Cinta Polyphemus Vs Sabari
"Cinta adalah satu-satunya
kebebasan di dunia, karena cinta membangkitkan semangat yang hukum-hukum
kemanusiaan dan gejala-gejala alami pun tak bisa mengubah perjalanannya".
-Khalil Gibran-
Sumber: merdeka.com
Pada dasarnya saya bukan seorang maestro di bidang ini, namun
gubahan ini saya rangkai setelah secara tidak sengaja menemukan dua ungkapan
bijak pada kasus yang sama namun berbeda sudut pandang. Maksud dan tujuan
guratan ini tidak untuk mengunggulkan salah satunya akan tetapi sekedar ingin
menjabarkan saja yang mungkin dapat dijadikan salah satu referensi saat
menghadapi dilema serupa. Jika saya sedikit melirik dari apa yang telah
disampaikan Khalil Gibran pada pembuka tulisan ini, saya memandang bahwa cinta
itu adalah sebuah kemerdekaan, cinta pula yang berkontribusi aktif untuk
mendorong nyala api hidup manusia yang entah dalam konteks membangun atau
justru menghancurkan. Kemudian, ketika sudah ditakdirkan serupa jalannya maka
apapun yang hadir disekitar para pecinta tidak akan mampu mengubah atau sekedar
mengintervensi eksistensinya. Satu kasus yang menjadi garis besar pada
pembahasan ini adalah tentang perjuangan cinta dan cinta yang diperjuangkan.
Ada dua perspektif dan dua kisah yang saya angkat mengenai perihal ini.
Pertama, perspective dari Polyphemus makhluk bangsa Cyclop yang merupakan putra
dari dewa laut dalam mitologi Yunani, Poseidon. Edith Hamilton mengisahkan pada
bukunya bahwa Polyphemus bertubuh raksasa setinggi tebing dengan mata yang
menonjol keluar. Monster satu ini dapat melakukan apa saja yang ia mau, tapi tidak
tentang cinta. Dalam perjalanan hidupnya, dia menambatkan hati pada seorang
peri laut bernama Galatea. Setiap hari dia selalu menyanyikan lagu-lagu
melankolis untuk melunakkan hati peri
cantik tersebut. Namun pada akhirnya dia
sangat pasrah karena tengah membaca adanya ketidakmungkinan untuk mendapatkan
seteguk balasan cinta dari Galatea yang kian hari kian mempesona, akan tetapi justru memiliki hati pada dewa sungai, Acis.
Melihat penderitaan ini, Polyphemus membisikkan kalimat kepada hatinya sendiri,
“Sapihlah domba-dombamu; untuk apa mengejar sesuatu yang menjauhimu?”.
Ijinkan saya sedikit menjabarkan, maaf aktivitas domba yang
masih menyusu akan menjadi aktivitas yang sia-sia jika dikata pada faktanya air
susu induk sudah tidak mengalir. Oleh sebab itu, telah tiba waktunya bagi domba
untuk menyadari agar segera berhenti meminta asupan dari induk dan harus memisahkan
diri untuk mencari asupan secara mandiri. Maka ujung baiknya adalah dilakukan penyapihan.
Begitu pula terjadi pada cinta, Polyphemus telah berjuang akan tetapi ia menyadari
bahwa perjuangannya akan sia-sia karena
satu dua sebab yang telah nyata ia ketahui di depan mata. Oleh karena itu,
berhenti berjuang adalah solusi dari kejamnya takdir kehidupan yang tidak
berpihak pada dirinya. Maka selesailah kisah cinta Polyphemus pada ujung hati
yang tak terbalaskan dan menyedihkan.
Kedua, perspective dari Sabari, tokoh utama yang memiliki jiwa pejuang tangguh
setangguh-tangguhnya terhadap kesakitan yang disebut ‘cinta’ yang di gubah
dalam novel karya Adrea Hirata berjudul Ayah. Dalam rentetan kisah panjangnya,
Sabari menjatuhkan hati pada putri Markoni bernama Marlena selama 11 tahun, 5
bulan, 4 hari, 3 jam, 4 menit dan sepersekian detik tanpa sedikitpun balasan.
Senada dengan namanya, sabari terus menjunjung tinggi perjuangan dan penantiannya dengan sangat
sabar. Lelaki ini selalu menebar senyum bahkan disaat Markoni menegaskan pada
dirinya dengan sedikit untaian kalimat garis keras sekeras cadas dengan harapan
agar sabari dapat melupakan cintanya. Markoni berkata, “Sabari, hidup ini
memang dipenuhi orang-orang yang kita inginkan, tetapi tak menginginkan kita,
dan sebaliknya”. Namun tak sedikitpun mampu membelokkan niatan Sabari untuk
terus mendidihkan darah juang untuk cintanya.
Telah banyak sekali pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan
Sabari untuk meluluhkan hati Marlena, namun gadis cantik ini tetap tak sudi membalas
cintanya. Sebuah ketidakmungkinan untuk mereka saling bersanding benar-benar
terlihat sangat jelas. Namun pada suatu ketika Marlena melakukan kesalahan
besar yang mengharuskannya untuk segera menikah. Muntablah Markoni sebagai
seorang ayah yang merasa tercoreng mukanya oleh anaknya sendiri. Marlena harus
segera dinikahkan sebelum bayi dalam kandungnya hadir di dunia. Namun bencana ini
justru menjadi berkah bagi Sabari. Disaat ayah biologis sang jabang
bayi mendustakan perbuatannya, Sabari hadir bak kesatria menumbalkan dirinya
untuk menikahi perempuan yang tercampakkan itu. Pada titik inilah dia
membuktikan adanya ungkapan, “Tuhan selalu menghitung, dan suatu ketika,
Tuhan akan berhenti menghitung.” Inilah saatnya suatu ketika itu.
Dari kisah Sabari, kita dapat memetik pesan bahwa cinta yang
diperjuangkan dengan tulus dan sabar maka akan tiba masanya untuk dipersatukan
meskipun dihadapkan dengan kondisi yang kurang berkenan. Suatu ketidakmungkinan
yang berbuntut panjang, apabila terus diperjuangkan dan dijalankan maka akan
tiba pula pada ujung ketidakmungkinan itu sendiri. Kemudian jalannya akan
mengantarkan pada sebuah kemungkinan yang berdiri diseberang ketidakmungkinan
tersebut. Disanalah letak implementasi kalimat “suatu ketika Tuhan berhenti
menghitung”.
Macam ragam perspective tentang cinta pada dasarnya sangat
akrab dalam kehidupan kita. Setiap orang berhak memegang kendali atas
perspective masing-masing. Cinta memang sangat merdeka, merdeka untuk memaknai,
merdeka untuk mengambil sudut pandang, merdeka untuk berprinsip, dan merdeka
pula untuk memilih menyerah atau terus melangkah. Saya pribadi memiliki garis
pandang tersendiri dalam menyikapi persoalan klasik ini. Bagi saya, manusia itu
tidak berhak secara real untuk memilih kasih yang mana yang akan
bersanding dengannya selama penghabisan waktu hayatnya di dunia. Saya sangat
percaya atas tiga takdir yang benar-benar tidak bisa dibelokkan dalam hidup:
kelahiran, jodoh, dan kematian. Karena tidak ada ceritanya kita bisa memilih
untuk lahir dari rahim siapa, meninggal tanggal berapa, dan tentunya pula
bersanding dengan siapa.
Rupa ini murni pemaknaan personal dari saya, apabila pembaca
kurang sependapat maka sangat diperbolehkan, karena kembali lagi bahwa cinta
itu merdeka. Melanjutkan ulasan sebelumnya, perasaan itu turunnya dari Tuhan yang
artinya pemberian, murni pemberian. Adakalanya seseorang mencintai tanpa tau
kenapa, adapula yang timbul perasaan yang berangkat dari kekaguman atau yang
lainnya. Itulah yang disebut pemberian, bahkan untuk mencari tau alasan sayang
pun kadang tidak sanggup, pula kekaguman juga sebuah rasa yang diberikan Tuhan
yang kemudian mengantarkan pada rasa berikutnya, cinta. Jika perasaan itu bukan
pemberian Tuhan, mungkin ceritanya akan seperti ini, saat udin berusia 15 tahun
dia menatap langit lalu berkata, “pokoknya 5 tahun yang akan datang aku akan
jatuh cinta pada perempuan yang bernama jubaedah mahasiswa kedokteran angkatan 2024
dengan ukuran sepatu 39.” Jika ada yang bisa mempertemukan saya dengan
contoh seperti ini, mungkin saya akan bisa percaya bahwa manusia real
berhak memilih tanpa campur tangan Tuhan, namun tampaknya tidak ada.
Maka pada kasusnya, apabila seseorang menyatakan bahwa
dirinya membangun kebahagiaan rumah tangga dengan orang yang memang dicinta dan
dipilih tanpa perjodohan, pada dasarnya juga tangan Tuhan yang menurunkan rasa
dan mengarahkan jalannya. Maka tetap, bukan real fisik tangan manusia
yang memilih. Juga, apabila memang bukan jodohnya dan kehendak Tuhan bukan
disana maka sekeras apapun mempertahankan pasangannya, ujung-ujungnya akan
lepas juga. Terbukti banyak diantara kita yang telah bersama hingga
bertahun-tahun namun diakhir kisah justru bersanding dengan orang lain. Begitu
juga sebaliknya, ada yang bertahun-tahun ditolak, lantas terus diperjuangkan
yang kemudian diakhir cerita happy ending dan bersatu. Memang rute
masing-masing manusia saat berkelana untuk mencari pendampingnya itu berbeda.
Ada pula yang memiliki pola koleksi lalu seleksi, tanpa seleksi namun hanya
koleksi, atau tanpa koleksi namun langsung seleksi. Itulah sebuah jalan-jalan
yang dipilih sehingga mengantarkan pada pertemuan yang diberikan oleh Tuhan.
Seperti itulah kemerdekaan cinta yang berlaku di Gaia ini, di
bumi. Jadi, kamu team yang mana ?
Yogyakarta, 14 April 2019
2 komentar:
Saya tim yg paling tidak mengerti mitodologi yunani inj
wkwkw, saya anjurkan agar anda selalu membaca tulisan-tulisan di blog ini karena saya akan sering mengaitkan dengan mitologi yunani :)
Posting Komentar