Banner 468 x 60px

 

Cinta Polyphemus Vs Sabari

2 komentar

Cinta Polyphemus Vs Sabari

"Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia, karena cinta membangkitkan semangat yang hukum-hukum kemanusiaan dan gejala-gejala alami pun tak bisa mengubah perjalanannya".
-Khalil Gibran-

Sumber: merdeka.com

Pada dasarnya saya bukan seorang maestro di bidang ini, namun gubahan ini saya rangkai setelah secara tidak sengaja menemukan dua ungkapan bijak pada kasus yang sama namun berbeda sudut pandang. Maksud dan tujuan guratan ini tidak untuk mengunggulkan salah satunya akan tetapi sekedar ingin menjabarkan saja yang mungkin dapat dijadikan salah satu referensi saat menghadapi dilema serupa. Jika saya sedikit melirik dari apa yang telah disampaikan Khalil Gibran pada pembuka tulisan ini, saya memandang bahwa cinta itu adalah sebuah kemerdekaan, cinta pula yang berkontribusi aktif untuk mendorong nyala api hidup manusia yang entah dalam konteks membangun atau justru menghancurkan. Kemudian, ketika sudah ditakdirkan serupa jalannya maka apapun yang hadir disekitar para pecinta tidak akan mampu mengubah atau sekedar mengintervensi eksistensinya. Satu kasus yang menjadi garis besar pada pembahasan ini adalah tentang perjuangan cinta dan cinta yang diperjuangkan. Ada dua perspektif dan dua kisah yang saya angkat mengenai perihal ini. 


Pertama, perspective dari Polyphemus makhluk bangsa Cyclop yang merupakan putra dari dewa laut dalam mitologi Yunani, Poseidon. Edith Hamilton mengisahkan pada bukunya bahwa Polyphemus bertubuh raksasa setinggi tebing dengan mata yang menonjol keluar. Monster satu ini dapat melakukan apa saja yang ia mau, tapi tidak tentang cinta. Dalam perjalanan hidupnya, dia menambatkan hati pada seorang peri laut bernama Galatea. Setiap hari dia selalu menyanyikan lagu-lagu melankolis untuk  melunakkan hati peri cantik tersebut.  Namun pada akhirnya dia sangat pasrah karena tengah membaca adanya ketidakmungkinan untuk mendapatkan seteguk balasan cinta dari Galatea yang kian hari kian mempesona, akan tetapi  justru memiliki hati pada dewa sungai, Acis. Melihat penderitaan ini, Polyphemus membisikkan kalimat kepada hatinya sendiri, “Sapihlah domba-dombamu; untuk apa mengejar sesuatu yang menjauhimu?”.


Ijinkan saya sedikit menjabarkan, maaf aktivitas domba yang masih menyusu akan menjadi aktivitas yang sia-sia jika dikata pada faktanya air susu induk sudah tidak mengalir. Oleh sebab itu, telah tiba waktunya bagi domba untuk menyadari agar segera berhenti meminta asupan dari induk dan harus memisahkan diri untuk mencari asupan secara mandiri. Maka ujung baiknya adalah dilakukan penyapihan. Begitu pula terjadi pada cinta, Polyphemus telah berjuang akan tetapi ia menyadari bahwa perjuangannya akan sia-sia  karena satu dua sebab yang telah nyata ia ketahui di depan mata. Oleh karena itu, berhenti berjuang adalah solusi dari kejamnya takdir kehidupan yang tidak berpihak pada dirinya. Maka selesailah kisah cinta Polyphemus pada ujung hati yang tak terbalaskan dan menyedihkan.


Kedua, perspective dari Sabari, tokoh utama yang memiliki jiwa pejuang tangguh setangguh-tangguhnya terhadap kesakitan yang disebut ‘cinta’ yang di gubah dalam novel karya Adrea Hirata berjudul Ayah. Dalam rentetan kisah panjangnya, Sabari menjatuhkan hati pada putri Markoni bernama Marlena selama 11 tahun, 5 bulan, 4 hari, 3 jam, 4 menit dan sepersekian detik tanpa sedikitpun balasan. Senada dengan namanya, sabari terus menjunjung tinggi  perjuangan dan penantiannya dengan sangat sabar. Lelaki ini selalu menebar senyum bahkan disaat Markoni menegaskan pada dirinya dengan sedikit untaian kalimat garis keras sekeras cadas dengan harapan agar sabari dapat melupakan cintanya. Markoni berkata, “Sabari, hidup ini memang dipenuhi orang-orang yang kita inginkan, tetapi tak menginginkan kita, dan sebaliknya”. Namun tak sedikitpun mampu membelokkan niatan Sabari untuk terus mendidihkan darah juang untuk cintanya. 


Telah banyak sekali pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan Sabari untuk meluluhkan hati Marlena, namun gadis cantik ini tetap tak sudi membalas cintanya. Sebuah ketidakmungkinan untuk mereka saling bersanding benar-benar terlihat sangat jelas. Namun pada suatu ketika Marlena melakukan kesalahan besar yang mengharuskannya untuk segera menikah. Muntablah Markoni sebagai seorang ayah yang merasa tercoreng mukanya oleh anaknya sendiri. Marlena harus segera dinikahkan sebelum bayi dalam kandungnya hadir di dunia. Namun bencana ini justru menjadi berkah bagi Sabari. Disaat ayah biologis sang jabang bayi mendustakan perbuatannya, Sabari hadir bak kesatria menumbalkan dirinya untuk menikahi perempuan yang tercampakkan itu. Pada titik inilah dia membuktikan adanya ungkapan, “Tuhan selalu menghitung, dan suatu ketika, Tuhan akan berhenti menghitung.” Inilah saatnya suatu ketika itu.


Dari kisah Sabari, kita dapat memetik pesan bahwa cinta yang diperjuangkan dengan tulus dan sabar maka akan tiba masanya untuk dipersatukan meskipun dihadapkan dengan kondisi yang kurang berkenan. Suatu ketidakmungkinan yang berbuntut panjang, apabila terus diperjuangkan dan dijalankan maka akan tiba pula pada ujung ketidakmungkinan itu sendiri. Kemudian jalannya akan mengantarkan pada sebuah kemungkinan yang berdiri diseberang ketidakmungkinan tersebut. Disanalah letak implementasi kalimat “suatu ketika Tuhan berhenti menghitung”.


Macam ragam perspective tentang cinta pada dasarnya sangat akrab dalam kehidupan kita. Setiap orang berhak memegang kendali atas perspective masing-masing. Cinta memang sangat merdeka, merdeka untuk memaknai, merdeka untuk mengambil sudut pandang, merdeka untuk berprinsip, dan merdeka pula untuk memilih menyerah atau terus melangkah. Saya pribadi memiliki garis pandang tersendiri dalam menyikapi persoalan klasik ini. Bagi saya, manusia itu tidak berhak secara real untuk memilih kasih yang mana yang akan bersanding dengannya selama penghabisan waktu hayatnya di dunia. Saya sangat percaya atas tiga takdir yang benar-benar tidak bisa dibelokkan dalam hidup: kelahiran, jodoh, dan kematian. Karena tidak ada ceritanya kita bisa memilih untuk lahir dari rahim siapa, meninggal tanggal berapa, dan tentunya pula bersanding dengan siapa.


Rupa ini murni pemaknaan personal dari saya, apabila pembaca kurang sependapat maka sangat diperbolehkan, karena kembali lagi bahwa cinta itu merdeka. Melanjutkan ulasan sebelumnya, perasaan itu turunnya dari Tuhan yang artinya pemberian, murni pemberian. Adakalanya seseorang mencintai tanpa tau kenapa, adapula yang timbul perasaan yang berangkat dari kekaguman atau yang lainnya. Itulah yang disebut pemberian, bahkan untuk mencari tau alasan sayang pun kadang tidak sanggup, pula kekaguman juga sebuah rasa yang diberikan Tuhan yang kemudian mengantarkan pada rasa berikutnya, cinta. Jika perasaan itu bukan pemberian Tuhan, mungkin ceritanya akan seperti ini, saat udin berusia 15 tahun dia menatap langit lalu berkata, “pokoknya 5 tahun yang akan datang aku akan jatuh cinta pada perempuan yang bernama jubaedah mahasiswa kedokteran angkatan 2024 dengan ukuran sepatu 39.” Jika ada yang bisa mempertemukan saya dengan contoh seperti ini, mungkin saya akan bisa percaya bahwa manusia real berhak memilih tanpa campur tangan Tuhan, namun tampaknya tidak ada.


Maka pada kasusnya, apabila seseorang menyatakan bahwa dirinya membangun kebahagiaan rumah tangga dengan orang yang memang dicinta dan dipilih tanpa perjodohan, pada dasarnya juga tangan Tuhan yang menurunkan rasa dan mengarahkan jalannya. Maka tetap, bukan real fisik tangan manusia yang memilih. Juga, apabila memang bukan jodohnya dan kehendak Tuhan bukan disana maka sekeras apapun mempertahankan pasangannya, ujung-ujungnya akan lepas juga. Terbukti banyak diantara kita yang telah bersama hingga bertahun-tahun namun diakhir kisah justru bersanding dengan orang lain. Begitu juga sebaliknya, ada yang bertahun-tahun ditolak, lantas terus diperjuangkan yang kemudian diakhir cerita happy ending dan bersatu. Memang rute masing-masing manusia saat berkelana untuk mencari pendampingnya itu berbeda. Ada pula yang memiliki pola koleksi lalu seleksi, tanpa seleksi namun hanya koleksi, atau tanpa koleksi namun langsung seleksi. Itulah sebuah jalan-jalan yang dipilih sehingga mengantarkan pada pertemuan yang diberikan oleh Tuhan.


Seperti itulah kemerdekaan cinta yang berlaku di Gaia ini, di bumi. Jadi, kamu team yang mana ?




Yogyakarta, 14 April 2019

2 komentar:

Menimouse mengatakan...

Saya tim yg paling tidak mengerti mitodologi yunani inj

Setapak Arina mengatakan...

wkwkw, saya anjurkan agar anda selalu membaca tulisan-tulisan di blog ini karena saya akan sering mengaitkan dengan mitologi yunani :)

Posting Komentar

Garuda untuk PPWNI-Malaysia

Garuda untuk PPWNI-Malaysia Tepat 399 hari lalu, pertama kali saya menginjakkan kaki di sebuah pemukiman yang mayoritas adalah s...

 
Setapak Arina © 2019