dari negara, tidak pernah jumpa,
tapi bergetar hatinya mendengar lantunan lagu bangsa? Kenapa jiwa mereka
bergetar atas nama Indonesia, padahal garuda belum pernah disentuhnya? Saya merasa malu. Namun dalam hati, saya juga
yakin, suatu hari nanti hal besar akan tercipta dari tangan-tangan tulus itu
untuk Indonesia.
Perjumpaan
kami memang cukup singkat, hanya terhitung hari, namun rasanya sangat membekas.
Ada hati yang bergejolak menolak untuk pulang, rasanya ingin menetap untuk
sepersekian waktu lagi. Saya mendapati
point-point penting dari kebersamaan singkat ini selain dari apa yang sudah
saya kisahkan sebelumnya. Akan tetapi, tidak mungkin saya ungkap secara gamblang pada
tulisan ini. Yaa, point-point itu memang bukan untuk konsumsi public, tetapi
sudah sepatutnya menjadi konsumsi republic, Republik Indonesia.
Tuhanku,
permudahlah jalan mereka dan jalan kedua orang tua mereka untuk lekas kembali
pada negeri ini, kami menantinya.
Yogyakarta,
12 Mei 2019








