Banyak yang bilang, kita bisa menilai seseorang dengan
melihat seperti apa teman-teman yang berada disekelilingnya.
Before we start our program .. ahh no no !
Sebelum berbincang lebih jauh, mari aku kenalkan dengan
kawanku yang satu ini. Sebut saja Mawar #eh bukan bukan, namanya Ulfa – Siti
Ulfa Lailatusyaifa. Aku lebih suka memanggil dengan sebutan Upeh, tapi dia
marah dan katanya engga menghargai tumpeng ibunya saat momentum pemberian nama
waktu kecil. Tapi lidahku kaku, aku ngga bisa, so aku panggil dia cuy, sist,
dan sebagainya kalo lagi di depannya, tapi kalo lagi ngga ada dia .. panggilan Upeh tetap yang ku suka. Kami beda jurusan, tapi kami tenggelam di lubang yang
sama. Lubang yang menjadi awal kami berproses untuk menjadi lebih baik, lubang
pengembangan dan pembelajaran itu bernama Komunitas Pemerhati Konstitusi (KPK).
Saat ini, si Upeh tengah hijrah meninggalkan tanah sultan untuk memulai karir
yang baru. Oiya, periode depan katanya mau nyaleg, doaku menyertaimu sodaraku …
:D :D
***
Kenapa kali ini aku menampilkan foto kemesraan berdua saja
dengan si doi ? Disini, aku ingin mencoba menggambarkan diriku melalui kawanku.
Boleh aku simpulkan terlebih dahulu bahwa kami memiliki sifat yang cenderung introvert,
tetapi kadang kala aku juga merasa bahwa diriku cukup ambivert. Kami
berdua saling merasakan bahwa kami memiliki karakter yang nyaris sama. Lebih
spesifiknya kesamaan perihal memandang kehidupan, menjalankan kehidupan, dan
merencanakan kehidupan. Aku dan dia memiliki target yang sangat berbeda, tetapi
pemilihan cara dalam setiap langkah serta cara menyikapi suatu hal nyaris sama.
Kami jarang sekali berjumpa, atau mengatur jadwal rutinan untuk berakhir pekan
bersama. Tidak .. kami tidak pernah begitu. Perjumpaan akan terlaksana jika ada
hal penting maupun agak penting yang perlu kami perbincangkan. Kami berjalan
sendiri-sendiri, tapi kami saling mengingatkan dan siap hadir jika dibutuhkan.
Mari saya jelaskan lebih mendalam,
Pertama, dalam memandang kehidupan, kebetulan kami
berdua memiliki secarik kisah masa lalu yang cukup menggurita dalam dada. Kami
serupa, kami bukan golongan yang menjadikan masa lalu cukup sebagai kenangan (baik pait maupun manis ditelan tanpa dipikirkan ulang),
tapi kami lebih memilih untuk menjadikannya sebagai pembelajaran juga pegangan
untuk target kedepan. Aku tau dia orang yang cukup keras, kiranya akupun juga
begitu. Akan tetapi, jika muncul pembahasan mengenai hal-hal yang sedikit
mengguncang versi kami (tidak jauh dari masa lalu) maka seketika kami lunglai
nangis bombai (yaa semacam muka batman tapi hati mas bram "hellokitty maksudnya"). Disini kita saling
menguatkan dan mengingatkan untuk selalu fokus pada tujuan, setidaknya untuk bisa membalas atau memperbaiki kecelakaan
sejarah yang pernah terjadi pada kisah yang lalu. #ahh memeloow :)
Kedua, dalam menjalankan kehidupan, si upeh ini bisa dibilang
tidak memiliki teman dengan jumlah yang lumayan. Bukan karena keengganan untuk
bersosial, akan tetapi dia bukan tipe orang yang suka basa
basi. Dia juga tidak suka mengikuti kegiatan-kegiatan yang katanya untuk
mempererat tali persaudaraan atau semacam menjalin keakraban seperti agenda
Makrab, kumpul angkatan, muncak, dan sebagainya (tapi kalo undangan karaoke dia
semangat, katanya sih pengen jadi biduan ;D). Hal yang aku suka, dia lebih
memilih membayar iuran tanpa menikmati hidangan dari pada harus merelakan 120-240 menitnya untuk sekedar bercanda ria yang pulang hanya membawa kesenangan.
Hal ini juga terjadi padaku, bukan kami ansos garis keras, bukan pula kami menganggap bahwa menjalin keakraban adalah kegiatan unfaedah. Please bukan itu maksud
kami. Hanya saja .. orang-orang seperti kami akan merasa sangat gerah jika berlama-lama dalam
lingkaran yang esensinya tidak se-profit ketika kita meluangkan waktu
sendiri di depan laptop (bahkan sekedar untuk nonton film dengan subtitle).
Sebagaimana prinsip Writing IELTS task 2, pilihan dan
pandangan orang tidak ada yang salah, asalkan dilandaskan atas argument yang
kuat dan tidak keluar dari koridornya. Disinipun demikian, pemaknaan setiap
orang tidak guna untuk disalahkan selama tidak merugikan orang lain. Manusia-manusia
seperti kami juga tidak pernah menyudutkan
temen-temen yang suka bergaul, bergerombol, kesana kemari menggandeng kelompok
atau yang lainnya, karena kami paham bahwa setiap orang memiliki posisi
ternyaman yang tidak pantas untuk di hujat. Mungkin tulisan ini juga serupa
lembar episode curahan hati dari orang macam diriku dan kawanku. Telinga kami
cukup panas mendengar komentar yang membubuhkan cap bahwa kami “Anti Sosial,
Tidak Solid, bahkan pernah ada yang memperingatkan bahwa Mati Tidak Jalan
Sendiri”. Sangat benar, mati memang tidak bisa jalan sendiri, tetapi kalo bisa
nanti akan aku wasiatkan untuk diurus oleh orang-orang yang toleran.
Dalam menjalin pertemanan, aku dan upeh lebih suka menjalin
melalui proses, bukan momen. Maksudnya adalah kita lebih suka mempererat
pertemanan melalui pengerjaan suatu project bersama, nge-team
bareng, atau belajar bidang tertentu dalam suatu ruang dan waktu yang sama. Menurut
kami, melalui cara tersebut selain bisa melihat karakter personal, kami juga berkesempatan
untuk mengetahui potensi dan pola pikir seseorang. Aku rasa hal ini akan
selalu bersarang dalam ingatan, karena pengenalan secara mendalam serta kebersamaan
yang tercipta secara alami telah dirasakan. Berbeda jika pertemanan dibangun
atas dasar momen. Momen yang kami maksud adalah momen yang tercipta sebagai artificial dan terdominasi dengan sejuta kebahagian saja. Momen
yang diciptakan, jarang sekali terselip duka atau sekedar hal-hal rumit yang
membutuhkan kerjasama dalam pemecahan. Jadi, berdasarkan opini pribadi,
bumbu-bumbu pertemanan kurang berasa, kurang gurih.
Benang merah pada second point ini adalah kami kurang
menyukai kegiatan-kegiatan yang esensinya sebatas kesenangan. Pemaknaan kami,
ada hal lain yang patut untuk diprioritaskan diatas pencarian kesenangan yang substansi bahagia selesai bersama berakhirnya acara. Kami tidak menafikkan bahwa mencari
kesenangan pun patut diprioritaskan, akan tetapi kami mengaplikasikan serupa Stufenbau Theory mengenai piramida berjenjang. Jadi, diantara prioritas-prioritas
yang ada, kami menyusun dengan apik menjadi prioritas berskala tinggi
kemudian runtut kebawah. Sehingga, kami tidak akan 100% mengutuk suatu kegitan berjenis kesenangan untuk dilupakan atau diabaikan. Akan ada masanya kami juga
melakukan hal serupa, namun tetap ada alasan yang membersamainya misal
sebagai wujud reward dari sebuah pencapaian. Tetapi, kembali lagi aku sampaikan
bahwa aku tidak pernah menyalahkan orang yang memiliki tipe maupun pilihan lain,
karena segala pilihan itu sah asal tetap menjadi diri sendiri, tidak menciderai
norma, dan tidak merugikan orang lain.
Ketiga, mengenai perencanaan kehidupan, si Upeh ini
orangnya lurus banget, cuek, sikap bodo amat dan keberanian untuk mengambil
resiko patut diapresiasi. Kalo dia udah menginginkan sesuatu, planning
points yang telah disusun sedemikian rupa tidak akan mudah digoyahkan meskipun
godaan-godaan jahanam berkeliaran di kiri dan kanan. Pada realitanya, dia sudah
bekerja di salah satu kantor ******* Yogyakarta, akan tetapi dia memberanikan
diri untuk resign dan memilih fokus untuk mempersiapkan satu bidang
karir yang telah diidamkan sejak awal.
Meskipun tidak ada jaminan akan diterima pada profesi baru, tetapi dia tetap berani
mengambil resiko untuk kehilangan pekerjaannya agar dapat prepare
secara maksimal untuk memperjuangkan target tersebut. Disinipun aku teringat oleh petuah kang mas Cassius Marcellus Clay yang berbunyi, "dia yang tidak berani mengambil resiko, maka ia tidak akan mendapat kan apa-apa dalam hidupnya". Dan saat ini, setelah langkah pengambilan keputusan yang berselimut resiko, akhirnya si Upeh mendapatkkan posisi profesi yang telah lama diincar.
Demikianlah sekelumit kisahku dan kisahnya yang nyaris sama
#ceileh
Buat upeh, udah cukup diriku nge-endorse dirimu yaa … semoga
calon mertuamu turut membaca ini,
happy weekend :D




