Bijak dalam Bersosial Media
Sumber: Pil Tei
Versi bijak
yang mana ?
Malam itu
kami berkelakar bersahut-sahutan via voice note WhatsApp, antara saya
dengan seorang kawan yang tidak akan saya katakan bahwa namanya Askoning (tidak
saya katakan, sungguh). Ceritanya kami sedang bertukar pikiran, saling aju
pendapat, tetapi berkali-kali ditegaskan bahwa kita tidak akan saling mendebat
satu sama lain. Mari sejenak kita melihat aturan nasional tepatnya pada Pasal 1
yang mengatakan bahwa perempuan selalu benar, maka laki-laki harus selalu
mengalah. Pasal 2 apabila perempuan salah, maka akan kembali pada Pasal 1. Permasalahannya adalah diriku dan dirinya
sama-sama seorang kartini, maka yang terjadi sampai 3 hari kita terus saling
membalas pesan suara dengan tema yang sama lengkap dengan argumen-argumen yang terus
diperkuat. Yaa, semacam debat kusir tanpa berkiblat pada British
Parliamentary maupun Asian Parliamentary System. Namanya juga perempuan, ga mau ngalah :)
***
Jadi begini,
disaat masyarakat Dwipantara sedang
meributkan pilpres 2019, saya dan kawan yang sengaja tidak saya sebut namanya
itu (tidak kan), justru mempermasalahkan perihal versi bijak yang paling tepat
dalam penggunaan sosial media (sosmed) yang sejatinya sama sekali bukan mosi
terkini. Sebagai golongan generasi Z, lumrah adanya ketika kita menjalin
hubungan baik dengan tekhnologi beserta anteknya yaitu sosial media. Sosmed
yang berperan sebagai penyambung lidah dari pemilik akun untuk berkomunikasi
dengan orang lain atau sekedar sebagai wadah untuk mencurahkan suatu hal
melalui sesuatu yang mereka unggah. Cara pengelolaan dan pemakaiannya pun pada
dasarnya tiap orang memiliki style masing-masing, lengkap dengan
motivasi dibaliknya. Tidak jarang juga, para sosok terhormat non-pemilik akun
yang akrab disebut dengan “Netizen” menaruh pemahaman yang berbeda dari maksud
pemilik akun atas sebuah unggahan. Dalam guratan kali ini, akan sedikit saya
paparkan 2 versi bijak dalam penggunaan sosmed berdasarkan sudut pandang yang berbeda.
Pertama, menurut penganut golongan pembawa
perasaan yang diusung oleh paslon no – xx. Sorry, maksud saya yang
diusung oleh kawan saya. Doi memang mempunyai sisi yang mencerminkan perempuan
utuh yang seutuh-utuhnya. Eh gimana ya,
agak sulit untuk membahasakan, namun pada intinya ada sisi dalam dirinya
yang selalu mengedepankan perasaan. Semacam ada kegelisahan apabila dia melakukan
sesuatu hal yang menurutnya ber-impact pada orang lain, sekecil apapun
itu. Kaitanya dengan sosmed, dia memaparkan bahwa dalam ilmu psikologi
adakalanya seseorang merasa sakit hati kepada apa yang terlihat pada orang lain, termasuk postingan (sekali lagi,
pada postingan orang, bukan orang yang memposting). Adakalanya seseorang kurang
bahagia dengan pencapaian orang lain atau ada pula yang semakin down
karena dirinya tidak sebanding dengan orang
yang dilihat dalam postingan tersebut. Disini,
dia juga mengadopsi sebuah kaidah fiqh yang berbunyi :
درأ المفاسد مقدم على جلب المصالح
Artinya: “menolak mudharat (bahaya) lebih didahulukan dari mengambil manfaat”
Note:
Sedikit mengenang, kaidah ini menjadi salah satu kaidah
andalan saat closing statement yang dibawakan oleh para pembicara satu seperti kami, undang Siti
Ulfa Lailatusyaifa, Amraini Ma’ruf, dan Aisyah Chairil (semoga kalian baca,
agar bisa sedikit bernostalgia).
Baik, kembali pada kawanku. Berpedoman pada dua landasan yang
telah dipaparkan sebelumnya, maka dia
mengatakan bahwa post momen bahagia seperti travelling atau journey
kebahagiaan lain jauh lebih bijak karena tidak menimbulkan kesakitan pada hati orang
lain, berapapun prosentasenya. Jika konteksnya hendak memotivasi orang lain,
maka langsung saja post pencapaian terbesar karena dari sana pun sudah merepresentatifkan
proses yang besar pula. Meski saya pribadi tidak/belum menyepakati untuk
mengaplikasikannya, akan tetapi menurut saya pandangan ini sangat luar biasa
karena diwujudkan sebagai upaya preventif yang diniatkan untuk menjaga perasaan orang lain. Jauh dari kata sombong dan
tidak banyak orang yang terfikirkan atas hal ini jauh melebihi jarak
mata memandang.
Kedua, menurut penganut paham anti baper-baper club. Maksud saya, golongan
orang yang lebih mengedepankan besar kebermanfaatan dari pada sekelumit
cemoohan. Kurang aple to aple memang, tapi realitanya kami memang menggunakan
sudut pandang yang berbeda. Dari lubuk hati yang terdalam saya sangat-sangat-sangat-sangat
menyukai postingan yang berbau prestasi, keikutsertaan program-program
intelektual, maupun kegiatan-kegiatan lain yang menunjukkan keaktifan juga
kontribusi seseorang, bahkan postingan mengenai sebuah prosespun sangat menarik
untuk saya simak, apapun kategorinya dan seberapapun ukurannya. Dalam hal ini, sedikitpun
tidak pernah terbesit difikiran saya untuk mendefinisikan hal tersebut sebagai
bentuk kesombongan seseorang. Bahkan menurut saya, postingan yang demikian
adalah salah satu suplemen motivasi yang benar-benar di butuhkan untuk merawat
mimpi agar tidak pupus pula tidak mati. Agar lelah perjalanan dan penantian tidak
terus-menerus merongrong dalam dada dan tidak pula merasa menjadi satu-satunya orang yang terdzolimi
oleh semesta atas kesulitan yang tak kunjung berkesudahan. Dengan melihat
proses perjuangan orang lain melalui postingan, saya merasa bahwa episode
tersulit tidak hanya dialami oleh satu atau dua insan saja, melainkan semua
pihak yang bermimpi tinggi, tentu dengan versi yang berbeda.
Oleh sebab itu, saya mencoba pula memposisikan pemaknaan ini pada
pemaknaan orang lain. Maksudnya adalah ketika saya merasa sangat termotivasi
dengan postingan seseorang, maka orang lain pun berpotensi besar untuk merasakan
hal serupa meskipun tidak seluruhnya. Agaknya hal ini bukan bualan kosong
semata, karena berdasarkan sensor kasat mata, sering kali saya menjumpai
komentar-komentar positif dari teman-teman sejawat dunia maya ketika menjumpai seseorang post mengenai
beberapa kategori yang telah saya
sebutkan sebelumnya. Bahkan tidak sedikit pula yang menjadikannya role model
agar langkah kakinya semakin terarah.
***
Bagaimana dengan perasaan (rasa sakit) orang lain ?
Pada bagian ini, mari kita sepakati sebagai sifat iri hati. Sebelumnya,
ingin aku sampaikan satu bait magic sentence yang sering berputar-putar
dalam kepalaku, “Tuhan selalu berhitung, namun kadang kala Tuhan berhenti
berhitung.” Kalimat ini saya temukan disalah satu novel karya Andrea Hirata
berjudul “Ayah”. Pemaknaan dalam novel tersebut digambarkan bahwa Sabari sangat
mencintai Marlena, namun Marlena sangat membenci Sabari. Bertahun-tahun Sabari
merawat cintanya, tidak pernah terhapus, tidak pernah pula berhenti berupaya dan
berdoa. Marlena pun demikian, bertahun-tahun merawat rasa bencinya pada Sabari,
bertahun-tahun pula menolak kehadiran Sabari, sehingga ketidakmungkinan mereka
untuk bersatu pun menjadi sebuah kelaziman. Namun suatu ketika, dengan sebuah kondisi yang tidak terduga,
Sabari resmi menjadi suami Marlena. Inilah yang disebut dengan “Tuhan selalu
berhitung, namun kadang kala Tuhan berhenti berhitung.” Berbicara tentang berhitung
dan berhenti berhitung, jangan pernah di artikan bahwa Tuhan capek menghitung. Tolong
jangan ditelan mentah-mentah yaa ..
Disini, saya mendefinisikannya sebagai suatu ketidaklaziman
yang terjadi berdasarkan kondisi tertentu, terpenuhinya kondisi tertentu, atau
dipertemukan dengan kondisi tertentu. Mari kita telaah pelan-pelan dengan
menggunakan beberapa analogi. Pertama, lazimnya matahari terbit dari
timur, akan tetapi jika hari akhir (kiamat) tiba maka matahari akan terbit dari
barat, inilah yang saya sebut “berdasarkan kondisi tertentu”. Kedua,
dalam dunia grammar lazimnya verb itu tidak boleh ada di depan,
akan tetapi jika dia diubah menjadi gerund dengan penambahan “ing”
maka kelas katanya akan berubah menjadi noun dan sangat lazim untuk di tempatkan di depan
sebagai subjek, inilah yang saya sebut “dipertemukan dengan kondisi tertentu”. Ketiga,
mengenai iri hati yang lazimnya mencerminkan sifat yang buruk, akan tetapi iri
hati akan menjadi sifat positif jika tidak disertai dengan dengki dan
kehadirannya untuk memotivasi diri. Saya biasa menyapanya sebagai “iri hati
tanpa dengki, iri hati yang membangun”, inilah yang disebut “terpenuhinya
kondisi tertentu”.
Oleh sebab itu, berdasarkan opini pribadi, sifat iri hati (tanpa
dengki) sangat baik untuk diterapkan
apabila melihat postingan orang. Lantas kemudian akan timbul dalam benak kita
semacam, “kenapa sih dia bisa aku enggak ? Kenapa dia udah dapat tapi aku belum
? Kok dia bisa, sedangkan aku ? OKE, AKU HARUS BERUSAHA LEBIH KERAS, AKU PASTI BISA !”. Ada
juga dua sifat yang lazimnya buruk akan tetapi jika diaplikasikan secara bijak
maka akan menjadi sifat yang baik. Pertama, sifat malu, menurut saya
seseorang sangat patut untuk menanamkan jiwa malu dalam dirinya, asalkan
malu yang membangun. Misalnya, dia menanamkan rasa malu ketika berkumpul dengan
orang-orang cerdas karena takut tidak mampu mengimbangi. Maka akan timbul motivasi kuat untuk terus belajar agar dapat
sejajar dengan orang-orang tersebut dan mampu memberangus rasa malu saat bersama
mereka. Kedua, sifat mudah mengeluh, sifat ini juga sangat patut untuk
ditanamkan dalam diri asal dengan satu catatan, “mengeluh boleh, menyerah
jangan”. Korelasinya begini, apabila kita mengeluh, kita akan mengutarakan segala yang
ada mengenai upaya yang telah dikerahkan dan aspek-aspek yang telah dikorbankan.
Maka, secara tidak langsung kita sudah menyampaikan dan mengingatkan kembali pada diri sendiri bahwa
sudah banyak sekali yang kita lakukan untuk mencapai tujuan, sehingga sangat
disayangkan apabila memutuskan untuk menyerah dan menutup buku.
Baiklah, sekian yang bisa saya paparkan. Sejatinya, 2
pendapat tersebut tidak ada yang salah, hanya saja sedikit berbeda. Namun
tujuannya tetap satu, “Yang Terbaik”.
Silahkan untuk memilih versi bijak masing-masing dan jangan lupa juga untuk
memilih presiden dengan pertimbangan dan sudut pandang yang bijak pada 17 April 2019 mendatang.
Pesan Jusmadi, tulis aja dulu .. kalau ada yang baca, itu bonus. Terimakasih bagi yang sudah mampir dan membaca, terimakasih atas bonusnya.
Selamat istirahat :)
Yogyakarta, 25 Maret 2019




