Banner 468 x 60px

 

Roda Belakang Tak Menggurui Takdir

2 komentar
Roda Belakang Tak Menggurui Takdir

Sumber: Dakwatuna

Kata orang, memperjuangkan kemustahilan itu bodoh.
Kata orang, mengejar ketidakmungkinan itu sia-sia.
Kata orang ... ah sudahlah, lupakan saja kata kata orang jika memang menjatuhkan.

Pada gubahan kali ini, salah satu senior menyarankan untuk membahas perihal “kenapa roda belakang tidak pernah berhasil mengejar roda depan?” Saya rasa ini cukup unik dan sebenarnya ada banyak sisi yang dapat dibahas atas satu kondisi ini, dimana saling berjalan pada ruang dan waktu yang sama namun tidak pernah jumpa. Sebelumnya, mari kita kupas terlebih dahulu mengapa 2 roda tersebut harus dipasang secara terpisah masing-masing pada bagian depan dan belakang? Mengapa tidak keduanya di depan atau keduanya di belakang saja? Kemudian mari kita dengar juga  sebenarnya untuk apa roda belakang ingin sampai pada roda depan?


Terkadang, bait-bait kehidupan memang diselimuti kabut takdir yang tidak bisa dihindari. Namun ada pula takdir yang pada dasarnya hadir pada awal masa saja yang mana kemudian untuk nasib selanjutnya  dapat diperjuangkan dengan sebuah usaha. Jika diulas, 2 roda yang dipasang terpisah pada masing-masing posisi memang diperuntukan untuk menciptakan keseimbangan pada sebuah kendaraan agar laju jalannya tidak cacat dan tujuan utama untuk mempermudah manusia dalam menempuh perjalanan dapat terwujud. Kita bisa belajar dari mitologi Yunani dimana Niks (dewi malam) yang tidak pernah bisa berjumpa dengan anaknya, Hemera (dewi siang). Ibaratnya, meskipun memiliki ikatan biologis yang sangat dekat, mereka mengikhlaskan untuk tidak dipertemukan meskipun setiap harinya berjalan pada simpang yang sama demi menopang sebuah amanah besar untuk kepentingan umat manusia. Andai kata mereka lebih menjunjung ego dan memaksakan untuk jumpa, maka manusia akan  menderita, akan timbul kehancuran, dan entah akan seperti apa bumi kita ini. Begitu juga dengan 2 roda, apabila tetap mamaksakan kehendaknya, maka akan hilang fungsi utamanya dan akan ada pula yang dirugikan.


Kedua, andai kata ambisi pengejaran roda depan memang untuk sebuah kebaikan ataupun kemajuan tertentu, maka tidak ada yang mustahil untuk diwujudkan. Namun kembali lagi pasti membutuhkan upaya lebih, pihak yang berkorban dan dikorbankan, pundi-pundi yang harus dibayarkan baik dari segi materi maupun non materi, serta menuntut  adanya kesiapan resiko tertentu. Sebagaimana yang disampaikan Kurniawan Sangkur dalam bukunya bahwa tujuan yang besar, tujuan yang tidak biasa, membutuhkan pengorbanan yang besar dan  tidak biasa pula. Perihal point ini mari sejenak kita lepaskan terlebih dahulu fungsi utama roda dalam keseimbangan kendaraan. Mari kita fokuskan pada titik ‘mungkin’ dan ‘tidak mungkin’ atas suatu fakta atau takdir yang sudah ada sebelumnya. Bukan bermaksud menggurui takdir dengan melontarkan kalimat, “seharusnya begini saja” atau “seharusnya tidak seperti itu.” Akan tetapi upaya untuk menuju ‘mungkin’ dan ‘tidak mungkin’ atas suatu perubahan adalah tentang penolakan terhadap keterpasrahan pada suatu keadaan atau kondisi tertentu. Bagi saya kemustahilan itu tidak ada (diluar 3 point yang pernah saya bahas pada tulisan sebelumnya) sepanjang upaya dan do’a benar-benar diteguhkan secara berirama dalam mencapai tujuan maupun perubahan tertentu, sesulit apapun itu.

Jika roda belakang ingin sampai atau berjumpa dengan roda depan, maka bisa saja hal tersebut diupayakan mungkin dengan melepas terlebih dahulu kedua roda tersebut dari kendaraan yang ditopangnya. Setelah dilepas, dengan mudah kedua roda dapat dipertemukan, tujuan selesai, se-simple itu. Namun dibalik terwujudnya tujuan ataupun harapan, muncul resiko yang harus ditanggung dimana kendaraan menjadi cacat, tidak lagi dapat difungsikan, dan mungkin berakhir pada pembuangan body kendaraan. Contoh ekstrim dalam kehidupan nyata, ‘maaf’ di dunia ini sudah bukan menjadi kemustahilan ketika manusia dilahirkan pada gender tertentu namun disaat dewasa justru menolak takdirnya dan mengupayakan perubahannya. Tentu hal ini dengan upaya serta resiko yang besar dimana seseorang tersebut mempertaruhkan reputasinya, menantang nyawanya karena harus menghadapi serangkaian tindakan medis besar, membayar sejumlah nominal yang tidak sedikit, dan tentunya menelan pula resiko sosial seperti pandangan negatif oleh masyarakat sekitar, bahkan pertanggungjawaban pada Tuhannya pun harus siap untuk dihadapi. Terlepas dari ‘boleh’ atau ‘tidak boleh’, ‘legal’ atau ‘tidak legal’ namun yang ingin saya tekankan pada analogi ini adalah perihal ‘tidak ada yang tidak mungkin selagi mau berupaya’.

Namun demikian, sebaiknya manusia harus tetap bijak untuk tidak menggurui takdir semena-mena, untuk mengambil pilihan positif dari sebuah pengoptimalan takdir yang telah diberikan.. Salah satu contoh positif adalah kisah Sekar Alit dalam buku Kenari Kecil dari Kalabahi dan 29 Kisah Inspiratif Anak Indonesia. Disana dikisahkan bahwa takdir mengantarkan Alit untuk lahir ditengah-tengah keluarga yang kondisi  perekonomiannya jauh dari kata cukup. Alit tidak bisa memilih, Alit tidak bisa meminta, Alit menerimanya .. Alit berlapang dada dan tidak pernah menggurui takdir. Namun Alit menolak untuk berdiam diri pada belenggu hukum asal dalam keterbatasan. 

Sedari kecil Alit sudah menekuni bidang seni tari dimana uang hasil menari digunakan untuk turut membiayai pendidikannya sendiri sejak jenjang Sekolah Dasar. Bertahun-tahun kemiskinan terus membelenggu jiwanya dan menghambat jalan pengembangan dirinya. Bahkan pada saat lulus SMK ijazah Alit pernah tertahan karena tidak memiliki biaya untuk menebusnya. Dalam kondisi serba sulit, Alit tidak pernah membiarkan dirinya larut dalam keterpasrahan. Dengan segala usahanya, akhirnya dia bisa melanjutkan hingga jenjang perguruan tinggi. Sampai pada jenjang Strata-1 keteguhan hati Alit terus diuji oleh sang Kuasa, Alit belum juga mendapat kemudahan. Setiap harinya, moda trannsportasi yang di gunakan untuk pulang pergi ke kampus adalah dengan menumpang truk yang lewat dijalan, sungguh cerminan perempuan tangguh. Dengan segala pengupayaan dan kegigihan yang terus ditunjukan, pada akhirnya Alit mulai mendapatkan hasil dari juang secara pelan-pelan. Alit terpilih menjadi salah satu tim inti pada tarian ‘The Voyage’ yang dipentaskan di Singapura. Selain itu, Alit juga akhirnya mendapatkan beasiswa magister oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Lika-liku hidupnya juga pernah dirangkum dalam bentuk poster berjudul ‘Kemiskinan tidak akan menghalangi saya untuk meraih impian saya’ dan pada akhirnya keluar sebagai juara. 

Benang merahnya adalah perubahan maupun  pencapaian itu bukan hanya sebatas angan-angan yang terancam membusuk mengingat hukum asalnya yang telah terpatri pada kondisi tertentu. Tuhan memberikan jalan bagi hamba-Nya yang berusaha, namun seorang hamba yang baik tentu harus bijak memilah terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan dan mengupayakan.  Memilah takdir mana yang patut untuk tetap diterima dan takdir mana yang terbuka keran positifnya untuk diperjuangkan. Pesan saya, jangan pernah menggurui takdir, karena takdir adalah dorongan pertama untuk menuju langkah pengupayaan. Jangan lupa pula untuk menolak jiwa yang berusaha berdamai dengan keterpasrahan apabila perubahan memang sebuah kondisi  perbaikan yang positif. Selain itu tetap perhatikan juga mengenai fungsi takdir dan tujuan dari sebuah langkah yang hendak diambil. Belajarlah melalui roda belakang.
selamat malam :))


2 komentar:

mengalir mengatakan...

Yaa. Sebagaimana takdir seorang pengagum sastra yg memilih sunyi sebagai tempatnya. Berkarib-karib dengan kata dan aliran ide.
Keren kak

Setapak Arina mengatakan...

terimakasiih :)

Posting Komentar

Garuda untuk PPWNI-Malaysia

Garuda untuk PPWNI-Malaysia Tepat 399 hari lalu, pertama kali saya menginjakkan kaki di sebuah pemukiman yang mayoritas adalah s...

 
Setapak Arina © 2019