Banner 468 x 60px

 

Konsep Pilihan, Landasan Keputusan

0 komentar
Konsep Pilihan, Landasan Keputusan


Sumber: Mujahiddakwah.com


Hidup memang tidak selalu mudah dan tidak selalu pula terlakasana dengan indah.  Kadangkala pada suatu waktu seseorang dapat dihujat dengan ujian yang bertubi-tubi, adapula yang ditekan dengan kondisi sulit yang entah kapan ujungnya akan berhenti. Dalam hidup, manusia juga tumbuh dengan sejuta prasangka. Dalam perjalanannya, prasangka itulah yang kadang kala menggiring pada sikap keterpasrahan atau keputusasaan pada pilihan kemudian dengan mudah  menuduh dunia tidak adil padanya.

Saat manusia dihadapkan pada kondisi sulit dan mencoba untuk tetap bertahan, banyak dari mereka bergumam, “yaa … mau bagaimana lagi, mau tidak mau saya harus melakukan ini, bertahan disini, seperti ini, dan saya tidak punya pilihan.” Kalimat ini sangat akrab sekali terdengar di telinga sebagai keluhan orang-orang disekitar terhadap deraan yang menempa hidupnya, apapun kondisinya. Menurut saya, kalimat yang terlanjur umum ini sejatinya adalah nol, salah besar. Suatu tindakan apapun yang dilahirkan atas suatu kondisi pada dasarnya adalah sebuah pilihan yang melahirkan keputusan untuk dilakukan. Tidaklah benar ketika seseorang manusia mengatakan ’sama sekali tidak punya pilihan’. Manusia itu makhluk merdeka, mengambil keputusan adalah salah satu wujud kemerdekaan itu sendiri.

Berbicara mengenai ‘hanya ini yang bisa dilakukan’ baik berujung pada penyelesaian masalah atau tidak, tetap saja itu adalah sebuah pilihan. Karena menurut saya ada tiga konsep pilihan saat manusia berada dalam timpaan cobaan yang menggiring pada sebuah keputusan tertentu. Pertama, melakukan sebagaimana kondisi minimum secara terus-menerus tanpa mengupayakan perubahan. Kedua, melakukan sebagaimana kondisi minimum yang disertai dengan tindakan pengupayaan perubahan. Ketiga,  berdiam diri kemudian menyerah dan pasrah, konsep ketiga biasanya akan menggiring  untuk mengambil jalan pintas tertentu yang dianggap sebagai jalan penyelesaian masalah. Ingat, semua itu adalah pilihan, tidak ada kesulitan atau kondisi apapun yang hadir dengan tandus pilihan atau tanpa pilihan. 

Ada beberapa contoh yang hendak saya sajikan untuk sedikit mengulas tiga konsep tersebut. Konsep yang pertama, saya mengambil kisah dari salah satu TKW Hongkong asal Kediri bernama Rosminah (22) yang termuat dalam buku berjudul Surat Berdarah untuk Presiden. Rosminah yang akrab dipanggil Minah perempuan tamatan SD ini hidup serba kekurangan dan penuh kesulitan. Ia memiliki satu orang putra berumur 4 tahun dimana sang suami pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan apapun. Minah berprofesi sebagai pembantu rumah tangga di kawasan Tai Po, Hong Kong. Kondisinya yang serba sulit membuatnya memilih untuk tetap bertahan menjalani profesi tersebut meskipun majikannya kerap memberi pukulan dan hukuman yang tak lazim bahkan memperlakukannya jauh lebih rendah daripada anjing. 

Minah sempat menulis sepucuk surat untuk presiden, namun sayang ia tidak berhasil menyampaikan surat itu. Kepada secarik kertas lusuh, ia menumpahkan segala penderitaan yang ia alami di sana. Minah juga menyampaikan, ia ingin sekali merubah nasib hidupnya dan berhenti menjadi pembantu, namun ia tidak mengerti bagaimana caranya dan mempertanyakan dapatkan bapak Presiden sebagai orang nomor satu di negeri ini bersedia membantu rakyat kecil sepertinya? Minah bertahan, Minah menjalani rutinitas yang sama, tekanan yang sama, pukulan, hukuman, serta hinaan yang berulang-ulang, tanpa perubahan apapun. Minah terbelenggu pada tekanan kondisi yang amat sangat sulit. Sampai pada akhirnya, ia ditemukan tewas diserang dan dimakan anjing majikan.

Dalam kisah tersebut, Minah menjatuhkan pilihan dan memutuskan untuk melakukan tindakan minimum yaitu bertahan pada suatu kondisi yang ada dan terjadi berulang-ulang tanpa melakukan hal lain sebagai bentuk pengupayaan untuk keluar dari lubang kesakitan. Memang dalam konteks ini, Minah keterbatasan pengetahuan, sehingga meskipun ada niatan untuk beralih ke profesi lain, namun ia tidak mengerti bagaimana caranya dan akhirnya tidak berhasil terwujudkan sehingga ia tetap menghabiskan sisa waktu hidupnya pada pertahanan batu yang sama. Selamat jalan Minah, semoga tenang di sisi-Nya. Seperti inilah contoh pengaplikasian konsep pilihan tipe pertama.

Kemudian, mengenai contoh pengaplikasian konsep pilihan tipe kedua akan saya jabarkan dengan sedikit mengutip dua paragraph dari kisah Merry Riana yang terangkum dalam buku mimpi sejuta dollar.

“Betapa nelangsanya jika gambaran akan kehidupanku di masa itu diputar kembali. Tapi kenyataannya, di masa itu aku bisa bertahan karena kekuatan alamiah yang muncul berkat pola pikir yang aku bentuk dengan darurat. Ya, kukatakan darurat karena kondisi di depanku tidak akan memberiku waktu banyak untuk beradaptasi. Aku bisa saja larut dalam kesedihan dan perasaan tidak sanggup yang berkepanjangan, lalu waktuku akan terbuang sia-sia.
Seiring dengan berjalannya waktu, aku melatih diriku untuk bertambah kuat dari hari ke hari. Kebiasaan yang dihayati dengan ikhlas ternyata mampu mengendalikan mental dan fisik untuk melakukan suatu kerjasama yang kooperatif. Itulah yang terjadi. Hikmah ini sangat penting bagiku, ketika kita tidak bisa melakukan apapun kecuali bertahan, maka yang harus digenjot dalam diri kita adalah keikhlasan dan kesabaran yang kuat. Kesanggupan untuk bersabar dan bertahan dalam pikiran yang positif merupakan dasar dari loncatan-loncatan manusia selanjutnya.”
Disini saya ingin menyoroti tentang kalimat “ketika kita tidak bisa melakukan apapun kecuali bertahan”. Konteksnya, saya melihat bahwa Merry Riana menggunakan konsep kedua pada sebuah pilihan. Kondisinya, bukan tanpa pilihan, namun ia memilih untuk bertahan dengan memupuk keikhlasan serta kesabaran sekuat-kuatnya dengan terus mengupayakan untuk mencari jalan menuju perubahan. Konteks bertahan menjadi pilihan yang harus dilakukan pada saat itu sekaligus menjadi batu pijakan untuk loncatan-loncatan perubahan selanjutnya. Kemudian apa yang kita lihat, saat ini Merry berhasil keluar dari lubang kesulitan, lubang yang penuh dengan tempaan hidup, ia keluar sebagai pemenang,  perubahan telah berhasil digenggamnya.

Untuk konsep pilihan tipe tiga, mari kita perhatikan apa yang terjadi pada Agus Maulana (33) yang memilih untuk gantung diri di pohon besar pada 2018 silam. Ayah satu anak ini gemar memainkan judi online habis-habisan bahkan tidak menyisakan sedikitpun  uang untuk biaya pendidikan anaknya. Perlahan ia mulai sadar, namun kesadarannya justru membawa pada tingkat keputusasaan yang tinggi, kesadarannya muncul ketika lilitan hutang tengah menggunung. Ia malu pada anaknya, pada istrinya, dan juga pada keluarga besarnya. Sampai pada akhirnya ia pasrah terhadap keadaan, putus asa , dan merasa tidak ada pilihan lain kecuali mengakhiri hidup yang menurutnya adalah jalan terbaik dan satu-satunya jalan untuk keluar dari bekaman permasalahan. Padahal, setelah ia tiada, masalah baru justru mulai timbul, karena beban pelunasan hutang akan beralih pada pundak keluarganya.

Dalam kisah singkat ini, kita bisa melihat bahwa ada step yang hilang dari pola pikir Agus Maulana. Setelah mulai sadar dengan kesalahannya, dia tidak mencoba terlebih dahulu untuk bangkit dan menghadapi permasalahan pelan-pelan. Dia tidak mencoba untuk mengupayakan dengan bekerja lebih keras agar dapat melunasi hutang-hutangnya. Dia berperan sebagai pemeran dan juga sebagai juri untuk dirinya sendiri, dia mengutuk dirinya untuk sebuah ketidaksanggupan. Padahal, ia belum pernah mencoba untuk mengupayakan atau menyelesaikan masalah dengan cara yang wajar, ia tidak pernah tau sejauh mana dirinya mampu berupaya dan ia menutup rapat jiwa juangnya untuk keluar. Hidupnya bukan tanpa pilihan, namun dia menolak pilihan yang lain dan justru memilih untuk menyerah, pasrah, kemudian lari dari masalah. Melarikan diri dalam konteks ini adalah mengakhiri hidup agar tidak berjumpa kembali pada beban pelunasan hutang.

Kesimpulannya, pada dasarnya dalam kehidupan itu tidak ada satupun kondisi atau permasalahan yang hadir tanpa pilihan untuk mencapai jalan keluar. Semua kondisi sama, karena tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya, semua sama, percayalah. Perbedaan tiap-tiap orang dalam memandang permasalahan yang membawa pada sebuah pilihan dan keputusan hanya terletak pada perbedaan kemauan untuk perubahan, keberanian dalam mengambil resiko, kesediaan dalam pengupayaan, dan tentunya pengetahuan atas pemilihan langkah yang tepat. Semua pasti bisa diatasi, semua pasti ada jalannya. Bahkan, ketika kita masuk pada gang buntu pun, kita masih bisa untuk berputar balik kemudian membelok ke arah yang lain. Sangat dimungkinkan, karena tidak ada jalan buntu yang benar-benar buntu sepanjang mengerti cara berbelok, tidak ada masalah berat yang benar-benar berat sepanjang berani menghadapi dengan upaya yang keras, dan tidak ada permasalahan yang  tertutup jalan keluarnya  kecuali pola pikir kita sendiri. 

Jadi, konsep pilihan mana yang mau kamu ambil?  





Yogyakarta, 01 Mei 2019

0 komentar:

Posting Komentar

Garuda untuk PPWNI-Malaysia

Garuda untuk PPWNI-Malaysia Tepat 399 hari lalu, pertama kali saya menginjakkan kaki di sebuah pemukiman yang mayoritas adalah s...

 
Setapak Arina © 2019