Banner 468 x 60px

 

(Coba) Kenali Aku dari Kawanku

4 komentar



Banyak yang bilang, kita bisa menilai seseorang dengan melihat seperti apa teman-teman yang berada disekelilingnya.




                                                         
Before we start our program .. ahh no no !

Sebelum berbincang lebih jauh, mari aku kenalkan dengan kawanku yang satu ini. Sebut saja Mawar #eh bukan bukan, namanya Ulfa – Siti Ulfa Lailatusyaifa. Aku lebih suka memanggil dengan sebutan Upeh, tapi dia marah dan katanya engga menghargai tumpeng ibunya saat momentum pemberian nama waktu kecil. Tapi lidahku kaku, aku ngga bisa, so aku panggil dia cuy, sist, dan sebagainya kalo lagi di depannya, tapi kalo lagi ngga ada dia .. panggilan Upeh tetap yang ku suka. Kami beda jurusan, tapi kami tenggelam di lubang yang sama. Lubang yang menjadi awal kami berproses untuk menjadi lebih baik, lubang pengembangan dan pembelajaran itu bernama Komunitas Pemerhati Konstitusi (KPK). Saat ini, si Upeh tengah hijrah meninggalkan tanah sultan untuk memulai karir yang baru. Oiya, periode depan katanya mau nyaleg, doaku menyertaimu sodaraku … :D :D

***

Kenapa kali ini aku menampilkan foto kemesraan berdua saja dengan si doi ? Disini, aku ingin mencoba menggambarkan diriku melalui kawanku. Boleh aku simpulkan terlebih dahulu bahwa kami memiliki sifat yang cenderung introvert, tetapi kadang kala aku juga merasa bahwa diriku cukup ambivert. Kami berdua saling merasakan bahwa kami memiliki karakter yang nyaris sama. Lebih spesifiknya kesamaan perihal memandang kehidupan, menjalankan kehidupan, dan merencanakan kehidupan. Aku dan dia memiliki target yang sangat berbeda, tetapi pemilihan cara dalam setiap langkah serta cara menyikapi suatu hal nyaris sama. Kami jarang sekali berjumpa, atau mengatur jadwal rutinan untuk berakhir pekan bersama. Tidak .. kami tidak pernah begitu. Perjumpaan akan terlaksana jika ada hal penting maupun agak penting yang perlu kami perbincangkan. Kami berjalan sendiri-sendiri, tapi kami saling mengingatkan dan siap hadir jika dibutuhkan. 


Mari saya jelaskan lebih mendalam,

Pertama, dalam memandang kehidupan, kebetulan kami berdua memiliki secarik kisah masa lalu yang cukup menggurita dalam dada. Kami serupa, kami bukan golongan yang menjadikan masa lalu cukup sebagai kenangan (baik pait maupun manis ditelan tanpa dipikirkan ulang), tapi kami lebih memilih untuk menjadikannya sebagai pembelajaran juga pegangan untuk target kedepan. Aku tau dia orang yang cukup keras, kiranya akupun juga begitu. Akan tetapi, jika muncul pembahasan mengenai hal-hal yang sedikit mengguncang versi kami (tidak jauh dari masa lalu) maka seketika kami lunglai nangis bombai (yaa semacam muka batman tapi hati mas bram "hellokitty maksudnya"). Disini kita saling menguatkan dan mengingatkan untuk selalu fokus pada tujuan, setidaknya untuk  bisa membalas atau memperbaiki kecelakaan sejarah yang pernah terjadi pada kisah yang lalu. #ahh memeloow :)

Kedua, dalam menjalankan kehidupan, si upeh ini bisa dibilang tidak memiliki teman dengan jumlah yang lumayan. Bukan karena keengganan untuk bersosial, akan tetapi dia bukan tipe orang yang suka basa basi. Dia juga tidak suka mengikuti kegiatan-kegiatan yang katanya untuk mempererat tali persaudaraan atau semacam menjalin keakraban seperti agenda Makrab, kumpul angkatan, muncak, dan sebagainya (tapi kalo undangan karaoke dia semangat, katanya sih pengen jadi biduan ;D). Hal yang aku suka, dia lebih memilih membayar iuran tanpa menikmati hidangan dari pada harus merelakan 120-240 menitnya untuk sekedar bercanda ria yang pulang hanya membawa kesenangan. Hal ini juga terjadi padaku, bukan kami ansos garis keras, bukan pula kami menganggap bahwa menjalin keakraban adalah kegiatan unfaedah. Please bukan itu maksud kami. Hanya saja .. orang-orang seperti kami akan merasa sangat gerah jika berlama-lama dalam lingkaran yang esensinya tidak se-profit ketika kita meluangkan waktu sendiri di depan laptop (bahkan sekedar untuk nonton film dengan subtitle). 

Sebagaimana prinsip Writing IELTS task 2, pilihan dan pandangan orang tidak ada yang salah, asalkan dilandaskan atas argument yang kuat dan tidak keluar dari koridornya. Disinipun demikian, pemaknaan setiap orang tidak guna untuk disalahkan selama tidak merugikan orang lain. Manusia-manusia  seperti kami juga tidak pernah menyudutkan temen-temen yang suka bergaul, bergerombol, kesana kemari menggandeng kelompok atau yang lainnya, karena kami paham bahwa setiap orang memiliki posisi ternyaman yang tidak pantas untuk di hujat. Mungkin tulisan ini juga serupa lembar episode curahan hati dari orang macam diriku dan kawanku. Telinga kami cukup panas mendengar komentar yang membubuhkan cap bahwa kami “Anti Sosial, Tidak Solid, bahkan pernah ada yang memperingatkan bahwa Mati Tidak Jalan Sendiri”. Sangat benar, mati memang tidak bisa jalan sendiri, tetapi kalo bisa nanti akan aku wasiatkan untuk diurus oleh orang-orang yang toleran. 

Dalam menjalin pertemanan, aku dan upeh lebih suka menjalin melalui proses, bukan momen. Maksudnya adalah kita lebih suka mempererat pertemanan melalui pengerjaan suatu project bersama, nge-team bareng, atau belajar bidang tertentu dalam suatu ruang dan waktu yang sama. Menurut kami, melalui cara tersebut selain bisa melihat karakter personal, kami juga berkesempatan untuk mengetahui potensi dan pola pikir seseorang. Aku rasa hal ini akan selalu bersarang dalam ingatan, karena pengenalan secara mendalam serta kebersamaan yang tercipta secara alami telah dirasakan. Berbeda jika pertemanan dibangun atas dasar momen. Momen yang kami maksud adalah momen yang tercipta sebagai artificial dan terdominasi dengan sejuta kebahagian saja. Momen yang diciptakan, jarang sekali terselip duka atau sekedar hal-hal rumit yang membutuhkan kerjasama dalam pemecahan. Jadi, berdasarkan opini pribadi, bumbu-bumbu pertemanan kurang berasa, kurang gurih. 

Benang merah pada second point ini adalah kami kurang menyukai kegiatan-kegiatan yang esensinya sebatas kesenangan. Pemaknaan kami, ada hal lain yang patut untuk diprioritaskan diatas pencarian kesenangan yang substansi bahagia selesai bersama berakhirnya acara. Kami tidak menafikkan bahwa mencari kesenangan pun patut diprioritaskan, akan tetapi kami mengaplikasikan serupa Stufenbau Theory mengenai piramida berjenjang. Jadi, diantara prioritas-prioritas yang ada, kami menyusun dengan apik menjadi prioritas berskala tinggi kemudian runtut kebawah. Sehingga, kami tidak akan 100% mengutuk suatu kegitan berjenis kesenangan untuk dilupakan atau diabaikan. Akan ada masanya kami juga melakukan hal serupa, namun tetap ada alasan yang membersamainya misal sebagai wujud reward dari sebuah pencapaian. Tetapi, kembali lagi aku sampaikan bahwa aku tidak pernah menyalahkan orang yang memiliki tipe maupun pilihan lain, karena segala pilihan itu sah asal tetap menjadi diri sendiri, tidak menciderai norma, dan tidak merugikan orang lain.

Ketiga, mengenai perencanaan kehidupan, si Upeh ini orangnya lurus banget, cuek, sikap bodo amat dan keberanian untuk mengambil resiko patut diapresiasi. Kalo dia udah menginginkan sesuatu, planning points yang telah disusun sedemikian rupa  tidak akan mudah digoyahkan meskipun godaan-godaan jahanam berkeliaran di kiri dan kanan. Pada realitanya, dia sudah bekerja di salah satu kantor ******* Yogyakarta, akan tetapi dia memberanikan diri untuk resign dan memilih fokus untuk mempersiapkan satu bidang karir yang telah diidamkan sejak awal.  Meskipun tidak ada jaminan akan diterima pada profesi baru, tetapi dia tetap berani mengambil resiko untuk kehilangan pekerjaannya agar dapat prepare secara maksimal untuk memperjuangkan target tersebut. Disinipun aku teringat oleh petuah kang mas Cassius Marcellus Clay yang berbunyi, "dia yang tidak berani mengambil resiko, maka ia tidak akan mendapat kan apa-apa dalam hidupnya". Dan saat ini, setelah langkah pengambilan keputusan yang berselimut resiko, akhirnya si Upeh  mendapatkkan posisi profesi yang telah lama diincar.


Demikianlah sekelumit kisahku dan kisahnya yang nyaris sama #ceileh
Buat upeh, udah cukup diriku nge-endorse dirimu yaa … semoga calon mertuamu turut membaca ini, 
happy weekend :D



4 komentar:

lenteramalamm.blogspot mengatakan...

Guudlack😘

Unknown mengatakan...

Gua sepiclesss atas fitnah" dunia ini Tuhaaaan 😆😆

Setapak Arina mengatakan...

mokasees sista koniii :)

Setapak Arina mengatakan...

peh, nominal yang sudah kita sepakati segera ditransfer yaa .. aku udah kirim team buat mancing camer mu untuk baca ini :D

Posting Komentar

Garuda untuk PPWNI-Malaysia

Garuda untuk PPWNI-Malaysia Tepat 399 hari lalu, pertama kali saya menginjakkan kaki di sebuah pemukiman yang mayoritas adalah s...

 
Setapak Arina © 2019