Banner 468 x 60px

 

Konsep Pilihan, Landasan Keputusan

0 komentar
Konsep Pilihan, Landasan Keputusan


Sumber: Mujahiddakwah.com


Hidup memang tidak selalu mudah dan tidak selalu pula terlakasana dengan indah.  Kadangkala pada suatu waktu seseorang dapat dihujat dengan ujian yang bertubi-tubi, adapula yang ditekan dengan kondisi sulit yang entah kapan ujungnya akan berhenti. Dalam hidup, manusia juga tumbuh dengan sejuta prasangka. Dalam perjalanannya, prasangka itulah yang kadang kala menggiring pada sikap keterpasrahan atau keputusasaan pada pilihan kemudian dengan mudah  menuduh dunia tidak adil padanya.

Saat manusia dihadapkan pada kondisi sulit dan mencoba untuk tetap bertahan, banyak dari mereka bergumam, “yaa … mau bagaimana lagi, mau tidak mau saya harus melakukan ini, bertahan disini, seperti ini, dan saya tidak punya pilihan.” Kalimat ini sangat akrab sekali terdengar di telinga sebagai keluhan orang-orang disekitar terhadap deraan yang menempa hidupnya, apapun kondisinya. Menurut saya, kalimat yang terlanjur umum ini sejatinya adalah nol, salah besar. Suatu tindakan apapun yang dilahirkan atas suatu kondisi pada dasarnya adalah sebuah pilihan yang melahirkan keputusan untuk dilakukan. Tidaklah benar ketika seseorang manusia mengatakan ’sama sekali tidak punya pilihan’. Manusia itu makhluk merdeka, mengambil keputusan adalah salah satu wujud kemerdekaan itu sendiri.

Berbicara mengenai ‘hanya ini yang bisa dilakukan’ baik berujung pada penyelesaian masalah atau tidak, tetap saja itu adalah sebuah pilihan. Karena menurut saya ada tiga konsep pilihan saat manusia berada dalam timpaan cobaan yang menggiring pada sebuah keputusan tertentu. Pertama, melakukan sebagaimana kondisi minimum secara terus-menerus tanpa mengupayakan perubahan. Kedua, melakukan sebagaimana kondisi minimum yang disertai dengan tindakan pengupayaan perubahan. Ketiga,  berdiam diri kemudian menyerah dan pasrah, konsep ketiga biasanya akan menggiring  untuk mengambil jalan pintas tertentu yang dianggap sebagai jalan penyelesaian masalah. Ingat, semua itu adalah pilihan, tidak ada kesulitan atau kondisi apapun yang hadir dengan tandus pilihan atau tanpa pilihan. 

Ada beberapa contoh yang hendak saya sajikan untuk sedikit mengulas tiga konsep tersebut. Konsep yang pertama, saya mengambil kisah dari salah satu TKW Hongkong asal Kediri bernama Rosminah (22) yang termuat dalam buku berjudul Surat Berdarah untuk Presiden. Rosminah yang akrab dipanggil Minah perempuan tamatan SD ini hidup serba kekurangan dan penuh kesulitan. Ia memiliki satu orang putra berumur 4 tahun dimana sang suami pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan apapun. Minah berprofesi sebagai pembantu rumah tangga di kawasan Tai Po, Hong Kong. Kondisinya yang serba sulit membuatnya memilih untuk tetap bertahan menjalani profesi tersebut meskipun majikannya kerap memberi pukulan dan hukuman yang tak lazim bahkan memperlakukannya jauh lebih rendah daripada anjing. 

Minah sempat menulis sepucuk surat untuk presiden, namun sayang ia tidak berhasil menyampaikan surat itu. Kepada secarik kertas lusuh, ia menumpahkan segala penderitaan yang ia alami di sana. Minah juga menyampaikan, ia ingin sekali merubah nasib hidupnya dan berhenti menjadi pembantu, namun ia tidak mengerti bagaimana caranya dan mempertanyakan dapatkan bapak Presiden sebagai orang nomor satu di negeri ini bersedia membantu rakyat kecil sepertinya? Minah bertahan, Minah menjalani rutinitas yang sama, tekanan yang sama, pukulan, hukuman, serta hinaan yang berulang-ulang, tanpa perubahan apapun. Minah terbelenggu pada tekanan kondisi yang amat sangat sulit. Sampai pada akhirnya, ia ditemukan tewas diserang dan dimakan anjing majikan.

Dalam kisah tersebut, Minah menjatuhkan pilihan dan memutuskan untuk melakukan tindakan minimum yaitu bertahan pada suatu kondisi yang ada dan terjadi berulang-ulang tanpa melakukan hal lain sebagai bentuk pengupayaan untuk keluar dari lubang kesakitan. Memang dalam konteks ini, Minah keterbatasan pengetahuan, sehingga meskipun ada niatan untuk beralih ke profesi lain, namun ia tidak mengerti bagaimana caranya dan akhirnya tidak berhasil terwujudkan sehingga ia tetap menghabiskan sisa waktu hidupnya pada pertahanan batu yang sama. Selamat jalan Minah, semoga tenang di sisi-Nya. Seperti inilah contoh pengaplikasian konsep pilihan tipe pertama.

Kemudian, mengenai contoh pengaplikasian konsep pilihan tipe kedua akan saya jabarkan dengan sedikit mengutip dua paragraph dari kisah Merry Riana yang terangkum dalam buku mimpi sejuta dollar.

“Betapa nelangsanya jika gambaran akan kehidupanku di masa itu diputar kembali. Tapi kenyataannya, di masa itu aku bisa bertahan karena kekuatan alamiah yang muncul berkat pola pikir yang aku bentuk dengan darurat. Ya, kukatakan darurat karena kondisi di depanku tidak akan memberiku waktu banyak untuk beradaptasi. Aku bisa saja larut dalam kesedihan dan perasaan tidak sanggup yang berkepanjangan, lalu waktuku akan terbuang sia-sia.
Seiring dengan berjalannya waktu, aku melatih diriku untuk bertambah kuat dari hari ke hari. Kebiasaan yang dihayati dengan ikhlas ternyata mampu mengendalikan mental dan fisik untuk melakukan suatu kerjasama yang kooperatif. Itulah yang terjadi. Hikmah ini sangat penting bagiku, ketika kita tidak bisa melakukan apapun kecuali bertahan, maka yang harus digenjot dalam diri kita adalah keikhlasan dan kesabaran yang kuat. Kesanggupan untuk bersabar dan bertahan dalam pikiran yang positif merupakan dasar dari loncatan-loncatan manusia selanjutnya.”
Disini saya ingin menyoroti tentang kalimat “ketika kita tidak bisa melakukan apapun kecuali bertahan”. Konteksnya, saya melihat bahwa Merry Riana menggunakan konsep kedua pada sebuah pilihan. Kondisinya, bukan tanpa pilihan, namun ia memilih untuk bertahan dengan memupuk keikhlasan serta kesabaran sekuat-kuatnya dengan terus mengupayakan untuk mencari jalan menuju perubahan. Konteks bertahan menjadi pilihan yang harus dilakukan pada saat itu sekaligus menjadi batu pijakan untuk loncatan-loncatan perubahan selanjutnya. Kemudian apa yang kita lihat, saat ini Merry berhasil keluar dari lubang kesulitan, lubang yang penuh dengan tempaan hidup, ia keluar sebagai pemenang,  perubahan telah berhasil digenggamnya.

Untuk konsep pilihan tipe tiga, mari kita perhatikan apa yang terjadi pada Agus Maulana (33) yang memilih untuk gantung diri di pohon besar pada 2018 silam. Ayah satu anak ini gemar memainkan judi online habis-habisan bahkan tidak menyisakan sedikitpun  uang untuk biaya pendidikan anaknya. Perlahan ia mulai sadar, namun kesadarannya justru membawa pada tingkat keputusasaan yang tinggi, kesadarannya muncul ketika lilitan hutang tengah menggunung. Ia malu pada anaknya, pada istrinya, dan juga pada keluarga besarnya. Sampai pada akhirnya ia pasrah terhadap keadaan, putus asa , dan merasa tidak ada pilihan lain kecuali mengakhiri hidup yang menurutnya adalah jalan terbaik dan satu-satunya jalan untuk keluar dari bekaman permasalahan. Padahal, setelah ia tiada, masalah baru justru mulai timbul, karena beban pelunasan hutang akan beralih pada pundak keluarganya.

Dalam kisah singkat ini, kita bisa melihat bahwa ada step yang hilang dari pola pikir Agus Maulana. Setelah mulai sadar dengan kesalahannya, dia tidak mencoba terlebih dahulu untuk bangkit dan menghadapi permasalahan pelan-pelan. Dia tidak mencoba untuk mengupayakan dengan bekerja lebih keras agar dapat melunasi hutang-hutangnya. Dia berperan sebagai pemeran dan juga sebagai juri untuk dirinya sendiri, dia mengutuk dirinya untuk sebuah ketidaksanggupan. Padahal, ia belum pernah mencoba untuk mengupayakan atau menyelesaikan masalah dengan cara yang wajar, ia tidak pernah tau sejauh mana dirinya mampu berupaya dan ia menutup rapat jiwa juangnya untuk keluar. Hidupnya bukan tanpa pilihan, namun dia menolak pilihan yang lain dan justru memilih untuk menyerah, pasrah, kemudian lari dari masalah. Melarikan diri dalam konteks ini adalah mengakhiri hidup agar tidak berjumpa kembali pada beban pelunasan hutang.

Kesimpulannya, pada dasarnya dalam kehidupan itu tidak ada satupun kondisi atau permasalahan yang hadir tanpa pilihan untuk mencapai jalan keluar. Semua kondisi sama, karena tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya, semua sama, percayalah. Perbedaan tiap-tiap orang dalam memandang permasalahan yang membawa pada sebuah pilihan dan keputusan hanya terletak pada perbedaan kemauan untuk perubahan, keberanian dalam mengambil resiko, kesediaan dalam pengupayaan, dan tentunya pengetahuan atas pemilihan langkah yang tepat. Semua pasti bisa diatasi, semua pasti ada jalannya. Bahkan, ketika kita masuk pada gang buntu pun, kita masih bisa untuk berputar balik kemudian membelok ke arah yang lain. Sangat dimungkinkan, karena tidak ada jalan buntu yang benar-benar buntu sepanjang mengerti cara berbelok, tidak ada masalah berat yang benar-benar berat sepanjang berani menghadapi dengan upaya yang keras, dan tidak ada permasalahan yang  tertutup jalan keluarnya  kecuali pola pikir kita sendiri. 

Jadi, konsep pilihan mana yang mau kamu ambil?  





Yogyakarta, 01 Mei 2019
Read more...

Roda Belakang Tak Menggurui Takdir

2 komentar
Roda Belakang Tak Menggurui Takdir

Sumber: Dakwatuna

Kata orang, memperjuangkan kemustahilan itu bodoh.
Kata orang, mengejar ketidakmungkinan itu sia-sia.
Kata orang ... ah sudahlah, lupakan saja kata kata orang jika memang menjatuhkan.

Pada gubahan kali ini, salah satu senior menyarankan untuk membahas perihal “kenapa roda belakang tidak pernah berhasil mengejar roda depan?” Saya rasa ini cukup unik dan sebenarnya ada banyak sisi yang dapat dibahas atas satu kondisi ini, dimana saling berjalan pada ruang dan waktu yang sama namun tidak pernah jumpa. Sebelumnya, mari kita kupas terlebih dahulu mengapa 2 roda tersebut harus dipasang secara terpisah masing-masing pada bagian depan dan belakang? Mengapa tidak keduanya di depan atau keduanya di belakang saja? Kemudian mari kita dengar juga  sebenarnya untuk apa roda belakang ingin sampai pada roda depan?


Terkadang, bait-bait kehidupan memang diselimuti kabut takdir yang tidak bisa dihindari. Namun ada pula takdir yang pada dasarnya hadir pada awal masa saja yang mana kemudian untuk nasib selanjutnya  dapat diperjuangkan dengan sebuah usaha. Jika diulas, 2 roda yang dipasang terpisah pada masing-masing posisi memang diperuntukan untuk menciptakan keseimbangan pada sebuah kendaraan agar laju jalannya tidak cacat dan tujuan utama untuk mempermudah manusia dalam menempuh perjalanan dapat terwujud. Kita bisa belajar dari mitologi Yunani dimana Niks (dewi malam) yang tidak pernah bisa berjumpa dengan anaknya, Hemera (dewi siang). Ibaratnya, meskipun memiliki ikatan biologis yang sangat dekat, mereka mengikhlaskan untuk tidak dipertemukan meskipun setiap harinya berjalan pada simpang yang sama demi menopang sebuah amanah besar untuk kepentingan umat manusia. Andai kata mereka lebih menjunjung ego dan memaksakan untuk jumpa, maka manusia akan  menderita, akan timbul kehancuran, dan entah akan seperti apa bumi kita ini. Begitu juga dengan 2 roda, apabila tetap mamaksakan kehendaknya, maka akan hilang fungsi utamanya dan akan ada pula yang dirugikan.


Kedua, andai kata ambisi pengejaran roda depan memang untuk sebuah kebaikan ataupun kemajuan tertentu, maka tidak ada yang mustahil untuk diwujudkan. Namun kembali lagi pasti membutuhkan upaya lebih, pihak yang berkorban dan dikorbankan, pundi-pundi yang harus dibayarkan baik dari segi materi maupun non materi, serta menuntut  adanya kesiapan resiko tertentu. Sebagaimana yang disampaikan Kurniawan Sangkur dalam bukunya bahwa tujuan yang besar, tujuan yang tidak biasa, membutuhkan pengorbanan yang besar dan  tidak biasa pula. Perihal point ini mari sejenak kita lepaskan terlebih dahulu fungsi utama roda dalam keseimbangan kendaraan. Mari kita fokuskan pada titik ‘mungkin’ dan ‘tidak mungkin’ atas suatu fakta atau takdir yang sudah ada sebelumnya. Bukan bermaksud menggurui takdir dengan melontarkan kalimat, “seharusnya begini saja” atau “seharusnya tidak seperti itu.” Akan tetapi upaya untuk menuju ‘mungkin’ dan ‘tidak mungkin’ atas suatu perubahan adalah tentang penolakan terhadap keterpasrahan pada suatu keadaan atau kondisi tertentu. Bagi saya kemustahilan itu tidak ada (diluar 3 point yang pernah saya bahas pada tulisan sebelumnya) sepanjang upaya dan do’a benar-benar diteguhkan secara berirama dalam mencapai tujuan maupun perubahan tertentu, sesulit apapun itu.

Jika roda belakang ingin sampai atau berjumpa dengan roda depan, maka bisa saja hal tersebut diupayakan mungkin dengan melepas terlebih dahulu kedua roda tersebut dari kendaraan yang ditopangnya. Setelah dilepas, dengan mudah kedua roda dapat dipertemukan, tujuan selesai, se-simple itu. Namun dibalik terwujudnya tujuan ataupun harapan, muncul resiko yang harus ditanggung dimana kendaraan menjadi cacat, tidak lagi dapat difungsikan, dan mungkin berakhir pada pembuangan body kendaraan. Contoh ekstrim dalam kehidupan nyata, ‘maaf’ di dunia ini sudah bukan menjadi kemustahilan ketika manusia dilahirkan pada gender tertentu namun disaat dewasa justru menolak takdirnya dan mengupayakan perubahannya. Tentu hal ini dengan upaya serta resiko yang besar dimana seseorang tersebut mempertaruhkan reputasinya, menantang nyawanya karena harus menghadapi serangkaian tindakan medis besar, membayar sejumlah nominal yang tidak sedikit, dan tentunya menelan pula resiko sosial seperti pandangan negatif oleh masyarakat sekitar, bahkan pertanggungjawaban pada Tuhannya pun harus siap untuk dihadapi. Terlepas dari ‘boleh’ atau ‘tidak boleh’, ‘legal’ atau ‘tidak legal’ namun yang ingin saya tekankan pada analogi ini adalah perihal ‘tidak ada yang tidak mungkin selagi mau berupaya’.

Namun demikian, sebaiknya manusia harus tetap bijak untuk tidak menggurui takdir semena-mena, untuk mengambil pilihan positif dari sebuah pengoptimalan takdir yang telah diberikan.. Salah satu contoh positif adalah kisah Sekar Alit dalam buku Kenari Kecil dari Kalabahi dan 29 Kisah Inspiratif Anak Indonesia. Disana dikisahkan bahwa takdir mengantarkan Alit untuk lahir ditengah-tengah keluarga yang kondisi  perekonomiannya jauh dari kata cukup. Alit tidak bisa memilih, Alit tidak bisa meminta, Alit menerimanya .. Alit berlapang dada dan tidak pernah menggurui takdir. Namun Alit menolak untuk berdiam diri pada belenggu hukum asal dalam keterbatasan. 

Sedari kecil Alit sudah menekuni bidang seni tari dimana uang hasil menari digunakan untuk turut membiayai pendidikannya sendiri sejak jenjang Sekolah Dasar. Bertahun-tahun kemiskinan terus membelenggu jiwanya dan menghambat jalan pengembangan dirinya. Bahkan pada saat lulus SMK ijazah Alit pernah tertahan karena tidak memiliki biaya untuk menebusnya. Dalam kondisi serba sulit, Alit tidak pernah membiarkan dirinya larut dalam keterpasrahan. Dengan segala usahanya, akhirnya dia bisa melanjutkan hingga jenjang perguruan tinggi. Sampai pada jenjang Strata-1 keteguhan hati Alit terus diuji oleh sang Kuasa, Alit belum juga mendapat kemudahan. Setiap harinya, moda trannsportasi yang di gunakan untuk pulang pergi ke kampus adalah dengan menumpang truk yang lewat dijalan, sungguh cerminan perempuan tangguh. Dengan segala pengupayaan dan kegigihan yang terus ditunjukan, pada akhirnya Alit mulai mendapatkan hasil dari juang secara pelan-pelan. Alit terpilih menjadi salah satu tim inti pada tarian ‘The Voyage’ yang dipentaskan di Singapura. Selain itu, Alit juga akhirnya mendapatkan beasiswa magister oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Lika-liku hidupnya juga pernah dirangkum dalam bentuk poster berjudul ‘Kemiskinan tidak akan menghalangi saya untuk meraih impian saya’ dan pada akhirnya keluar sebagai juara. 

Benang merahnya adalah perubahan maupun  pencapaian itu bukan hanya sebatas angan-angan yang terancam membusuk mengingat hukum asalnya yang telah terpatri pada kondisi tertentu. Tuhan memberikan jalan bagi hamba-Nya yang berusaha, namun seorang hamba yang baik tentu harus bijak memilah terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan dan mengupayakan.  Memilah takdir mana yang patut untuk tetap diterima dan takdir mana yang terbuka keran positifnya untuk diperjuangkan. Pesan saya, jangan pernah menggurui takdir, karena takdir adalah dorongan pertama untuk menuju langkah pengupayaan. Jangan lupa pula untuk menolak jiwa yang berusaha berdamai dengan keterpasrahan apabila perubahan memang sebuah kondisi  perbaikan yang positif. Selain itu tetap perhatikan juga mengenai fungsi takdir dan tujuan dari sebuah langkah yang hendak diambil. Belajarlah melalui roda belakang.
selamat malam :))


Read more...

Cinta Polyphemus Vs Sabari

2 komentar

Cinta Polyphemus Vs Sabari

"Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia, karena cinta membangkitkan semangat yang hukum-hukum kemanusiaan dan gejala-gejala alami pun tak bisa mengubah perjalanannya".
-Khalil Gibran-

Sumber: merdeka.com

Pada dasarnya saya bukan seorang maestro di bidang ini, namun gubahan ini saya rangkai setelah secara tidak sengaja menemukan dua ungkapan bijak pada kasus yang sama namun berbeda sudut pandang. Maksud dan tujuan guratan ini tidak untuk mengunggulkan salah satunya akan tetapi sekedar ingin menjabarkan saja yang mungkin dapat dijadikan salah satu referensi saat menghadapi dilema serupa. Jika saya sedikit melirik dari apa yang telah disampaikan Khalil Gibran pada pembuka tulisan ini, saya memandang bahwa cinta itu adalah sebuah kemerdekaan, cinta pula yang berkontribusi aktif untuk mendorong nyala api hidup manusia yang entah dalam konteks membangun atau justru menghancurkan. Kemudian, ketika sudah ditakdirkan serupa jalannya maka apapun yang hadir disekitar para pecinta tidak akan mampu mengubah atau sekedar mengintervensi eksistensinya. Satu kasus yang menjadi garis besar pada pembahasan ini adalah tentang perjuangan cinta dan cinta yang diperjuangkan. Ada dua perspektif dan dua kisah yang saya angkat mengenai perihal ini. 


Pertama, perspective dari Polyphemus makhluk bangsa Cyclop yang merupakan putra dari dewa laut dalam mitologi Yunani, Poseidon. Edith Hamilton mengisahkan pada bukunya bahwa Polyphemus bertubuh raksasa setinggi tebing dengan mata yang menonjol keluar. Monster satu ini dapat melakukan apa saja yang ia mau, tapi tidak tentang cinta. Dalam perjalanan hidupnya, dia menambatkan hati pada seorang peri laut bernama Galatea. Setiap hari dia selalu menyanyikan lagu-lagu melankolis untuk  melunakkan hati peri cantik tersebut.  Namun pada akhirnya dia sangat pasrah karena tengah membaca adanya ketidakmungkinan untuk mendapatkan seteguk balasan cinta dari Galatea yang kian hari kian mempesona, akan tetapi  justru memiliki hati pada dewa sungai, Acis. Melihat penderitaan ini, Polyphemus membisikkan kalimat kepada hatinya sendiri, “Sapihlah domba-dombamu; untuk apa mengejar sesuatu yang menjauhimu?”.


Ijinkan saya sedikit menjabarkan, maaf aktivitas domba yang masih menyusu akan menjadi aktivitas yang sia-sia jika dikata pada faktanya air susu induk sudah tidak mengalir. Oleh sebab itu, telah tiba waktunya bagi domba untuk menyadari agar segera berhenti meminta asupan dari induk dan harus memisahkan diri untuk mencari asupan secara mandiri. Maka ujung baiknya adalah dilakukan penyapihan. Begitu pula terjadi pada cinta, Polyphemus telah berjuang akan tetapi ia menyadari bahwa perjuangannya akan sia-sia  karena satu dua sebab yang telah nyata ia ketahui di depan mata. Oleh karena itu, berhenti berjuang adalah solusi dari kejamnya takdir kehidupan yang tidak berpihak pada dirinya. Maka selesailah kisah cinta Polyphemus pada ujung hati yang tak terbalaskan dan menyedihkan.


Kedua, perspective dari Sabari, tokoh utama yang memiliki jiwa pejuang tangguh setangguh-tangguhnya terhadap kesakitan yang disebut ‘cinta’ yang di gubah dalam novel karya Adrea Hirata berjudul Ayah. Dalam rentetan kisah panjangnya, Sabari menjatuhkan hati pada putri Markoni bernama Marlena selama 11 tahun, 5 bulan, 4 hari, 3 jam, 4 menit dan sepersekian detik tanpa sedikitpun balasan. Senada dengan namanya, sabari terus menjunjung tinggi  perjuangan dan penantiannya dengan sangat sabar. Lelaki ini selalu menebar senyum bahkan disaat Markoni menegaskan pada dirinya dengan sedikit untaian kalimat garis keras sekeras cadas dengan harapan agar sabari dapat melupakan cintanya. Markoni berkata, “Sabari, hidup ini memang dipenuhi orang-orang yang kita inginkan, tetapi tak menginginkan kita, dan sebaliknya”. Namun tak sedikitpun mampu membelokkan niatan Sabari untuk terus mendidihkan darah juang untuk cintanya. 


Telah banyak sekali pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan Sabari untuk meluluhkan hati Marlena, namun gadis cantik ini tetap tak sudi membalas cintanya. Sebuah ketidakmungkinan untuk mereka saling bersanding benar-benar terlihat sangat jelas. Namun pada suatu ketika Marlena melakukan kesalahan besar yang mengharuskannya untuk segera menikah. Muntablah Markoni sebagai seorang ayah yang merasa tercoreng mukanya oleh anaknya sendiri. Marlena harus segera dinikahkan sebelum bayi dalam kandungnya hadir di dunia. Namun bencana ini justru menjadi berkah bagi Sabari. Disaat ayah biologis sang jabang bayi mendustakan perbuatannya, Sabari hadir bak kesatria menumbalkan dirinya untuk menikahi perempuan yang tercampakkan itu. Pada titik inilah dia membuktikan adanya ungkapan, “Tuhan selalu menghitung, dan suatu ketika, Tuhan akan berhenti menghitung.” Inilah saatnya suatu ketika itu.


Dari kisah Sabari, kita dapat memetik pesan bahwa cinta yang diperjuangkan dengan tulus dan sabar maka akan tiba masanya untuk dipersatukan meskipun dihadapkan dengan kondisi yang kurang berkenan. Suatu ketidakmungkinan yang berbuntut panjang, apabila terus diperjuangkan dan dijalankan maka akan tiba pula pada ujung ketidakmungkinan itu sendiri. Kemudian jalannya akan mengantarkan pada sebuah kemungkinan yang berdiri diseberang ketidakmungkinan tersebut. Disanalah letak implementasi kalimat “suatu ketika Tuhan berhenti menghitung”.


Macam ragam perspective tentang cinta pada dasarnya sangat akrab dalam kehidupan kita. Setiap orang berhak memegang kendali atas perspective masing-masing. Cinta memang sangat merdeka, merdeka untuk memaknai, merdeka untuk mengambil sudut pandang, merdeka untuk berprinsip, dan merdeka pula untuk memilih menyerah atau terus melangkah. Saya pribadi memiliki garis pandang tersendiri dalam menyikapi persoalan klasik ini. Bagi saya, manusia itu tidak berhak secara real untuk memilih kasih yang mana yang akan bersanding dengannya selama penghabisan waktu hayatnya di dunia. Saya sangat percaya atas tiga takdir yang benar-benar tidak bisa dibelokkan dalam hidup: kelahiran, jodoh, dan kematian. Karena tidak ada ceritanya kita bisa memilih untuk lahir dari rahim siapa, meninggal tanggal berapa, dan tentunya pula bersanding dengan siapa.


Rupa ini murni pemaknaan personal dari saya, apabila pembaca kurang sependapat maka sangat diperbolehkan, karena kembali lagi bahwa cinta itu merdeka. Melanjutkan ulasan sebelumnya, perasaan itu turunnya dari Tuhan yang artinya pemberian, murni pemberian. Adakalanya seseorang mencintai tanpa tau kenapa, adapula yang timbul perasaan yang berangkat dari kekaguman atau yang lainnya. Itulah yang disebut pemberian, bahkan untuk mencari tau alasan sayang pun kadang tidak sanggup, pula kekaguman juga sebuah rasa yang diberikan Tuhan yang kemudian mengantarkan pada rasa berikutnya, cinta. Jika perasaan itu bukan pemberian Tuhan, mungkin ceritanya akan seperti ini, saat udin berusia 15 tahun dia menatap langit lalu berkata, “pokoknya 5 tahun yang akan datang aku akan jatuh cinta pada perempuan yang bernama jubaedah mahasiswa kedokteran angkatan 2024 dengan ukuran sepatu 39.” Jika ada yang bisa mempertemukan saya dengan contoh seperti ini, mungkin saya akan bisa percaya bahwa manusia real berhak memilih tanpa campur tangan Tuhan, namun tampaknya tidak ada.


Maka pada kasusnya, apabila seseorang menyatakan bahwa dirinya membangun kebahagiaan rumah tangga dengan orang yang memang dicinta dan dipilih tanpa perjodohan, pada dasarnya juga tangan Tuhan yang menurunkan rasa dan mengarahkan jalannya. Maka tetap, bukan real fisik tangan manusia yang memilih. Juga, apabila memang bukan jodohnya dan kehendak Tuhan bukan disana maka sekeras apapun mempertahankan pasangannya, ujung-ujungnya akan lepas juga. Terbukti banyak diantara kita yang telah bersama hingga bertahun-tahun namun diakhir kisah justru bersanding dengan orang lain. Begitu juga sebaliknya, ada yang bertahun-tahun ditolak, lantas terus diperjuangkan yang kemudian diakhir cerita happy ending dan bersatu. Memang rute masing-masing manusia saat berkelana untuk mencari pendampingnya itu berbeda. Ada pula yang memiliki pola koleksi lalu seleksi, tanpa seleksi namun hanya koleksi, atau tanpa koleksi namun langsung seleksi. Itulah sebuah jalan-jalan yang dipilih sehingga mengantarkan pada pertemuan yang diberikan oleh Tuhan.


Seperti itulah kemerdekaan cinta yang berlaku di Gaia ini, di bumi. Jadi, kamu team yang mana ?




Yogyakarta, 14 April 2019

Read more...

Garuda untuk PPWNI-Malaysia

Garuda untuk PPWNI-Malaysia Tepat 399 hari lalu, pertama kali saya menginjakkan kaki di sebuah pemukiman yang mayoritas adalah s...

 
Setapak Arina © 2019