Roda Belakang Tak Menggurui Takdir
Sumber: Dakwatuna
Kata orang, memperjuangkan kemustahilan itu bodoh.
Kata orang, mengejar ketidakmungkinan itu sia-sia.
Kata orang ... ah sudahlah, lupakan saja kata kata orang jika memang menjatuhkan.
Pada gubahan kali ini, salah satu senior menyarankan untuk
membahas perihal “kenapa roda belakang tidak pernah berhasil mengejar roda
depan?” Saya rasa ini cukup unik dan sebenarnya ada banyak sisi yang dapat
dibahas atas satu kondisi ini, dimana saling berjalan pada ruang dan waktu yang
sama namun tidak pernah jumpa. Sebelumnya, mari kita kupas terlebih dahulu mengapa
2 roda tersebut harus dipasang secara terpisah masing-masing pada bagian depan
dan belakang? Mengapa tidak keduanya di depan atau keduanya di belakang saja? Kemudian
mari kita dengar juga sebenarnya untuk
apa roda belakang ingin sampai pada roda depan?
Terkadang, bait-bait kehidupan memang diselimuti kabut takdir
yang tidak bisa dihindari. Namun ada pula takdir yang pada dasarnya hadir pada awal
masa saja yang mana kemudian untuk nasib selanjutnya dapat diperjuangkan dengan sebuah usaha. Jika
diulas, 2 roda yang dipasang terpisah pada masing-masing posisi memang
diperuntukan untuk menciptakan keseimbangan pada sebuah kendaraan agar laju jalannya
tidak cacat dan tujuan utama untuk mempermudah manusia dalam menempuh
perjalanan dapat terwujud. Kita bisa belajar dari mitologi Yunani dimana Niks
(dewi malam) yang tidak pernah bisa berjumpa dengan anaknya, Hemera (dewi
siang). Ibaratnya, meskipun memiliki ikatan biologis yang sangat dekat, mereka
mengikhlaskan untuk tidak dipertemukan meskipun setiap harinya berjalan pada simpang
yang sama demi menopang sebuah amanah besar untuk kepentingan umat manusia.
Andai kata mereka lebih menjunjung ego dan memaksakan untuk jumpa, maka manusia
akan menderita, akan timbul kehancuran, dan
entah akan seperti apa bumi kita ini. Begitu juga dengan 2 roda, apabila tetap
mamaksakan kehendaknya, maka akan hilang fungsi utamanya dan akan ada pula yang
dirugikan.
Kedua, andai kata ambisi pengejaran roda depan memang untuk
sebuah kebaikan ataupun kemajuan tertentu, maka tidak ada yang mustahil untuk
diwujudkan. Namun kembali lagi pasti membutuhkan upaya lebih, pihak yang
berkorban dan dikorbankan, pundi-pundi yang harus dibayarkan baik dari segi
materi maupun non materi, serta menuntut
adanya kesiapan resiko tertentu. Sebagaimana yang disampaikan Kurniawan
Sangkur dalam bukunya bahwa tujuan yang besar, tujuan yang tidak biasa,
membutuhkan pengorbanan yang besar dan tidak biasa pula. Perihal point ini mari
sejenak kita lepaskan terlebih dahulu fungsi utama roda dalam keseimbangan
kendaraan. Mari kita fokuskan pada titik ‘mungkin’ dan ‘tidak mungkin’ atas suatu
fakta atau takdir yang sudah ada sebelumnya. Bukan bermaksud menggurui takdir
dengan melontarkan kalimat, “seharusnya begini saja” atau “seharusnya
tidak seperti itu.” Akan tetapi upaya untuk menuju ‘mungkin’ dan ‘tidak
mungkin’ atas suatu perubahan adalah tentang penolakan terhadap keterpasrahan
pada suatu keadaan atau kondisi tertentu. Bagi saya kemustahilan itu tidak ada
(diluar 3 point yang pernah saya bahas pada tulisan sebelumnya) sepanjang upaya
dan do’a benar-benar diteguhkan secara berirama dalam mencapai tujuan maupun
perubahan tertentu, sesulit apapun itu.
Jika roda belakang ingin sampai atau berjumpa
dengan roda depan, maka bisa saja hal tersebut diupayakan mungkin dengan
melepas terlebih dahulu kedua roda tersebut dari kendaraan yang ditopangnya.
Setelah dilepas, dengan mudah kedua roda dapat dipertemukan, tujuan selesai,
se-simple itu. Namun dibalik terwujudnya tujuan ataupun harapan, muncul
resiko yang harus ditanggung dimana kendaraan menjadi cacat, tidak lagi dapat
difungsikan, dan mungkin berakhir pada pembuangan body kendaraan. Contoh
ekstrim dalam kehidupan nyata, ‘maaf’ di dunia ini sudah bukan menjadi
kemustahilan ketika manusia dilahirkan pada gender tertentu namun disaat dewasa
justru menolak takdirnya dan mengupayakan perubahannya. Tentu hal ini dengan
upaya serta resiko yang besar dimana seseorang tersebut mempertaruhkan
reputasinya, menantang nyawanya karena harus menghadapi serangkaian tindakan
medis besar, membayar sejumlah nominal yang tidak sedikit, dan tentunya menelan
pula resiko sosial seperti pandangan negatif oleh masyarakat sekitar, bahkan
pertanggungjawaban pada Tuhannya pun harus siap untuk dihadapi. Terlepas dari ‘boleh’
atau ‘tidak boleh’, ‘legal’ atau ‘tidak legal’ namun yang ingin saya tekankan pada
analogi ini adalah perihal ‘tidak ada yang tidak mungkin selagi mau berupaya’.
Namun demikian, sebaiknya manusia harus tetap bijak untuk
tidak menggurui takdir semena-mena, untuk mengambil pilihan positif dari sebuah
pengoptimalan takdir yang telah diberikan.. Salah satu contoh positif adalah
kisah Sekar Alit dalam buku Kenari Kecil dari Kalabahi dan 29 Kisah Inspiratif
Anak Indonesia. Disana dikisahkan bahwa takdir mengantarkan Alit untuk lahir
ditengah-tengah keluarga yang kondisi
perekonomiannya jauh dari kata cukup. Alit tidak bisa memilih, Alit
tidak bisa meminta, Alit menerimanya .. Alit berlapang dada dan tidak pernah
menggurui takdir. Namun Alit menolak untuk berdiam diri pada belenggu hukum
asal dalam keterbatasan.
Sedari kecil Alit sudah menekuni bidang seni tari dimana uang
hasil menari digunakan untuk turut membiayai pendidikannya sendiri sejak
jenjang Sekolah Dasar. Bertahun-tahun kemiskinan terus membelenggu jiwanya dan
menghambat jalan pengembangan dirinya. Bahkan pada saat lulus SMK ijazah Alit pernah
tertahan karena tidak memiliki biaya untuk menebusnya. Dalam kondisi serba
sulit, Alit tidak pernah membiarkan dirinya larut dalam keterpasrahan. Dengan
segala usahanya, akhirnya dia bisa melanjutkan hingga jenjang perguruan tinggi.
Sampai pada jenjang Strata-1 keteguhan hati Alit terus diuji oleh sang Kuasa,
Alit belum juga mendapat kemudahan. Setiap harinya, moda trannsportasi yang di
gunakan untuk pulang pergi ke kampus adalah dengan menumpang truk yang lewat
dijalan, sungguh cerminan perempuan tangguh. Dengan segala pengupayaan dan kegigihan
yang terus ditunjukan, pada akhirnya Alit mulai mendapatkan hasil dari juang
secara pelan-pelan. Alit terpilih menjadi salah satu tim inti pada tarian ‘The
Voyage’ yang dipentaskan di Singapura. Selain itu, Alit juga akhirnya
mendapatkan beasiswa magister oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Lika-liku hidupnya juga pernah dirangkum dalam bentuk poster berjudul ‘Kemiskinan
tidak akan menghalangi saya untuk meraih impian saya’ dan pada akhirnya keluar
sebagai juara.
Benang merahnya adalah perubahan maupun pencapaian itu bukan hanya sebatas angan-angan
yang terancam membusuk mengingat hukum asalnya yang telah terpatri pada kondisi
tertentu. Tuhan memberikan jalan bagi hamba-Nya yang berusaha, namun seorang
hamba yang baik tentu harus bijak memilah terlebih dahulu sebelum mengambil
keputusan dan mengupayakan. Memilah
takdir mana yang patut untuk tetap diterima dan takdir mana yang terbuka keran
positifnya untuk diperjuangkan. Pesan saya, jangan pernah menggurui takdir, karena
takdir adalah dorongan pertama untuk menuju langkah pengupayaan. Jangan lupa
pula untuk menolak jiwa yang berusaha berdamai dengan keterpasrahan apabila
perubahan memang sebuah kondisi
perbaikan yang positif. Selain itu tetap perhatikan juga mengenai fungsi
takdir dan tujuan dari sebuah langkah yang hendak diambil. Belajarlah melalui
roda belakang.
selamat malam :))

2 komentar:
Yaa. Sebagaimana takdir seorang pengagum sastra yg memilih sunyi sebagai tempatnya. Berkarib-karib dengan kata dan aliran ide.
Keren kak
terimakasiih :)
Posting Komentar